Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
243 Di Kebun Ubi


__ADS_3

"Aaaa, Daddy, Daddy!"


Sachi berteriak kencang. Bukan teriakan karena biasanya, tapi teriakan ketakutan. Arby dan yang lain langsung berlari ke tempat Sachi.


"Aaa, Sachi!" teriak Freya.


Merasa melihat ada ular di dekat Sachi. Jan langsung mengalihkan perhatian ular itu, karena dia yang lebih dulu tiba dan posisinya yang paling dekat. Sedangkan Jon menggendong Sachi, membawanya ke tempat kedua orang tuanya.


Freya langsung memeriksa tubuh Sachi, takut ular itu sudah melukai Sachi.


"Kenapa bisa ada ular di sini!" teriak Arby.


Bahkan bukan hanya satu, tapi banyak. Meskipun ini kebun, dan begitu banyak tanamannya, tapi Arby selalu mengingatkan pekerja untuk membersihkan kebun-kebun itu, bahkan setiap hari agar tidak ada hewan melata.


Para perempuan saling mendekat. Merapatkan tubuh. Bodyguard menangkap ular-ular itu.


"Bersihkan sekarang juga! Periksa semua sisi vila dan restoran, juga arena bermain."


"Apa kita akan kembali ke Jakarta?" tanya Nania.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang bisa mencegah liburan kita. Jelas-jelas ini perbuatan orang yang tidak suka."


Para pria tentu saja sangat tahu, mana yang karena faktor alam, mana yang karena kesengajaan. Mereka ke sini bukan dua tiga kali.


Mico menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki masalah ini. Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga mereka, maka urusannya dengan dia.


"Jangan takut, ular-ular itu sudah ditangkap."


Untung saja para bodyguard itu, punya banyak keahlian. Ya, tentu saja. Para bodyguard yang direkrut, bukan hanya pintar berkelahi dengan tangan kosong, pisau atau senjata lainnya, tapi juga harus bisa mengatasi hewan berbahaya, karena mereka tidak pernah tahu, bahaya akan datang dalam rupa seperti apa.


"Sachi tahu, darimana ular itu muncul?"


"Dari kebun ubi. Lali dali sana. Sachi tadi mau ke sana."


"Orang itu benar-benar cari mati!" ucap Arby geram.


Bagaimana kalau nanti ada anak-anaknya atau keponakan-keponakannya yang dipatok ular? Atau siapa pun itu.


"Mungkin ini saingan bisnis," ucap Mico.

__ADS_1


Memang dari tempat-tempat di sekitar sini, tempat milik Freya inilah yang paling luas dan ramai. Bahkan Arby juga sudah membeli beberapa hektar kebun teh untuk Aileen.


"Cari tahu, Co."


"Aku lagi, aku lagi."


"Itu kan memang sudah tugasmu!"


Mico cengar saja. Tentu saja tanpa diminta Kun, dia akan mencari tahu semuanya.


Setelah dipastikan semuanya aman, mereka kini duduk di halaman belakang vila. Para opa Oma duduk di atas karpet dan bermain dengan semua cucu.


"Siapa pun orang itu, dia tidak akan mudah menggangu keluarga kita," ucap Arby menenangkan Freya.


Freya bukannya takut dengan ular. Tapi dia takut orang-orang tersayangnya akan terluka. Yang paling berbahaya itu musuh dalam selimut. Bisnis itu kejam. Dari luar terlihat seperti rekan bisnis yang baik, tapi di hati ingin menghancurkan.


"Anak-anak juga pasti bisa menjaga diri. Ti J dan Mico melatih mereka semua dengan sangat baik. Nanti juga akan ada saatnya Aileen belajar bela diri."


Mau anak laki-laki, atau perempuan, semua harus bisa menjaga diri sendiri. Tidak akan ada yang dimanjakan dalam hal ini.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku juga bisa kok, melatih mereka."


Arby mengusap tengkuknya. Dia tentu saja tahu bagaimana kemampuan Freya, karena dulu sudah cukup sering merasakan amukan perempuan itu saat sedang marah.


__ADS_2