
Dari dalam sana, mereka bisa mendengar suara tembakan.
"Bang, lapar."
Chiro membuka tasnya dan adik-adiknya. Masih banyak bekal makanan di sana.
"Jangan dihabiskan semua. Bukannya aku pelit, tapi nanti kita bisa sakit perut."
Mereka membagi-bagikan makanan itu, hanya sedikit-sedikit, daripada nanti kekenyangan lalu mau buang air.
Sachi, Ichi dan Ishi yang memang doyan makan, tentu saja merasa kurang. Wajah mereka sudah mewek.
"Jangan nangis ya. Nanti Abang janji, akan membelikan kalian kue-kue." Raine mengusap kening Rai, begitu juga dengan Radhi yang menenangkan adik-adik yang masih kecil.
Suasana menjadi hening karena ada yang buang gas.
"Tuh kan, apa Abang bilang."
Raine kembali mengipas-ngipas.
"Kita bisa kehabisan oksigen di sini." Suara gadis itu sudah serak. Dia mulai menangis, membuat anak-anak yang lebih kecil menjadi ikut menangis.
"Radhi, kamu bawa apa saja di dalam tas kamu?"
Radhi mulai mengeluarkan isi tasnya, begitu juga dengan Chiro.
__ADS_1
Ada mistar, dan Chiro mengambil mistar itu.
"Coba kita selipkan di sini, kalau bisa nembus ke luar, bisa ada sedikit celah untuk udara masuk."
"Kita tendang sama-sama."
Radhi, Raine dan Chiro, yang sudah dilatih beka diri sejak kecil, menendang sekuat tenaga badan kontainer itu.
"Tendang di tengah-tengah pintu!"
"Aaaa!"
Anak-anak di dalam mobil ito berteriak saat tubuh mereka terguncang-guncang, bahkan terbentur-bentur badan kontainer.
Buk
Chiro langsung memeluk Ishi, meniup kening Ishi yang memar karena benturan.
"Pegangan tangan semuanya!" ucap Chiro.
Mereka lalu saling bergandengan tangan, menempatkan yang kecil-kecil di tengah-tengah mereka. Meskipun Sidah saling berpegangan tangan, tapi tetap saja tubuh mereka terguncang-guncang, bahkan sampai jatuh ke lantai kontainer.
"Duduk mengumpul."
Di luar
__ADS_1
Jan dan Jon menghadang dari arah depan kontainer itu, sementara bodyguard yang lainnya masih mengikuti dari belakang.
Jan menembak orang yang ada di sebelah supir, dan langsung tepat sasaran. Mobil penculik lain yang ada di belakang kontainer itu, ikut menembak para bodyguard.
Sopir kontainer menyenggol motor yang dikemudikan oleh Jan, membuat mereka terjatuh.
Salah satu bodyguard mengulurkan tangannya untuk mereka naik ke mobil tanpa menghentikan laju mobil.
Untung saja, untung saja Jan Jon Jun selama ini selalu berlatih keras.
Selain itu, untung saja para bodyguard itu setiap hari selalu memakai rompi anti peluru, dan sekarang benar-benar berguna. Kalau saja mereka bisa ban kontainer itu, tapi masalnya banyak anak di dalamnya.
Ini bukan hanya masalah taruhan nyawa mereka kalau sampai anak-anak itu terluka, tapi mereka yang sudah lama menjadi bodyguard untuk anak-anak itu, merasa kasih sayang yang besar.
Jun yang ada di belakang, langsung menembak mobil-mobil penculik yang masih tersisa, karena yang lainnya sudah ditembak lebih dulu oleh bodyguard yang lain.
"Percepat, aku akan berusaha menaiki kontainer itu."
Mereka tiba di pelabuhan, dan di sana, sudah banyak yang menghadang para bodyguard.
Mereka tentu saja berpikir kalau orang-orang ini pasti terjaring dalam satu organisasi, sampai bisa melakukan hal ini. Mengingat yang pertama kali dibawa adalah anak-anak tuan Arby, mereka berpikir mungkin otak dari penculikan ini adalah saingan bisnis bos mereka.
Kontainer itu masuk ke dalam kapal, langsung menarik jangkar dan kapal mulai bergerak.
"Jangan biarkan mereka lolos! Jangan biarkan mereka lolos!"
__ADS_1
Kepanikan mulai terjadi saat kapal itu mulai bergerak perlahan.