Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
188 Apa Tuh Namanya Tuh?


__ADS_3

"Siapa yang melakukan ini pada wajah ganteng Daddy, hah?" Arby sungut-sungut melihat wajahnya di cermin yang penuh dengan coretan spidol warna-warni.


Dia kesal, kan jadi bebebnya gak mau nyium dia pas Arby bangun dari bobo siang.


"Ayo ngaku, kalau enggak mau ngaku, Daddy kurangi jatah pisang kalian."


Sekarang Freya yang sungut-sungut, emangnya anaknya itu MonMon? Dasar si Arby, hobi dia yang makan pisang ditularkan semua ke anak-anaknya.


"No Daddy, jangan ambil pincang Ishi." Eishi, yang dipanggil Ishi, yang status bontotnya tidak lama lagi akan digantikan dengan anggota baru, menunduk.


"Kenapa Ishi coret-coret muka Daddy?"


"Itu karena Ishi tuh lagi idam, Daddy."


"Idam? Apa tuh idam?"


"Itu loh Daddy, idam. Ish, masa begitu aja gak tahu." Ishi mengusap-usap perutnya yang gemoy.


"Ngidam, Daddy!" ucap Chiro.


"Heleh, kecil-kecil kok ngidam."


"Heleh, udah tua masa gak tau. Aku kan cindlom ... cindlom apa tuh namanya tuh? Mommy yang punya dede di perut, nah aku yang cindlom."


Arby menggaruk tengkuknya. Mungkin Ishi nanti akan jadi dokter seperti Freya?


"Ichi juga cindlom, Daddy."


Arby menatap curiga pada Ichi, kembarannya Ishi.


"Cindlom, cindlom. Sindrom!"


"Iya, iya, cindlom."


Suka-suka mereka, lah.

__ADS_1


"Ayo, bersihin muka Daddy."


Arby memejamkan matanya, menunggu kedua anaknya membersihkan wajahnya yang ganteng luar biasa, versi dirinya sendiri.


Ichi dan Ishi mengusap wajah Arby, dengan lembut bagai porselen berharga dan takut retak.


Arby mengendus-endus.


"Kok bau oli?"


Dia membuka matanya, melihat kanebo kering yang hitam.


"Kenapa kalian mengelap wajah daddy pake itu, hah?"


Si kembar nyengir, lalu berlari ke belakang Freya.


"Kami kan celing liat Daddy elap mobil paket ini."


"Apa namanya Ichi?"


"Nenebo nenebo, kanebo!"


"Apa-apa?"


"Kakebo, Ishi. Ka ... Ke ... Bo. Kakebo."


Pria beranak empat itu menepuk jidatnya.


"Beb?"


"Aku mah pokoknya pura-pura enggak dengar," ucap Freya.


"Pura-pura enggak dengar, tapi kok nyahut." Freya melirik Arby, sedangkan pria itu senyum-senyum saja.


"Daddy, kenapa Daddy bau ompol?" tanya Sachi.

__ADS_1


Arby kembali mengendus-endus, mendadak dia pusing. Ternyata wajahnya bukan hanya bau oli, tapi juga bau pesing."


"Awas ya kalian berdua."


"Abang Sachi yang nyuruh."


Ya ampun, kenapa ketiga anaknya ini selalu usil? Arby akhirnya mengejar ketiga anaknya, dsn Chiro jingkrak-jingkrak, akhirnya dia bisa menguasai mommy-nya tanpa gangguan.


"Ayo Chiro suapin Mommy."


Pasti si Arby kesal karena sudah dikecoh oleh Chiro. Bapak dan para anaknya itu memang selalu berebutan Freya. Ada saja yang akan mereka lakukan untuk memonopoli perempuan paling cantik di rumah itu. Ya walaupun ujung-ujungnya yang kalah akan ngambek.


Kalau sudah begitu, Freya dan Arby juga yang pusing. Rumah besar itu setiap hari akan selalu ramai, meski hari kerja sekali pun. Arby sering membawa keempat anaknya ke perusahaan.


Dia mau pamer ke orang-orang kalau dia sudah punya empat anak laki-laki yang sangat tampan. Apalagi kalau lagi meeting dengan para rekan bisnisnya.


Ujung-ujungnya, merasa berniat mau menjodohkan anak mereka dengan anak-anak Arby.


"Nooo!" Sachi.


"Kenapa Abang?"


"Kita meninggalkan mommy berdua saja dengan abang Chiro."


Mereka terdiam, lalu kembali berkskir masuk ke dalam rumah. Melihat pemandangan yang membuat iri.


.


.


.


.


__ADS_1


Ceritaku yang ini udah tamat, ya. Yang belum baca, yuk dibaca🤗


__ADS_2