
Keesokan paginya, Freya sudah boleh pulang. Mereka berempat duduk di bangku belakang, sedangkan yang menjadi sopir siapa lagi kalau bukan Ikmal.
Arby terus saja mengelus pipi chuby anaknya itu. Begitu juga dengan Chiro, tangannya terus saja memegang kaki Sachi meski tertutup oleh bedongan.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh seluruh keluarga besar.
"Ayo Sayang, aku ajak kamu ke kamar Sachi yang sudah aku siapkan."
Marcell mendengkus. Tadi malam, mereka Haris bergadang untuk menyiapkan kamar dadakan untuk Sachi. Kamar yang tadinya di dekor untuk anak perempuan, dalam semalam langsung diubah menjadi kamar anak laki-laki.
Bisa saja Arbu menyuruh para pekerjanya yang melakukan, tapi dia ingin melakukannya sendiri, dengan bantuan para saudaranya tentu saja.
"Kan sih senang sama-sama. Nanti juga kalau kalian punya anak, pasti merasakan apa yang aku rasakan."
Hanya Marva di sini yang paham dengan perkataan Arby.
Freya memasuki kamar itu. Perabotannya berbentuk kapal, pesawat, mobil dan berwarna biru.
"Chiro, bonekanya kamu apakan?"
"Ada yang mau aku kasih ke Raine. Sisanya nanti aku kasih ke panti asuhan saja ya Mom, boleh enggak?"
"Boleh dong."
__ADS_1
Arby dan Freya tersenyum bangga pada ada anaknya.
"Tapi Chiro sisakan satu saja buat Chiro. Buat kenang-kenangan kalau Chiro enggak jadi punya adik perempuan."
"Chiro sedih ya, enggak jadi punya adik perempuan? Terus, sayang enggak sama Sachi?"
"Enggak, Chiro enggak sedih dan sangat sayang sama Sachi. Kan mommy jadi tetap yang tercantik. Bagaimana bisa Chiro menggantikan mommy dengan perempuan lain yang juga cantik? Chiro enggak sanggup membayangkan itu."
Arby mendengkus, bisa-bisanya istrinya digombalin di depan mata kepalanya sendiri, dan oleh anaknya sendiri.
Enggak rela, sungguh enggak rela hatinya.
Freya langsung menciumi wajah Chiro dengan gemas. Bisa-bisanya dia dibuat baper oleh anaknya sendiri.
Chiro lalu mendekati Sachi.
Wajah Sachi langsung tersenyum, membuat dia terlihat semakin menggemaskan.
Freya kembali melihat isi ruangan ini. Tapi berhubung Sachi masih bayi, jadi dia akan tidur bersama kedua orang tuanya.
Malam harinya, Arby memasuki kamarnya. Hatinya menghangat saat melihat keluarga kecilnya sedang tidur. Ada Freya, Sachi, dan juga Chiro di kasur itu. Chiro dan Freya sama-sama menghadap Sachi.
"Terus aku tidur di mana?" tanya Arby pelan pada dirinya sendiri. Dia lalu membaringkan dirinya di sebelah Freya.
__ADS_1
Malam pertama tidur bersama dengan anggota keluarga baru.
Beberapa jam kemudian, mereka terbangun karena Sachi yang menangis. Arby segera menggantikan popok Sachi, setelah itu memberikannya kepada Freya untuk disusui.
Freya melihat Arby yang sangat telaten. Tidak ada sikap kaku atau bingung.
"Chiro tidur lagi."
"Enggak, Chiro akan menemani sampai adik bayi tidur."
"Kan besok Chiro sekolah."
"Enggak apa Mom, Chiro akan menjadi kakak siaga."
Dan akhirnya, mereka tidak tidur sampai pagi karena Sachi yang tidak mau tidur. Freya meletakkan Sachi di box bayi setelah anaknya itu tidur.
Ayah dan anaknya juga tidak ada yang mau sekolah dan kerja. Mereka merebahkan diri di kasur dengan posisi yang berantakan.
Freya segera ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Yang lain ke mana, Freya?"
"Tidur Mom, tadi Sachi baru tidur setelah subuh."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar mommy yang menyiapkan sarapan untuk kalian."
"Enggak apa, Mom. Sudah pagi juga, tanggung kalau mau tidur."