
Arby sudah membulatkan tekadnya. Dia harus bisa melawan ketakutannya.
Dia mengatur nafasnya, lalu membuka mata. Yang pertama kali dilihatnya tentu saja wajah istrinya.
Dia mengecup kening Freya, lalu ke seluruh wajahnya.
Pada akhirnya, naluri memang akan berjalan dengan sendirinya.
Ini malam pertama mereka. Malam pertama yang sebenarnya.
Malam pertama dulu, tidak perlu diingat, karena itu menyakitkan.
Malam kedua, apanya mau mau diingat? Karena memang mereka tidak mengingat apa-apa.
Sudahlah, lupakan saja!
Lupakan semua masa lalu buruk itu, jadikan saja pelajaran.
Yang penting adalah masa depan.
Arby melihat jam.
"Baru empat jam, Frey."
"Empat jam empat puluh lima menit."
"Genapin, yuk. Biar jadi enam jam."
"Itu namanya bukan genapin."
"Iya deh, iya. Genapin jadi lima setengah jam, deh."
"Arby!"
"Lima jam? Tanggung lima belas menit lagi. Tapi dihitung dari nanti, bukan sekarang. Rugi dong aku nanti."
__ADS_1
"Iya, deh."
Arby langsung bersorak gembira.
Lima menit, ngadat jadi dua jam, dan Freya tekor empat puluh lima menit.
"Tidur dulu bentar, nanti pagi lanjut lagi. Kan katanya bagus kalau pagi-pagi, kualitas kecebong lagi bagus-bagusnya itu."
Freya menghela nafas, Arby memang pakarnya dalam hal ini. Freya tidak tahu saja, mereka baru melakukan ini hanya tiga kali saja, tapi Arby sudah seperti yang paling pengalaman.
Freya tidak perlu tahu apa-apa. Itu masa lalu! Hanya masa lalu.
Dikecupnya seluruh wajah Freya. Dia merasa lega sekarang. Dia sudah jadi suami yang sesungguhnya.
Suami sesungguhnya sejak awal mereka menikah di masa sekolah dulu.
Mungkin memang harus seperti ini jalan hidup mereka, diberikan ujian berat dulu, baru akhirnya bisa bersama tanpa paksaan.
"Freya, bangun. Sudah jam setengah lima."
"Ayo, Freya. Kita melakukan ibadah dulu."
Freya lalu membuka matanya, dan ingin ke kamar mandi.
"Mau ke mana?"
"Kamar mandi."
"Ngapain?"
"Mandi, lah."
"Ngapain mandi, masih jam segini."
"Ya kan mau ibadah, katanya. Ya harus mandi dulu, lah!"
__ADS_1
Arby mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Oh. Tapi ini ibadah yang lain dulu. Misi penting untuk membuat dedek bayi. Ayo buruan, nanti keburu terang kamar kita digedor-gedor sama Chiro."
Ingin sekali Freya menyemprot Arby dengan baygon, agar tidak lagi memberikan bekas bulatan merah raksasa.
Mereka menikmati pagi itu. Meskipun Freya merasakan sakit, apalagi saat pertama kali mereka melakukannya, tapi itu dia pikir mungkin karena sudah lama sekali.
Arby mengelus perut Freya, sambil berdoa agar Chiro bisa segera punya adik.
"Ayo mandi!"
Di dalam kamar mandi, Freya mandi buru-buru, takut Arby pura-pura pikun dan kembali beraktifitas.
Tapi niat hanya niat, yang terjadi ya terjadilah.
☘️☘️☘️
Keluar dari kamarnya, wajah Arby sangat cerah. Dia langsung menghubungi semua orang, menyuruh mereka untuk datang ke rumahnya dan mengadakan makan bersama.
Hal baik kan, harus disyukuri.
Ya, memang ada-ada saja alasannya.
Jam sepuluh, mereka datang ke tempat Arby, yang disambut heboh oleh sang tuan rumah. Wajah itu tidak berhenti tersenyum, membuat yang lain merasa heran.
Apa Arby baru saja menang tander?
Banyak makanan dan minuman yang disajikan, membuat para koki harus bekerja keras karena acara dilakukan dadakan.
"Kering tuh gigi, senyum mulu."
"Beli pasta gigi baru?"
Senyum Arby semakin lebar, dia menatap satu-satu para kamu muda jomblo merana.
__ADS_1