
"Yang?"
"Hm?"
"Ikan Hiu di sarang Laba-laba ... aku rindu, pengen ngeraba-raba."
Pluk
"Awww!" Arby meringis memegang hidungnya yang cenat-cenut.
"Daddy, Daddy!"
"Hm?"
"Laba-laba dimamam hiu ... Daddy dah tua, halus diganti yang balu."
Mulut Arby langsung komat-kamit, sedangkan Freya menatap penuh kagum pada anak-anaknya yang sangat cepat belajar ... belajar ngeselin.
"Ikan lele digoreng kering ... kalian rese, kaya emak bunting."
Pluk
"Aawww. Apalagi sih, Yang?"
__ADS_1
"Kamu nyindir aku? Emak bunting, emak bunting!"
"Eh, enggak kok, enggak." Arby menepuk bibirnya, dia lupa kalau istrinya lagi hamil.
"Ikan lele dicabein ... Daddy juga rese, buruan Mom, digadein."
Arby mengelus dadanya, sakitnya tuh disitu. Dia sangat senang punya anak-anak yang cerdas, tapi kalau untuk mem-bully dia, lebih baik dia punya anak yang kalem saja. Arby langsung memeluk Freya, merasa menjadi pria yang paling disakiti.
"Sabar, ya. Ini yang satu juga belum lahir, mungkin nanti yang ini akan jadi pembela kamu."
Arby bingung mau berdoa seperti apa. Berharap anaknya yang ini seperti dia atau seperti Freya. Soalnya waktu mereka masih muda, bahkan sampai sekarang, mereka kan juga sama-sama dianggap nyebelin sama Marcell dan yang lainnya.
"Main ...."
"Tunggu Yang, satu lagi. Main gundu di lapangan bola ... udah dulu, mommy dan Daddy mau bobo berdua." Arby langsung menggendong Freya dan berlari memasuki kamar mereka, lalu secepat mungkin menguncinya. Anak-anak mereka langsung menangis karena mommy mereka diculik.
"Kamu iseng banget sih, pada nangis tuh."
"Biarin saja Yang, kita bobo aja, Yuk. Biar mereka sama Ti J, tuh."
"Ti J tuh bodyguard, bukan baby sitter."
Di bawah
__ADS_1
"Abang Chilo, mommy diculik Daddy."
"Ayo, kita bobo saja di kamar Abang. Kalian bertiga jangan nangis lagi."
Chiro langsung mengajak ketiga adiknya ke kamar dia. Sachi dan si kembar langsung tidur di atas kasur Chiro.
"Bobo, Abang bacaan cerita."
Ketiganya lalu mendengarkan Chiro yang membacakan cerita, sampai keempatnya tidur bersama.
Nah, kalau sudah pada tidur, baru rumah terlihat tenang. Asisten rumah tangga secepat mungkin membersihkan rumah yang diacak-acak oleh ketiga anak itu.
"Semoga saja mereka tidurnya agak lama, ya."
"Mudah-mudahan anak Tuan Arby yang lahir nanti lebih kalem."
"Tapi mereka lucu-lucu. Tidak ada mereka, malah hampa banget rumah ini."
Sementara beberapa asisten rumah tangga membersihkan yang berantakan, para koki juga menyiapkan cemilan sore. Anak-anak majikan mereka pada doyan makan. Tidak harus cemilan modern seperti yang ada di kafe-kafe, kue tradisional pun mereka suka, yang penting Arby menyuruh harus higenis dan bahan yang berkualitas. Karena memang Freya dari kecil juga suka dengan kue-kue tradisional.
Akhirnya Arby bisa anteng memeluk Freya tanpa ada pengganggu. Meskipun tidur, tangannya juga mengusap perut Freya yang sudah semakin besar. Wajahnya tersenyum, bermimpi bermain bersama anak-anaknya yang lucu-lucu itu. Arby juga sudah menyiapkan satu kamar baru untuk anak mereka, meski untuk beberapa waktu, kamar itu tidak terlalu bermanfaat, karena pasti akan tidur dari kamar juga dengan mereka dan anak-anak yang lain.
Chiro berharap adiknya kali ini perempuan. Bukan karena dia tidak suka adik laki-laki lagi, tapi mungkin akan seru kalau dia punya adik perempuan.
__ADS_1