Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
119 Foto


__ADS_3

Arby memeluk Freya, kadang tertawa pelan. Freya yang tidur nyenyak dalam pelukannya tidak bergerak. Dielus-elusnya kulit Freya yang lembut itu. Rasanya pria itu tidak pernah puas memeluk istrinya, tidak ingin melepaskan pelukan itu. Tapi akhirnya dia melepaskannya juga, mengambil laptopnya dan mulai bekerja. Jika ada Freya, apalagi kalau Freya belum tidur, selalu sulit baginya untuk konsentrasi bekerja. Itulah sebabnya, jika berada di kantor, maka Arby akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Dia tidak mau membawa pekerjaan pulang ke rumah. Di rumah adalah waktunya untuk istri dan anaknya. Kalau pun tiba-tiba ada yang harus dia kerjakan di rumah, maka seperti malam ini, dia akan mengerjakannya setelah Freya tidur, dan itu memang pekerjaan penting.


🌼🌼🌼


Selama beberapa hari ini, Freya selalu diledek oleh yang lain. Berita tentang dia yang cemburu pada gadis kecil berkuncir kuda penyuka warna merah, yang tidak lain adalah dirinya sendiri, tentu saja sangat lucu bagi keluarganya dan keluarga Arby.


Freya dengan wajah polosnya, dan sikap cool-nya, masih saja membela diri.


"Lagian kenapa manggilnya Feya? Memangnya Arby cadel?"


"Bukan aku yang cadel. Dulu kamu itu suka manggil aku Aby, atau By saja. Jadi aku manggil kamu Feya, atau Eya. Chiro kan juga mirip sama kamu, suka menghilangkan huruf R untuk nama orang. Dia suka menyebut Ercan dengan Ecan."


Kalau Freya ingat, pasti dia tahu kalau dulu Chiro memang menyebut namanya dengan Ecan, bukan Ercan.

__ADS_1


Panggilan Aby atau By itu, memang panggilan khusus Freya untuk Arby dulu. Dan tidak ada yang boleh memanggilnya seperti itu kecuali Freya.


Freya hanya manggut-manggut saja.


"Berarti bukan salahku!" Tetap saja dia membela diri. Kan malu, masa cemburu dengan anak kecil.


Arby juga langsung menunjukkan semua foto masa kecil Freya. Terlihat kalau gadis itu memang penyuka warna merah. Pasti ada saja yang dia gunakan berwarna merah. Mau itu bando, pita, baju, atau sepatu.


"Aku belum pernah lihat foto pernikahan kita yang pertama. Di rumah papa mama tidak ada. Di rumah mommy juga enggak ada. Di rumah kita enggak ada. Kamu punya? Atau sudah kamu bakar semuanya?"


Deg


"Enggak aku bakar."


"Terus, kamu simpan di mana?"

__ADS_1


"Hilang," jawab Arby bohong.


Tentu saja dia tidak mengatakan yang sesungguhnya, kalau mereka tidak memiliki foto pernikahan pertama. Lebih tepatnya, bukannya enggak punya. Ada sih, saat Arby mengucap ijab kabul. Namun foto yang lain, tentu saja tidak bisa ditunjukkan pada Freya, karena foto Freya yang cemberut, dengan baju pernikahan yang sudah tidak karuan.


Tidak ada foto dengan wajah bahagia. Tidak satu pun. Bahkan sekedar foto bersalaman dengan keluarga atau tamu pun, tidak ada.


"Kenapa bisa hilang?"


"Waktu itu aku kecopetan. Tasku yang berisi foto-foto diambil mereka. Dengan semua data aslinya. Pokoknya, tidak ada yang tersisa dari semua itu."


Freya melihat wajah Arby yang terlihat sedih. Tapi tentu saja Freya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.


Arby sedih mengingat masa lalu, mengingat pernikahan mereka yang kacau, dan tidak ada kesan indah sama sekali.


Freya pikir, Arby sedih karena sudah kehilangan semua kenangan itu.

__ADS_1


"Ya enggak apa-apa. Apalah artinya sebuah foto, yang penting kan di hati kamu tetap mengingat semua itu," jawabnya polos.


Arby melirik yang lain sambil menggaruk tengkuknya, sedangkan yang lain hanya meringis.


__ADS_2