Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
180 Makan Siang Untuk Didi


__ADS_3

Usia kehamilan Freya sudah memasuki empat bulan. Sachi juga sudah semakin gembul dan menggemaskan. Siapa yang paling memanjakan anak itu? Tentu saja Chiro. Dia tidak perlu iri lagi dengan teman-temannya yang memiliki adik. Bahkan setiap hari Chiro yang akan pamer tentang adiknya yang sangat tampan dan menggemaskan.


Hari ini Arby mengajak Freya, Chiro dan Sachi ke kantornya. Para pegawainya hanya melongo melihat istri bosnya itu yang ternyata sedang hamil lagi, padahal anak keduanya saja masih kecil, belum satu tahun.


Kehamilan Freya saat ini memang membuatnya cepat lelah. Dia lebih sering lapar, dan Arby sebagai suami siaga selalu memenuhi keinginan istrinya apalagi kalau soal makanan.


"Sayang, aku mau makan gado-gado."


Arby yang dipanggil Sayang oleh Bebeb Freya merasa sangat senang.


"Oke Honey, apa pun untuk kamu. Chiro mau makan apa?"


"Samakan saja dengan mommy."


Rasa sayang Arby pada Chiro semakin bertambah. Anaknya itu sangat pengertian. Dia tidak pernah banyak menuntut dan menyusahkan Freya dan dirinya. Dia juga tidak pernah merasa cemburu pada Sachi yang tentu saja lebih banyak menyita perhatian kedua orang tuanya.


"Didi, belikan gado-gado sepuluh bungkus."


"Ya, Tuan."

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian Didi kembali dengan membawa sepuluh bungkus gado-gado. Di belakangnya ada office boy yang membawa piring dan sendok, juga minuman.


Didi menunggu ....


"Kamu boleh keluar. Saya dan anak istri saya mau makan dulu."


"Baik, Tuan."


Didi menghela nafas, dia pikir dari sepuluh bungkus itu, akan ada satu bungkus yang diberikan untuknya. Ternyata enggak!


Arby menyuapi Sachi bubur yang tadi sudah di masak dari rumah. Dia tidak peduli dengan makanan Sachi yang mengotori jas mahalnya. Setelah selesai menyuapi Sachi, dia dia ikut makan. Masih ada tujuh bungkus, dan tidak lama lagi semua itu akan habis dimakan oleh istrinya itu.


Jam istirahat sudah tiba, Arby membuka pintu ruangannya dan memanggil Didi.


"Didi!"


"Ya, Tuan?"


"Nih, kamu sama Evan makan siang. Tali kalian berdua harus makan seblak level dzolim. Ingat, harus divideokan!"

__ADS_1


Arby memberikan dia lembar uang merah l


pada Didi. Pria berkaca mata itu meneguk salivanya.


Evan yang mendengar itu juga sudah keringat dingin. Bagaimana bisa mereka disuruh makan seblak level dzolim.


Namanya saja sudah dzolim, sudah pasti rasanya memang mendzolimi orang.


Evan dan Didi berjalan dengan lesu. Ingin sekali mereka menuntut pemilik tempat makan itu. Saat Arby menutup pintunya, dia melihat istrinya itu sedang mengelus perutnya. Dia saja yang makan satu bungkus kekenyangan, bagaimana dengan ibu hamil itu?


Arby selalu tersenyum jika mengingat saat pertama kali dia mengetahui kehamilan Freya yang sekarang.


Tidak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar. Seperti biasa, Freya akan tidur saat sudah merasa kenyang. Kalau belum, maka mulutnya tidak akan berhenti mengunyah. Mungkin itu sebabnya tubuh Freya sekarang benar-benar berisi.


"Chiro, kamu gendong Sachi."


Arby menggendong Freya, sedangkan Chiro menggendong Sachi. Mereka masuk ke kamar pribadi Arby yang sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk Sachi. Setelah dua orang kesayangan mereka itu tidak dengan nyaman, Arby dan Chiro keluar.


Anak itu sudah mulai belajar bisnis dengan Arby. Bukan Arby yang memintanya, tapi memang Chiro sendiri yang mau.

__ADS_1


__ADS_2