
Arby mengejar nafas berkali-kali. Sekarang dia haris pergi ke bandara dan meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk beberapa hari. Dia harus mengurus pekerjaan yang ada di Jepang. Tadinya dia ingin mengutus Didi dan Steven saja, tapi masalah ini harus dia sendiri yang menangani.
Berat sekali rasanya untuk pergi. Dia belum pernah meninggalkan istri dan anak-anaknya ke luar negeri tanpa mereka. Mau mengajak, tapi Freya sedang hamil, dan perjalanan cukup lama.
"Sayang, pokoknya aku Haris setiap hari video call dengan kamu dan anak-anak."
"Iya."
"Yang, aku ajak Chiro, deh."
"Chiro?"
"Iya. Aku ajak Chiro, deh. Rasanya aneh kalau enggak ada kalian."
Arby juga belum pernah berpisah jauh dari Chiro. Saat Arby mengirim anak-anaknya itu ke rumah kakak neneknya, malam harinya dia sendir yang menyuruh supir untuk menjemput mereka.
"Pokoknya aku ajak Chiro."
Tetap saja, pria itu tidak bisa jauh dari anaknya, apalagi Chiro yang sudah dia besarkan sendiri saat bayi.
"Chiro, kamu temani Daddy ke Jepang, ya."
"Nanti yang jaga Mommy, siapa?"
"Kan ada banyak pelayan dan bodyguard. Mommy juga akan menginap saja di rumah kakek dan nenek."
Freya akhirnya menginap di rumah kedua orang tuanya. Ya setidaknya Arby merasa lebih tenang, ada juga yang akan ikut membantu mengawasi si kembar dan tidak terlalu memberatkan Freya.
__ADS_1
"Lihat saja, aku akan membuat perhitungan pada orang yang sudah menimbulkan masalah sampai aku jadi harus jauh dari anak dan istriku."
Arby bahkan sampai membawa bingkai foto kecil dia bersama keluarga kecilnya itu, padahal di dalam ponselnya, sudah banyak foto mereka. Tidak hanya itu, dia juga membawa baju Freya, Sachi dan si kembar. Setidaknya, kalau tidak kemana orangnya, membawa aromanya saja dan bajunya.
"Kamu bawa oto semua kaya mau kelet kami tahu, enggak," ucap Freya.
Arby hanya terkekeh. Setia kali mendengar komentar Freya tentang apa yang dia lakukan, selalu membuat Arby gemas.
"Aku juga mau bawa minyak telon dan bedaknya Sachi dan si kembar, ya."
"Enggak sekalian, kamu bawa rumah dan isi-isinya?"
"Kalau bisa aku masukin dalam botol, aku bawa, Yang."
Arby menatap Freya lekat-lekat.
"Iya."
"Nanti kalau kamu ngidam tengah malam, gimana?"
"Kan ada yang lain, By."
"Oya, aku juga bawa sepatu bayi ini, ya."
"Sama boneka ini juga."
Sepatu bayi dan boneka buat calon anak mereka.
__ADS_1
"Daddy, Daddy mau ke mana?"
"Daddy mau ke Jepang dulu, ya. Abang Sachi dan kalian berdua jagain mommy, ya."
"Kok kami enggak diajak."
"Kan Daddy mau kerja, bukan jalan-jalan."
Sachi dan si kembar langsung menggigit bibir mereka, dan tidak lama kemudian ketiganya menangis.
"Mau ikut."
"Ikut, Daddy."
"Ikutttt."
"Cup cup cup, jangan nangis ya jagoan-jagoan Daddy."
"Ikut, mau ikut."
Tidak udah menenangkan ketiganya. Ini yang repot saat ketiganya menangis bersamaan, sudah kaya paduan suara.
"Ayo Mommy, kita ikut Daddy."
Ichi dan Ishi yang digendong oleh Arby, langsung mengeratkan pelukan mereka di kejar Arby. Ingus mereka bahkan menempel di kemeja pria itu.
"Pokoknya ikut."
__ADS_1
Freya menghela nafas, melihat ketiganya yang tidak mau lepas dari Arby.