Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
190 Mana Yang Lebih Ganteng?


__ADS_3

Hari ini Arby membawa para bocil paket komplit ke kantornya. Gaya keempat bocil itu benar-benar menyaingi Arby.


Memakai celana panjang bahan, kemeja putih, dasi dan jas.


Rambut mereka bahkan memakai gel rambut.


Mereka seperti bodyguard cilik yang mengawal pria tampan itu.


Para karyawan Arby yang ada di loby merasa gemas. Kenapa bisa bos mereka memiliki empat anak laki-laki setampan itu?


Ichi dan Ishi tiba-tiba saja berlari mendekati salah satu karyawan Arby.


"Alo kakak cantik. Coba lihat, Ishi sama Ichi gantengan ciapa?"


Perempuan itu menggaruk tengkuknya. Kalau ditanya gantengan siapa? Pasti dua-duanya, lah. Mereka 'kan kembar.


"Kalian berdua sama gantengnya."


"No no no, jadi peyempuan itu halus tegas kaya mommy, gak boleh plin plan."


Perempuan itu meringis, nanti kalau nyebut salah satu dari mereka, sudah pasti yang lainnya akan nangis. Kan dia juga yang pasti disalahkan. Ini namanya musibah di pagi hari.


"Pasti gantengan, aku!" ucap Sachi.


"Kenapa Abang Sachi?"


"Karena aku sudah dewasa."


"Kalau begitu lebih ganteng Abang Chiro, dong?"

__ADS_1


"Tidak, lebih ganteng Daddy."


"No no no ... Daddy cudah tua."


"Cudah esplayed."


"Cudah kadalualsa."


"Cudah basi!"


"Kalian!" Arby melebarkan matanya.


Steven menahan tawanya, sedangkan Didi menunduk sambil menggigit bibirnya.


"Ck, kalian ini. Daddy tuh masih ganteng tahu, buktinya mommy sayang banget sama Daddy."


"Tapi kok, kalau mommy kesal, Daddy disuluh tidul di lual?"


Dia langsung menggendong Ichi dan Ishi, bisa bahaya kalau mereka dibiarkan di sini terlalu lama. Pria itu menggendong keduanya seperti karung beras.


"Acik acik acik, digendong cama Daddy." Mereka berdua malah kesenangan.


Steven menggendong Sachi, sedangkan Chiro berjalan dengan penuh wibawa, terlihat seperti CEO muda.


"Kalian bekerja yang benar, ya. Jangan bikin perusahaan ini bangkrut, dan jangan bergosip!" ucap Chiro.


Didi mengusap tengkuknya. Ini keluarga ajaib memang.


Di dalam ruang kerjanya, Arby mendengus melihat keempat bocah itu.

__ADS_1


Mana, katanya mau bantuin kerja. Sok mau tanda tangan berkas. Mau ikut meeting, mau memantau harga saham. Mau sidak karyawan kerja apa gosip.


Yang ada mereka malah menjadikan ruang kerja Arby seperti arena bermain. Guling sana, guling sini. Didi bahkan sudah lelah keluar masuk hanya untuk membawakan makanan yang mereka mau, karena di ruangan Arby tidak ada.


"Daddy ngapain sih liat-liat? Pokus aja keljanya. Nanti mommy datang lihat Daddy belum celecai, disetelap loh. Kaya temannya Abang Chilo. Iya kan, Bang?"


"Iya. Nanti Daddy disetrap sama Mommy, suruh tidur di luar."


Mendengar nasihat dari anak-anaknya, Arby langsung kembali bekerja, cepat-cepat mengerjakan pekerjaannya.


Ini mana yang bapak, mana yang anak?


Jas dan dasi keempat bocil itu sudah berserakan di lantai.


Lagian gaya banget, katanya mau kaya bos besar. Katanya kalau kucel, nanti enggak ada cewek yang mau pedekate.


Mengingat perkataan anaknya itu, Arby mendengus. Mirip siapa sih, mereka?


Ya mirip Arby, lah. Apa dia tidak ingat, dulu waktu sekecil mereka dia mendekati siapa?


Arby jadi senyum-senyum sendiri. Ingat dia waktu masih kecil. Selalu mengekori gadis berkuncir kuda penyuka warna merah.


"Tuan, sudah waktunya meeting.


"Daddy mau rapat dulu, ya. Kalian tunggu di sini. Jangan rusuh. Chiro, jaga adik-adik, ya."


"Ya, Daddy."


Arby langsung menyambar jasnya dan buru-buru keluar karena Sidah ditunggu.

__ADS_1


"Daddy, tunggu dulu ...."


Memasuki ruang meeting, Arby mencoba memakai jasnya, tapi kok susah? Dilihatnya jas itu, ternyata yang dia ambil salah satu jas si kembar.


__ADS_2