
Sudah beberapa hari ini Arby uring-uringan.
Srut ....
Pria tampan itu menyeruput ingus dengan dasinya, membuat para sepupunya merinding geli.
"Hah, kamu kenapa sih, kaya cowok yang ditinggal sama istrinya saja?"
Perkataan Ikmal itu membuat Arby semakin menahan sesak di dadanya. Dasi yang tadi dia elap ke hidungnya, kini dia elapkan ke matanya, yang semakin membuat para pria tampan itu bergidik.
"Dia ada masalah apa, sih?" tanya Mico. Kalau sudah begini, Mico jadi ilfill mau mengajak Arby bertengkar.
"Jangan-jangan Freya selingkuh!" ucap Marcell.
Jika biasanya mereka berkumpul di kantor Arby, maka kini mereka sedang berkumpul di ruangan kerja Mico, sang pengacara kondang ya g sudah berhasil memenangkan banyak kasus.
"Pantas saja dia ke sini, apa mau mengurus surat cerai? Wah, sudah lama aku menunggu jandanya Freya!" ucap Mico tanpa beban.
Bugh
"Awww, sakittt!"
Arby langsung meniban tubuh Mico, dan Mico berusaha menyingkir agar dasi jelmaan itu tidak mengenai wajah tampannya.
"Enak saja kalau bicara, Freya itu cinta mati ya sama aku. Buktinya dia terus tidur di ketek aku."
__ADS_1
Sungguh fitnah yang sangat kejam, karena pada kenyataannya, Freya tidur berdua saja dengan baby Sachi dan membuat Arby kedinginan karena tidak ada yang kekepin dia.
Mengingat itu, Arby kembali sesenggukan, bahkan pria itu kini merebahkan kepalanya di pundak Mico, yang membuat pria itu berteriak hiteris.
"Aaaa ... menyingkir dari tubuhku, dasar sinting."
"Bangun Ar, coba cerita sama kamu kamu punya masalah apa."
Ikmal menarik Arby, karena pemandangan itu sungguh mengerikan. Bagaimana nanti kalau pintu ruangan Mico ada yang membukanya.
Jangan
Jangan
Jangan
Jangan
Ikmal menggelengkan kepalanya, kembali merinding.
"Sekarang cerita!"
Arby ragu-ragu mau cerita, tapi kalau enggak cerita, nanti hatinya tidak lega.
"Apa kamu punya masalah dengan Freya?"
__ADS_1
"Freya akhir-akhir ini suka uring-uringan, suka nangis enggak jelas, sewot mulu."
"Lah, terus apa bedanya sama kamu? Kamu juga suka uring, nangis enggak jelas, sewot mulu."
Arby jadi terdiam. Berpikir, jadi yang sebenarnya memulai itu siapa? Pria itu menggaruk tengkuknya. Yang lain menghela nafa, pasangan aneh, pikir mereka.
🌼🌼🌼
Kabar tentang rumah tangga Freya dan Arby yang seperti petir tanpa hujan di siang bolong sudah didenger oleh para pihak keluarga, juga sahabat-sahabat Freya.
Tanpa direncanakan, mereka semua hari ini mengunjungi Freya. Wajah perempuan itu terus saja cemberut. Dia seperti menahan tangis, apalagi saat baby Sachi menangis. Perempuan itu juga terlihat lemah dengan wajah pucat dan kantong mata yang menggelap.
"Kalau punya masalah, coba kalian bicarakan baik-baik."
Bukannya mau ikut campur, tapi mengingat dulu mereka yang terbawa emosi sampai akhirnya berpisah, membaut pihak keluarga Haris berjaga-jaga, apalagi baby Sachi masih bayi. Jangan sampai Sachi merasakan hal yang sama seperti Chiro.
"Kalian sudah semakin dewasa, anak sudah dua, jangan lagi mengambil keputusan dengan disertai emosi, Haris dengan kepala dingin."
Mereka memberikan nasihat pada Freya dan Arby. Nasihat ini juga diberikan untuk yang lain, meskipun ada yang belum menikah, tapi jadikan pengalaman Freya dan Arby ini sebagai pelajaran.
Rasanya kepala Freya sudah berdenyut-denyut. Dia hanya mengigit bibirnya menahan rasa sakit.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Freya.
Baru saja dia berdiri, namun matanya langsung menggelap, dan jatuh begitu saja, membuat yang lain panik, terutama Arby.
__ADS_1