Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
97 Membeku


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Chiro. Freya menatap angka yang tertera di kue ulang tahun itu.


"Ini enggak salah, Chiro umurnya sudah segini?"


"Iya, memangnya kenapa?"


Freya baru menyadari sesuatu.


"Memangnya kita menikah umur berapa? Jangan-jangan ...."


"Stop, enggak seperti yang kamu pikirkan, Frey. Chiro itu hadir setelah kita menikah, loh. Bukan sebelum kita menikah."


"Berarti kita nikahnya muda banget, kok bisa?"


"Bisa dong. Kan waktu itu kamu datang ke rumah aku, lalu melamar aku ke mommy. Karena mommy suka sama kamu, lamaran kamu diterima, deh. Terus besoknya langsung dipanggilkan penghulu, nikah."


Freya melihat mereka yang menggaruk tengkuk sambil menahan tawa, ada juga yang geleng-geleng kepala. Ada juga yang tepuk jidat.


"Aku melamar kamu? Kok aku enggak percaya, ya. Kamu bohong kan?"


"Masa sih aku bohong?"


Freya mendengkus melihat Arby yang cengar-cengir sambil menjawabnya. Sudah pasti pria itu sedang mengarang indah.


"Jangan dipikirin, pokoknya Chiro itu anak kita. Kita emang nikah muda, tapi bukan karena kecelakaan, ya."

__ADS_1


Freya mengangguk saja, membuat Arby bernafas lega. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin Freya tanyakan pada mereka, tapi Freya tahu, kalau mereka tidak ingin membahas masa lalu.


Acara mulai berlangsung, Chiro meniup lilin ulang tahunnya dan berdoa. Setelah itu dia memotong kue dan memberikan juga menyuapi kue itu untuk Freya, lalu Arby.


"Chiro mau hadiah apa?"


"Adik, Mommy. Chiro pengen punya adik."


"Kalau begitu, doakan saja semoga adik bayi segera hadir, ya."


Chiro mengangguk, dia tahu mommy-nya sedih. Dia jadi menyesal sudah meminta dedek bayi pada Freya.


"Tapi yang paling penting, Mommy selalu sehat dan kita bertiga selalu bersama. Dedek bayi kalau ada saja, Mom."


Freya memeluk Chiro dengan gemas. Anaknya itu memang pintar, selalu menjaga perasaannya meski Freya tidak menunjukkan kesedihannya.


Freya mengecupi wajah Chiro.


"Aku juga mau, dicium."


Chiro lalu mencium wajah Arby.


"Biar Chiro yang mewakili mommy. Karena Daddy itu tidak pernah merasa puas."


Arby hanya bisa mengelus dada. Mungkin Tuhan belum memberikan mereka anak lagi, ya karena ini. Ini saja dia dan Chiro selalu berebutan Freya, apalagi sudah ada bayi mungil. Bisa-bisa dia yang dilupakan.

__ADS_1


"Freya, ini mommy bawakan kamu makanan. Ini bisa menyuburkan kandungan, loh," ucap Elya.


"Makasih, Mom."


Arby menghela nafas, dia sudah mengingatkan semua orang untuk tidak membicarakan soal kehamilan pada Freya, tapi mommy-nya malah membicarakan ini.


Arby ikut memakan makanan itu.


"Itu untuk Freya, Ar."


"Sama saja, Mom. Kali saja kalau makan ini, para kecebongku lebih gesit. Mereka kayaknya lagi ngambek sama aku, Mom. Karena terlalu lama aku abaikan. Apa jangan-jangan mereka membeku?"


Elya mencubit lengan anaknya itu dengan gemas.


"Kamu enggak malu, bicara seperti itu?"


"Aku lagi curhat loh, Mom."


"Curhat, curhat!"


Elya tidak pernah menyangka, kalau anak semata wayangnya ini akan seperti ini.


Arlan tertawa saja bersama besannya. Mereka sangat bahagia dengan kebersamaan kembali Arby dan Freya, begitu juga dengan kakek nenek opa oma mereka.


Anya melihat keharmonisan keluarga kecil adiknya itu, dia juga jadi ingin menikah.

__ADS_1


Chiro lalu membuka kado ulang tahun yang diberikan oleh mereka dan tamu undangan, setelah para tamu itu pulang, dibantu oleh Radhi dan Raine.


__ADS_2