Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
163 Mules


__ADS_3

"Hufft ... aahhhh ... hufftt ... ahhhh."


Freya dan para pasukannya sedang menguping di balik pintu ruang kerja Arby. Tangan perempuan itu mengepal erat saat mendengar erangan demi erangan.


Brak


Perempuan itu langsung membuka pintu ruangan Arby dengan kasar.


Mereka melihat pria tampan itu sedang duduk selonjoran di sofa dengan keadaan menggigit bibirnya sendiri.


"Kamu lagi apa, hah? Perempuan mana yang kamu sembunyikan?" tanya Freya.


Arby terlihat bingung.


"Perempuan?"


"Iya, cepat tunjukkan perempuan itu, atau kamu tidur di atap!" ancam Freya mantap.


"Didi!"


"Ya, Tuan?"


"Coba kamu kumpulkan semua semut yang ada, lalu cek apakah mereka perempuan atau laki-laki. Kalau perempuan, berikan pada Freya, karena aku enggak mau tidur di atap."


Didi yang mendengar perintah konyol itu, langsung lemes.


"Hufft ... ahhh ... hhuuftt ... ahhh ...."


Freya dan yang lain memandang heran ada Arby.


"Kamu ngapain sih, Ar?" tanya Ikmal.


"Ya ngapain lagi kalau bukan latihan pernafasan. Sayang, sini sama aku latihan pernafasan."


"Buat apa?" tanya Freya, masih dengan nada kesal, tapi dia memeriksa keadaan kolong meja, balik lemari, bahkan ke kamar rahasia.


Kali saja ada perempuan selundupan.


"Ya persiapan kalau nanti kamu lahiran. Huufft ... ahhh ... huuufftttt .... ahhhh."


Freya menghentikan langkahnya, lalu memandang suaminya itu.


"Aku yang lahiran, kenapa kamu yang latihan pernafasan?"

__ADS_1


"Jaga-jaga, Yang. Aku enggak mau kejadian pas Chiro lahiran dulu terulang lagi."


Ikmal, Marcell dan Vian langsung tertawa, terutama Ikmal yang ada di mobil yang sama saat itu. Keempat pria itu kembali terkenang saat itu, di mana keadaan sangat heboh dan mencekam.


Tanpa sadar, Ikmal, Marcell dan Vian ikut latihan pernafasan.


Arby, Ikmal, Vian, Marcell, Nuna, Nania dan Aruna memang punya kenangan sendiri akan hari itu.


Freya langsung menghubungi para sahabatnya untu datang ke kantor Arby.


Beberapa saat kemudian ....


"Kenapa, Freya?"


"Tuh, mereka lagi latihan pernafasan buat lahiran nanti."


Nania mendelik kesal. Kenapa para pria itu selalu saja membuat hal konyol.


"Yang seharusnya melakukan persiapan itu kamu, Freya. Bukan mereka!"


"Sayang, ayo sini duduk samping aku."


Freya akhirnya menurut, duduk di sebelah Arby.


"Hufftt ...."


"Ahhhh ...."


"Ahhhh ...."


"Sa ... sakiittt ...."


"Iya, sabar ya Sayang, sebentar lagi keluar, kok."


"Lama amat, aku sudah lemas ini."


"I ... iya sabar, sabar. Bentar lagi keluar."


Wajah yang lain langsung memerah.


Kenapa ini terlihat ambigu?


"Aaahhh ...."

__ADS_1


"Huufft ...."


"Hufftt ...."


"Ahhhh ...."


Pluk


"Aww!" Arby memegang hidungnya yang baru saja dilempar dengan bantalan sofa.


"Kalian lagi latihan pernafasan atau lagi latihan anu itu anu itu, sih?" tanya Ikmal kesal.


Didi, si sekretaris yang beranjak dewasa itu mengibas-ngibaskan tangannya.


Gerah, woy!


"Huufft ...."


"Ahhh ...."


"Sakit, Yang!"


"Iya, sabar ya. Mal, sini Mal buruan."


Arby lalu menarik Ikmal untuk duduk di sebelah Freya.


"Huufft ...."


"Ahhhh ...."


Sepasang suami istri itu benar-benar menghayati peran mereka. Freya dengan santainya menjambak rambut Marcell dan Ikmal yang duduk di kanan kirinya. Sedangkan Arby mengambilkan Freya air putih lalu duduk di lantai depan Freya.


"Sakit, Freya. Jangan ngambil kesempatan buat jambakin rambut aku, dong."


"Di ... diam kalian. Nanti aku lahiran di sini kalian repot, loh."


Sang suami malah duduk santai sambil makan kacang.


"Nih Yang, sambil makan kacang. Biar ada tenaga ngedennya. Jangan ditahan-tahan, Yang, keluarin saja semua tenaga yang kamu punya. Jangan pikirkan rasa sakit mereka."


Menuruti perintah suami adalah kewajiban, jadi Freya harus mematuhinya.


"Aaaa .... saa ... kitttt ...," teriak Ikmal.

__ADS_1


"Huufft ... ahhh ... huufft ... ahhh." Marcell pun ikut-ikutan mengedan.


Para perempuan mengelus perut mereka, menahan mules karena kebanyakan ketawa.


__ADS_2