
"Ini buat kalian." Chiro membagikan makannya untuk ketiga adiknya. Dia tidak mau kalau sampai adik-adiknya sakit. Sejak belum memiliki adik, dia sudah berjanji akan selalu menjaga adik-adiknya.
"Gak mau, ini buat Abang." Sachi memberikan lagi makanan itu untuk Chiro dan menyuapinya.
"Buat Abang juga nih. Mamam, Bang."
"Simpan saja."
Mereka sudah berkeringat di dalam sana, bahkan sangat lemah.
Radhi mengisap keringat adik kembarnya, dan mengipas-ngipas mereka semua.
"Aku lemes," keluh Raine.
Celah yang dibuat oleh Chiro tentu saja tidak ada artinya.
Sachi dan Ichi mulai merengek.
"Mommy, mau mommy."
"Iya, sebentar lagi Daddy jemput kita. Ayo makan lagi."
Mereka semua melanjutkan makan.
Di luar, para bodyguard bertarung dengan para pria berpakaian hitam. Arby yang tiba di darmaga, menatap tajam kapal besar yang sudah menjauh itu.
"Siapkan speatboat!"
Sepuluh speatboat tiba tidak lama kemudian. Miko menyuruh anak buahnya untuk naik ke kapal lebih dulu, lalu menurunkan tali untuk mereka. Salah satu bodyguard harus mempertahankan laju speatboat agar para bos mereka bisa naik ke atas dengan selamat.
Tiba di atas geladak kapal, mereka langsung menyiapkan senjata api.
Mico langsung menembak salah satu penjahat, dan memeriksa puluhan kontainer yang ada.
__ADS_1
Mereka ada yang menggunakan senjata api, pedang, bahkan pisau.
Ti J sendiri sudah banyak mengalami luka, tapi masih sanggup untuk berdiri. Mereka Sidah berjanji pada diri mereka sendiri untuk menjaga keluarga itu seumur hidup mereka.
Mereka jadi teringat dengan perkataan para senior. Latihan dan kenyataan itu berbeda jauh. Tidak akan ada rasa kasihan, tidak akan ada ampun.
Jika sudah memilih jalan ini, harus siap mati.
Luka yang didapat saat latihan, tidak ada apa-apanya saat mendapat luka dari musuh yang sesungguhnya.
"Ikut aku."
Arby dan yang lain mengetuk pelan kontainer-kontainer itu.
"Eh, kontainer ini bau pesing."
Mereka saling pandang, lalu tiba-tiba menjauh karena pusing.
"Pintu kontainer yang tadi juga penyok."
Ada yang menyerang Arby dari belakang, untung saja Mico langsung menembak lengan penjahat itu.
"Chiro, Chiro! Sachi, Kembar?" teriak Arby.
Dia sudah tidak kuat lagi. Dia saja yang ada di luar, Sidah kepanasan. Bagaimana dengan anak-anak itu?
Mereka lalu melihat pulpen yang menembus pintu.
"Ini punya Chiro."
"Cepat buka pintunya."
Mico mengambil kapak yang ada tidak jauh dari kontainer itu.
__ADS_1
Pintu terbuka ....
"Anak-anak!"
Mereka melihat anak-anak itu yang sedang makan minum, seperti lagi piknik. Bahkan ada yang tidur-tiduran karena mengantuk.
"Daddy, Daddy, cakit Daddy!" adu Ichi sambil berlari menuju Arby.
Mereka melihat kening Ichi yang terluka.
"Sini Daddy tiupin."
"Cakit peyut, Daddy. Mau ee, nih. Mau ee di cini nanti Abang mayah. Ee yuk Daddy, yuk."
Mico dan yang lain menahan tawa. Mereka langsung memeluk anak-anak itu, yang semuanya terlihat berantakan.
"Ayo, kita cari toilet."
"Tunggu Daddy, nih beyum habis."
Ichi mengambil lagi makanannya, dan menyuapi ke mulutnya.
"Bereskan mereka semua!" perintah Mico.
Mereka dengan hati-hati menurunkan anak-anak itu dengan tali. Memberikan selimut dan makanan juga minuman.
"Kita langsung ke rumah sakit sekarang."
"Tuan ...," ucap salah satu bodyguard dengan takut-takut.
"Ya?"
"Nyo ... nyonya Freya mengalami pendarahan, sekarang dilarikan ke rumah sakit."
__ADS_1
"Apa!"