
Hari ini adalah peresmian dari D'LIMA (Delima). Banyak pengusaha yang datang meskipun ini hanyalah klinik, bukan rumah sakit besar, termasuk keluarga besar Abraham dan Zanuar.
Lokasi klinik ini berada di pinggiran kota, namun terletak di jalan utama untuk memudahkan akses bagi siapapun, baik para dokter atau pasien yang ingin berobat.
Naya memulai kata sambutannya.
"... Salah satu impian saya, selain menjadi dokter bedah dan mendirikan usaha sendiri, adalah memiliki klinik untuk masyarakat menengah ke bawah, yang mana nantinya mereka dapat memeriksakan diri tanpa harus khawatir dengan biaya dan prosedur yang rumit. Saya dan teman-teman saya memutuskan kembali ke Indonesia, setelah sebelumnya menempuh pendidikan dan karir di luar negeri. Ilmu boleh di dapat di luar negeri, tetapi akan lebih baik jika bisa bermanfaat di negara sendiri. Klinik ini diberi nama D'LIMA. D bisa diartikan sebagai destination (tujuan), yang bisa juga diambil dari kata dokter. Sama seperti kafe saya yang bernama D'Cafe, kalian bisa mampir ke sana," ucap Naya sambil tertawa kecil.
"Lalu lima, yang berarti lima orang, yaitu saya dan sahabat-sahabat saya sebagai pendiri klinik ini. Kami berlima memiliki tujuan yang sama. Punya misi dan visi yang sama dengan berdirinya klinik ini. Saya harap, klinik ini bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan, dan bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya. Juga untuk teman-teman sesama dokter, jika ingin bergambung dengan kami, kami akan merasa senang dan membuka tangan selebar-lebarnya. Selanjutnya, saya juga akan mewujudkan impian saya yang lain, berupa rumah singgah dan yayasan yatim piatu. Sekian, terima kasih."
Tentu saja Marcell yang juga sebagai dokter, menjadi orang pertama yang bergabung, bukan karena ingin mendekati Nania. Namun sebagai dokter, dia ingin bermanfaat bagi banyak orang, bukan hanya mengobati orang berduit atau menjadi dokter pribadi kalangan atas. Begitu juga dengan Hannie dan Yosuke yang ikut mendukung pembukaan klinik ini.
Tidak perlu mengharapkan gaji yang besar dengan bekerja di klinik ini, karena seperti yang sudah ditekankan sebelumnya, bahwa klinik ini diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah.
Klinik ini sendiri didesign oleh Kirei. Bangun dengan tiga lantai tersebut memiliki fasilitas yang cukup lengkap, dengan tempat parkir yang nyaman juga ruang tunggu yang besar.
Ada tiga ruang bersalin, juga dokter spesialis lain selain kelima pendiri klinik tersebut.
Erlang, keluarga Zanuar dan keluarga Abraham menatap bangga pada Naya.
Dia kembali ... dia kembali dengan membawa pulang kesuksesannya. Dia kembali dengan memenuhi impiannya. Dia memenuhi janjinya bahwa dia akan sukses dengan hasil jerih payahnya sendiri, ucap mereka dalam hati.
Sebelumnya, Naya menolak dengan keras donasi yang akan diberikan oleh keluarga Zanuar dan Abraham.
"Aku tidak ingin menerima donasi dari kalian, juga saham yang akannkalian tanamkan di klinik ini."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin kalian nanti ikut campur dan mengacaukan segala kebijakan yang diteraokan di klinik ini. Juga tidak ingin kalian memanfaatkan hal itu untuk kembali mengekang hidupku."
"Jangan berpikiran buruk, Frey. Jangan campur adukkan masalah ini dengan urusan pribadi kita dan keluarga kita."
"Aku bisa mendaoatkan donatur yang lain. Jika kalian ikut terlibat, bagaimana bisa aku membuktikan pada orang-orang kalau aku berjalan di atas kakiku sendiri. Selama ini aku menutupi identitasku, agar mereka tidak memandangku sebelah mata. Aku ingin sukses dengan caraku sendiri. Seharusnya kalian mendukung itu."
"Ya sudah kalau itu maumu, kami akan selalu mendukungmu, terutama aku dan Chiro."
"Baguslah."
"Di sana bisa CT-Scan dan rontgen?"
"Bisa, kenapa?"
"Aku mau melakukan medical chek up."
Erlang terlihat muram, dan menghela nafas pelan.
"Kamu jangan bilang pada Chiro ya, aku tidak ingin dia khawatir."
Naya mengangguk pelan.
"Akhir-akhir ini aku merasa tubuhku bermasalah."
"Kenapa tidak datang ke rumah sakit untuk medical chek up?"
__ADS_1
"Aku takut."
"Ya sudah ayo, aku temani kamu periksa."
"Tunggu, aku konsultasikan dulu padamu, agar kamu bisa memberi rujukan ke dokter mana aku harus memeriksakan diri. Tolong jangan potong pembicaraanku agar tidak ada informasi yang tertinggal."
"Tentu saja."
"Aku merasa mataku perih, jika sehari saja tak melihatmu. Kupingku mendengung, jika tak mendengar suaramu. Jantungku berdetak kencang, karena selalu merindukanmu, tangaku kapalan, jika tak mengelus pipimu. Kakiku keram, bila tak melangkah bersamamu. Arjunku ngilu, karena dicuekin olehmu. Bibirku sariawan, karena kurang ciuman darimu. Aku juga over dosis, over dosis cinta ...."
Tuk
Naya menancapkan pisaunya ke steak yang baru sedikit dia makan karena ingin fokus mendengar gejala penyakit Erlang yang ternyata tak karuan itu.
Semuanya diborong!
"Dasar Arby sialan, pasien gadungan, aku sudah membuang-buang waktuku untuk mendengarkan keluhanmu."
Si tersangka pelaku kejahatan hanya cengar-cengir.
"Frey?"
"...."
"Frey?"
"...."
"Freya sayangku, cintaku, manisku."
"...."
"Apa, sih?"
"***** napa!"
Erlang memonyongkan bibirnya seperti ikan mas koki.
"Jangan mesum mulu napa, By."
"Lalalalalay panggil aku si jablay ... adek jarang pulang, abang jarang dibelay ...."
Sekujur tubuh Naya langsung merinding.
Ecan, apa jadinya dirimu jika diasuh oleh daddy yang seperti ini?
"Kau tebarkan pesona ke setiap wanita
Tanpa kau sadari, kau sudah lanjut usia
Tingkah lakumu bagaikan seorang remaja
Yang ingin dicinta dan selalu mencinta
__ADS_1
Kuakui gayamu laksana Arjuna
Yang mencari mangsa bila kau melihatnya
Tingkah lakumu bagaikan seorang remaja
Yang ingin dicinta dan selalu mencinta
Ho-wo-wo
Sya-la-la
Ho-wo-wo
Sya-la-la
ABG tua, tingkahmu semakin gila
Kau menjerat semua wanita
Wanita yang ada di depan mata
Rayuanmu sungguh mempesona ...."
Erlang langsung melempar Mico dengan tisu, sebelum musuh bebuyutannya itu selesai menyanyikan satu lagu full. Sebenarnya hanya Erlang saja yang menganganggap Mico musuh bebuyutan jika berhubungan dengan Freya.
"Udah deh, jangan bikin aku pusing dengan tingkah laku kalian."
Mulut Erlang komat kamit kaya baca mantra melihat Mico yang tiba-tiba ikut nimbrung saat dia dan Naya lagi makan siang romantis (romantis dari sudut pandang Erlang seorang).
Enggak tahu apa, aku lagi pedekate sama mommy Chiro.
"Mau ngaoain sih, datang-datang? Terus tahu dari mana kami ada di sini?"
"Dari aku, aku sama Mico masih banyak yang harus dikerjakan."
Memang Mico, sebagai pengacara Freya yang mencari lokasi serta mengurus semua perizinannya. Mico juga termasuk donatur tetap di klinik itu.
Setelah itu Naya dan Mico pergi, namun sebelumnya Mico sempat mengedipkan matanya dan memberikan sun jauh pada Erlang, membuat Erlang yang kini merinding disco, membuat Naya dan Mico terkekeh geli melihat ekpresi Erlang yang menggemaskan, entah dari sudut pandang mana.
Erlang menyuap besar-besar potongan daging itu. Sebenarnya dia sudah tidak selera makan, tapi lapar.
Kan butuh energi untuk pedekate sama Freya.
Padahal sebenarnya, Naya lah yang butuh energi untuk meladeni otak Erlang yang sangat jenius itu (alias eror).
Itulah, pertemuan Naya dan Erlangga sebelum Naya meresmikan D'LIMA.
.
.
.
__ADS_1
.
Yang belum singgah ke Pernikahan Dini 2, yuk mampir. Nanti kenalan sama Deodoran dan si Kate.