
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, klinik yang dibuka dipinggiran kota itu mendapatkan banyak pasien. Naya harus membagi waktunya antara bekerja di rumah sakit Jakarta, klinik, juga cafe-cafenya. Tak lupa juga dia harus mengajak Chiro bermain di akhir pekan.
Lelah memang, tapi tidak membuat Naya mengeluh.
Ini adalah impiannya, cita-citanya, dan dia senang menjalaninya. Menjadi dokter di klinik ini pun, memberi warna tersendiri bagi Naya dan kawan-kaean sesama dokter.
Ada pasien yang memberikan bayaran dengan memberi hasil panen seperti singkong, beras, ubi, sayur-sayuran, ikan teri yang didapat dari mancing di kali, dan sebagainya.
Salah satu D'Cafe yang didirikan di sebelah klinik D'LIMA juga memberikan banyak manfaat untuk warga sekitar, selain bisa bekerja di cafe itu, mereka yang mempunyai hasil panen juga bisa menjualnya di cafe tersebut.
"Kamu habis berkebun?" tanya Erlang saat Naya datang ke apartemennya dengan membawa singkong dan ubi.
"Ini dari salah satu pasien yang istrinya baru saja melahirkan."
"Mereka bayar pakai ini?"
"Iya."
"Kok gitu?"
"Ya mau bayar pakai apa lagi? Punya uang juga pasti buat kebutuhan bayi mereka. Popok, baju, susu formula, kebutuhan gizi mamanya ...."
"Terus ini singkong sama ubi mau diapakan?"
"Bikin getuk sono!"
"Oh, kamu ngidam ya? Ko' aku enggak ingat kapan bikin adonannya, ya?"
"Jangan mulai lagi, deh."
"Aku mana bisa bikin getuk, Frey. Oya, tunggu!"
Erlang langsung ke kamarnya, dan tidak lama kemudian ke luar lagi. Dilihatnya Naya dan Chiro yang sedang menonton animasi sambil ngemil. Beda usia ibu dan anak yang hanya tujuh belas tahun itu terlihat seperti kakak dan adik.
"Frey, vila kamu kapan mau ditengok?"
"Vila? Aku enggak punya vila."
"Ada, vila tempat dulu kamu rehab. Semua itu sudah atas nama kamu."
Naya langsung menatap Erlang.
"Selama kamu pergi, aku yang sementara mengurusnya. Aku melakukan apa yang ingin kamu lakukan pada tempat itu. Membuka taman bermain, restoran, juga ada vila tambahan untuk disewakan. Karena kamu sudah kembali, aku akan menyerahkan semuanya padamu."
"Tapi itukan punya keluargamu."
__ADS_1
"Daddy memberikan semua itu sebagai hadiah saat aku mendirikan FJ. Sedangkan FJ aku buat karena kamu, jadi aku sudah pindah nama kepemilikan tempat itu menjadi namamu sehari setelah kita menikah."
"Apa?"
"Semua aku lakukan untuk kamu, Freya. Ayo kita kembali bersama. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku ... aku ... Maaf, aku tidak bisa."
Deg
Sangat sakit mendengar penolakan Naya itu.
"Aku mau berterima kasih padamu. Terima kasih karena tidak menceritakan pada Ecan tentang keburukanku di masa lalu. Terima kasih karena tidak membuatnya membenciku. Terima kasih karena tidak pernah melarangku menemuinya. Terima kasih karena masih memberiku kesempatan untuk menjadi mommynya. Aku ... aku takut untuk menikah apalagi memiliki anak."
Erlang melihat Naya yang meremas tangannya sendiri. Dia tahu ada sesuatu yang sedang Naya pendam jauh di lubuk hatinya.
Erlang memeluk wanita itu, bukan karena modus, tapi ingin memberikan ketenangan agar wanita itu mau menceritakan beban yang mengganjal di hatinya. Sedangkan Chiro sendiri, jika sedang melakukan sesuatu, maka dia akan fokus dengan apa yang dikerjakannya itu, sama seperti Naya.
Kenapa dia takut untuk menikah dan memiliki anak? Yang dia lihat selama ini Naya sangat menyayangi Chiro.
"Saat aku hamil, sadar tidak sadar, aku selalu mengusap perutku dan berkata 'Kamu harus lebih baik dari mommy. Kamu harus jadi anak yang cerdas dan sukses dengan usahamu sendiri' Dan aku, aku takut dia tak sebaik yang kuharapkan."
Erlang mulai mencerna kata-kata Naya.
Jika orang tuanya memiliki toko klontongan yang kecil, maka dia berharap anaknya menjadi agen sembako yang besar.
Jika bapaknya supir angkot, berharap anaknya menjadi juragan angkot.
Jika orang tuanya guru, berharap anaknya menjadi kepala sekolah.
Jika dirinya komandan, berharap anaknya menjadi jendral besar.
Jika dirinya mentri, berharap anaknya menjadi presiden.
"Aku takut, di satu sisi aku tidak ingin mengekangnya, di sisi lain, aku takut terlalu memanjakannya karena masa laluku. Ada perasaan dendam, ingin anakku lebih baik dari yang lain, karena seperti itulah aku tumbuh. Ada juga sisi lain dari diriku yang ingin dia menjadi anak yang normal, bermain bersama temannya. Sedangkan aku tidak bisa berada di tengah-tengah, bersikap seperti bermain layang-layang saat mengasuhnya. Maka aku putuskan untuk meninggalkan Ecan dalam asuhanmu. Bagiku tidak ada yang setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu. Jika aku yang membesarkan Ecan, maka akan berdampak buruk, karena aku mungkin akan membesarkannnya sama dengan bagaimana aku dibesarkan, karena sekali lagi, aku tidak bisa seperti layang-layang. Tidak ada yang setengah-setengah dalam hidupku. Jika aku memanjakannya, maka aku akan memanjakannya seratus persen. Jika aku bersikap keras padanya, maka aku akan mendidiknya tanpa bisa dibantah oleh siapapun. Jadi kubiarkan dia bersamamu."
Erlang memejamkan matanya saat mendengar penjelasan Naya. Dia tidak bisa menyalahkan Naya, apalagi saat itu mereka masih sama-sama muda. Naya masih sangat labil ditambah didikan dari keluarganya yang membentuknya seperti itu.
Saat berbicara, bel apartemen Erlang berbunyi. Erlang langsung membukakan pintu, sedangkan Naya kembali memeluk Chiro. Lembicaraan mereka berhenti begitu saja. Ikmal dan yang lain langsung masuk.
"Chiro, Chiro, uncle datang, nih," teriak Ikmal.
Namun yang dipanggil tetap cuek. Anak itu selalu anteng dalam pangkuan dan pelukan hangat mommynya.
"Eh, ada Freya."
__ADS_1
Freya hanya melirik sekilas pada Ikmal dan yang lain.
Dasar, ibu dan anak sama saja.
"Ada tugas penting apa, Lang?" tanya Marva, namun matanya tertuju pada Naya yang terlihat sendu.
"Tuh, Freya bawa singkong dan ubi. Kalian masak, gih."
"What?"
Vian mendengkus, bisa-bisanya mereka disuruh ke sini hanya untuk mengolah singkong dan ubi, namun mereka juga tetap merebusnya.
Naya memasukkan sebagian singkok dan ubi yang sudah direbus itu ke dalam kotak makan.
"Ko dimasukin?"
"Buat Nuna, Nania, Aruna dan Kirei."
"Owh."
Tiba-tiba saja Erlang dan yang lain langsung mendapat ide. Idenya pria bucin. Mereka berniat membeli unit di apartemen Naya dan yang lain. Erlang memang ingin tinggal dekat Naya, agar wanita itu tidak kelelahan bolak-balik ke apartemen mereka jika Naya ingin bertemu dengan Chiro.
🌿🌿🌿
Malam tahun baru, seharusnya Naya bisa berkumpul bersama dengan sahabat, Chiro atau dengan keluarganya. Namun dokter itu harus pergi ke klinik pagi-pagi sekali, karena ada keracunan masal.
Yang lain, meskipun tidak bisa pergi ke klinik karena juga punya tanggung jawab di rumah sakit kota, bukan berarti mereka bisa berleha-leha dan bisa pulang cepat.
"Mommy, Ecan ingin melewatkan malam tahun baru dengan Mommy."
"Mommy usahakan pulang cepat, ya."
"Mommy janji ya, akan pulang cepat dan jalan-jalan dengan Ecan."
"Iya, Ecan jangan nangis, ya."
Chiro memeluk Naya dengan sangat erat.
"Mommy harus pulang, ingat ada Ecan yang menunggu kepulangan mommy."
Entah kenapa Chiro sangat ingin Naya bersama dengannya seharian ini. Memang ini adalah malam tahun baru pertama Naya di Jakarta, malam tahun sebelumnya mereka ada di dua benua yang berbeda.
Sesampainya di klinik, halaman sudah dipenuhi oleh keluarga korban, polisi, pak RT, RW, lurah juga wartawan.
Sudah ada beberapa dokter yang melakukan pertolongan pertama.
__ADS_1