
Di bab sebelumnya, typo bertebaran ya, tapi sudah aku revisi, semoga gak ada typo lagiš
ā¤Happy readingā¤
.
.
.
Naya sudah kembali ke London, sedangkan Erlang dan Chiro tetap berada di Jakarta karena pekerjaannya yang belum selesai.
Naya mendengarkan penjelasan dokter Hendrick dengan seksama. Profesor sekaligus guru besarnya itu menjelaskan berbagai hal.
"Harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter saraf dan dokter bedah. Selain itu, pasokan darah yang sesuai juga harus tersedia, jika sewaktu-waktu dibutuhkan tranfusi darah saat operasi berlangsung."
"Untuk kasus seperti itu, kemungkinan operasi berhasil, berapa persen, Prof?"
"Karena di bagian yang sangat vital, kemungkinan hanya dua puluh hingga tiga puluh persen. Jika operasi sukses, masih ada kemungkinan efek sampingnya."
"Apa saja, Prof?"
"Amnesia, kebutaan, kelumpuhan, daya tahan tubuh yang melemah, dan sebagainya."
Naya mengangguk paham.
"Tapi apapun bisa terjadi, terutama mukjizat dari Yang Maha Kuasa."
Di dalam ruangannya, setelah berdiskusi dengan dokter Hendrick, Naya mempelajari beberapa kasus pembedahan, baik yang sukses maupun yang gagal.
.
.
.
"Keluhannya apa, Tuan?"
Pasien itu mengatakan keluhannya.
"Apa Anda mengkonsumsi obat lain?"
"Tidak, Dok."
__ADS_1
"Apa ada alergi obat atau makanan?"
"Tidak, Dok."
"Jangan sampai kelelahan, ya. Usahakan terkena sinar matahari pagi, karena itu bagus untuk tulang."
"Jika sakit masih berlanjut, sebaiknya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, juga cek darah."
Naya lalu memberikan resep obat dan meminta pasien tersebut menebusnya di apotek.
.
.
.
Waktu berlalu dengan tenang, tanpa ada kendala dalam pekerjaan. Namun, air tenang itu menghanyutkan. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja Naya dilaporkan ke polisi dan dilaporkan oleh seseorang atas tuduhan malpraktik.
Naya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Tidak hanya memakan waktu lima sepuluh menit, namun pemeriksaan ini membutuhkan waktu berjam-jam.
Monic yang ada di tempat lain, begitu mendengar kabar ini langsung bergegas pergi ke kepolisian. Pihak rumah sakit juga tak tinggal diam, mereka pun membahas masalah ini dalam rapat.
Memang bukan orang berpengaruh yang melaporkan Naya, namun dia, dengan kekuatan sosial media, mengunggah keluhannya dan menyebut dokter Freya Canaya telah melakukan malpraktik kepadanya hingga menyebabkan kerugian, baik fisik maupun tekanan batin.
Izin praktek Naya dicabut sementara, membuat perempuan beranak satu itu mengalami tekanan.
Berita itu tersebar di berbagai media online dan televisi. Mico, yang berprofesi sebagai pengacara langsung membantu Naya untuk menyelesaikan masalahnya.
Berita itu juga akhirnya diketahui oleh Erlang dan keluarga besar Naya.
"Tuan, nanti ada rapat dengan investor ...."
"Peduli setan dengan rapat! Cepat urus keberangkatan kami ke London."
Evan dan Jasmine belum pernah melihat Erlang semarah ini.
Dengan tangan mengepal, Erlang langsung terbang ke London bersama Chiro, kedua orang tuanya, juga kedua orang tua, dan kakak adik Naya.
Di London, Monic, Letta, Zilda, Kirei, Mico dan Marcell terus memberikan dukungan, begitu juga dengan para dokter senior dan profesor-profesornya. Namun yang tidak menyukai Naya diam-diam merasa senang akan musibah yang melanda dokter cantik itu.
Wartawan mulai mencari tahu siapa itu dokter Freya Canaya. Kemampuan dokter yang menjadi lulusan terbaik di universitas itu diragukan, apalagi dia masih sangat muda dengan jam terbang yang belum ada apa-apanya, ditambah dia adalah orang asing di negara tersebut, dengan latar belakang keluarga yang tidak diketahui secara jelas, padahal itu memang karena Naya menyembunyikan identitas aslinya.
Pro kontra didapat oleh Naya. Mico, dengan dibantu oleh rekan-rekannya mencari tahu tentang riwayat penyakit orang itu. Karena memang tidak mudah mendapatkan riwayat penyakit pasien, karena seorang dokter telah melakukan sumpah jabatan untuk tidak membocorkan riwayat penyakit pasien kecuali untuk keperluan penyeledikan kepolisian.
__ADS_1
Malpraktik merupakan kesalahan dalam pelaksanan sebuah pekerjaan sehingga mengakibatkanĀ cederaĀ atau kerusakan.
Malpraktik dapat terjadi di dalam profesi pekerjaan apapun, salah satunya dalam bidang kedokteran.
Garis besarnya, malpraktik berarti kesalahan atau kelalaian.
Dalam dunia medis, malpraktik didefinisikan sebagai kelalaian seorang dokter dalam melaksanakan kewajiban profesionalnya. Dalam malpraktik medis, terdapat dua jenis malpraktik, yaitu malpraktik etik dan mapraktik yuridis.
Malpraktik etik merupakan tindakan bertentangan dengan etika profesi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Malpraktik yuridis merupakan malpraktik yang berhubungan dengan hukum formil, misalnya malpraktik pidana, perdata dan administratif. Seorang dokter dikatakan melakukan malpraktik apabila menyebabkan kematian atau luka pada pasien dalam bentuk apapun.
Pembuktikan dari tindakan malpraktik seorang dokter melalui unsur perbuatan yang salah karena kurang hati-hati sehingga menyebabkan pasien yang ditangani meninggal dunia atau luka berat hingga sedang. Namun, tidak semua hasil pengobatan yang tidak sejalan dengan harapan pasien merupakan bentuk malpraktik. Kondisi ini berkaca dari kejadian semacam itu juga merupakan bagian risiko tindakan medis. Sebab, ketepatan diagnosis ditentukan oleh banyak faktor. Kadang-kadang faktor-faktor tersebut berada di luar kekuasaan dokter.
Malpraktik medis memiliki beragam bentuk. Bentuk-bentuk kelalalianĀ medisĀ yang bisa berujung pada tuntutan hukum antara lain salah mendiagnosis, salah membaca atau mengabaikan hasil laboraturium, melakukan operasi tidak sesuai dengan yang seharusnya, kesalahan bedah atau operasi, dan memberikan dosis obat yang tidak sesuai.
Bisa juga melakukan kesalahan saat melakukan operasi seperti meninggalkan kasa di dalam tubuh pasien sebelum kembali dijahit, melakukan kesalahan saat menyuntik atau memasang jarum infus dan sebagainya.
"Aku bisa menjamin kalau aku tidak melakukan kesalahan, semua sudah sesuai dengan pemeriksaan."
Naya memijat kepalanya yang berdenyut sangat sakit.
"Kamu tenang, Ya. Aku akan membuktikan kalau kamu tidak bersalah, dan akan menuntut balik orang itu atas tuduhan pencemaran nama baik."
Pintu terbuka dengan keras.
"Mommy," Chiro langsung memeluk Naya.
Erlang merasa geram melihat Mico yang mengusap kepala Naya, namun sebisa mungkin dia menahan emosinya, karena bukan saat yang tepat dia menunjukkan kecemburuannya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ami pada putri tengahnya itu.
"Ya." Naya berkata pelan.
"Aku mau istirahat dulu," Naya langsung masuk ke kamarnha dan mengunci pintu. Diminumnya obat lalu tidak lama kemudian dia tidur karena efek obat.
"Kenapa tidak ada yang memberi tahuku akan masalah ini?" Erlang bertanya dengan marah.
"Boro-boro mau ngasih tahu kamu, kami saja sampai kurang tidur dan lupa makan. Bahkan pihak rumah sakit kualahan menghadapi wartawan."
"Kami tidak tahu kenapa masalah ini bisa sebesar ini. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, tapi seolah Naya sudah ditetapkan sebagai tersangka."
Erlang memandang wajah mereka satu persatu. Terdapat guratan hitam di sekitar mata mereka, membuatnya menghela nafas dan tak lagi ingin menyalurkan kemarahannya.
__ADS_1