
Selepas mengantar Freya ke rumah sakit untuk check up, Arby mengajak jalan-jalan Freya dan Chiro ke mall. Begitu turun dari mobil, Arby langsung menggendong Chiro, dan sebelah tangannya menggandeng Freya.
"Ngapain sih pegang-pegang?"
"Truk aja gandengan, masa kita enggak?"
"Kita ke mana dulu?"
"Terserah kamu."
"Benar, terserah aku?"
"Iya."
"Ya sudah, ayo kita ke penghulu."
Freya yang mendengarnya langsung merona, dia jadi salting sendiri.
"Ish, ngapain sih ke penghulu?"
"Jangan-jangan kamu langsung mau ke kamar pengantin?"
Freya langsung melepaskan genggaman tangan Arby dan berjalan duluan.
Apa iya, pria mesum ini mantan suamiku?
Arby langsung menyusul Freya dengan senyum yang mengembang.
Ish, gemes deh. Awalnya malu-malu meong, nanti sekalinya brojol langsung banyak, nih.
Arby cekikikan sendiri, membuat Chiro yang ada dalam gendongannya langsung minta turun.
"Kenapa, Chiro?"
"Takut ketempelan daddy."
Dikiranya aku makhluk halus?
Mereka memilih untuk makan terlebih dahulu. Ini untuk yang pertama kalinya mereka tampil di depan umum bersama, selain di rumah sakit sejak konferensi pers dulu.
Freya yang memang tak ingat apa-apa, cuek saja saat orang-orang memperhatikan dia, Chiro dan Arby.
Mereka makan dengan nikmat, sesekali tertawa mendengar celotehan Chiro.
"Selamat siang."
Seorang perempuan cantik menghampiri mereka, dia adalah Clara.
"Maaf, saya hanya ingin menyapa saja. Silahkan lanjutkan makan siang tuan dan nona."
"Dia siapa?" tanya Freya setelah Clara pergi.
"Dia ambassador di perusahaanku."
"Oya, setelah dari sini, bisa enggak lewat depan sekolah kita. Aku ingin tahu dulu sekolah di mana."
"Oke."
Mereka memutari seluruh mall, mengajak Chiro bermain di timezone, juga berbelanja.
"Kamu enggak mau beli pakaian dalam? Kalau kamu bingung nanti aku saja yang pilihin."
Dengan entengnya sang duda mengatakan hal itu pada sang janda.
"Apa kita beli pakaian dalam yang kembaran aja?"
Arby langsung menarik tangan Freya menuju pakaian dalam. Wajah Freya kini benar-benar merah dengan hawa panas dan kepala pening.
Di hadapannya kini terpampang nyata pakaian dalam kembar untuk pria dan wanita. Jadilah mereka tarik-tarikan. Lagi-lagi Freya langsung kabur, meninggalkan Arby yang sudah menahan tawa.
__ADS_1
Dia kira aku enggak malu, apa?
"Daddy enggak jadi beli? Itu ada yang warna pink untuk Daddy," ucap Chiro polos.
Jika tadi wajah Freya yang merona, kini gantian wajah Arby yang memerah. Arby mengerucutkan bibirnya sambil melirik pakaian dalam sepaket yang berwarna pink itu.
Orang-orang menahan tawa, melihat wajah tampan itu diledek oleh anaknya sendiri.
Terlanjur basah, ya sudah nyebur aja sekalian. Arby langsung mengambil berbagai model pakaian dalam. Yang modelnya macam-macam tentu saja yang untuk perempuan, sedangkan yang untuk laki-laki modelnya ya begitu-begitu saja, yang penting warnanya sama.
Freya menunggu Arby dan Chiro cukup lama, begitu mereka keluar, dilihatnya pria itu menenteng banyak kantong belanjaan.
Arby memeluk pinggang Freya dengan erat.
"Jangan meluk terus."
"Nanti kamu hilang."
"Hilang gimana, cuma di dalam mall, kok."
Begitu juga naik turun eskalator, tangan lincah itu tak berhenti menggandeng Freya.
"Nanti kamu jatuh."
Sebenarnya bukan hanya modus, tapi memang kini Arby lebih over protective terhadap Freya, begitu nuga dengan para keluarga dan sahabat-sahabatnya. Freya yang kecelakaan, tapi mereka yang merasakan trauma mendalam.
Kini Kirei, Nania, Aruna, Vian, Marcell dan Mico tahu bagaimana perasaan Arby, Nuna, Ikmal dan keluarga Freya yang dilupakan oleh wanita itu. Mereka saja yang dilupakan sekali merasa sedih, apalagi yang dilupakan untuk yang kedua kalinya?
.
.
.
Mereka kini melewati depan sekolah Freya.
"Itu sekolahan kita dulu."
"Oya, kita ke kantorku dulu ya. Ada berkas yang harus aku urus."
"Kakau kamu sibuk, aku bisa pulang berdua sama Chiro naik taksi."
"Jangan, hanya sebentar saja di kantorku."
Lima belas menit kemudian mereka tiba di perusahaan Arby.
Saat turun dari mobil, mereka bertiga kembali menjadi ousat perhatian.
"Itu mantan istrinya cantik banget, ya."
"Sudah pisah atau masih sama-sama, sih?"
"Kelihatan akur, rujuk lagi, kali."
Mereka memasuki lift menuju lantai sepuluh.
"Apa, msu bilang takut hilang, lagi?"
Arby cengengesan mendengar perkataan Freya yang terdengar kesal tapi menggemaskan.
Jadi pengen nyium, mumpung lagi sepi. Kena tabok enggak, ya? Bibirku sudah lama enggak mendapat asupan vitamin C.
Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Arby tidak menyadari kalau mereka kini telah tiba di lantai sepuluh.
Loh, kok sudah sampai? Kebanyakan mikir gini, nih.
Kedatangan mereka disambut oleh Jasmine dan Evan. Freya dapat melihat tatapan mata Jasmine yang menyukai Arby, begitu juga dengan wanita yang bernama Clara tadi.
Pria mesum ini ternyata banyak yang suka. Apa dia juga mesum ke wanita lain?
__ADS_1
"Tolong siapkan cemilan dan minuman."
"Baik, Tuan."
Freya melihat ruangan kerja Arby yang mewah. Miniatur yang bertuliskan FJ.
Pintu diketuk dan Arby menyuruh orang itu masuk.
"Silahkan dinikmati Nona, Tuan Muda Chiro."
"Terima kasih," jawab Freya dengan tersenyum. Jasmine yang melihat senyum Freya, kembali merasa minder.
Apalah aku yang hanya seorang sekretaris.
Chiro yang mulai mengantuk, memilih tidur di ruang pribadi Arby.
Arby melihat salah satu cemilan yang terlihat pedas. Dia lalu memakan kue itu, dan tak lama kemudian berteriak.
"Aaaa ... Frey, pedas, pedas."
Freya yang duduk di sebelah Arby jadi ikut heboh.
"Tolongin, Frey."
"Nih, minum."
Arby langsung menekan tengkuk Freya dan mencium bibir itu.
"Eh, kok jadi manis, sih? Coba lagi, kali aja aku salah rasa."
"Aaa ... dasar duda mesum!"
Freya lansung menerjang Arby yang terbaring di atas sofa empuk itu.
Freya menarik-narik kemeja Arby hingga dadinya awur-awuran dan kancingnya lepas.
"Aauuu ...."
"Aaaahhhh ...."
"Ssshhh ...."
Berkali-kali Arby mengeluarkan suara yang sulit dijabarkan oleh Freya.
"Aaaa ... kenapa kamu mendesah seperti itu."
Freya semakin kuat menarik kemeja Arby yang masih berbaring, bahkan kulit dadanya ikutnya ketarik.
"Aaaa, pelan-pelan, Frey. Ini ada yang bangun. Tuh kan, tuh kan, tambah tegang. Enggak cukup pakai sabun ini, mah."
Cekrek
Pintu terbuka, nampaklah lima pria dewasa yang langsung syok melihat kejadian di dalam.
Freya langsung bangun dari tubuh Arby dengan wajah yang dari merah langsung ke putih.
Sedangkan Arby masih mengatur nafasnya, lalu berdiri dengan rambut berantakan, dasi longar, kancing baju lepas, seperti orang yang habis dinodai.
Bukannya bersyukur dengan kehadiran mereka, Arby lalu menucapkan kalimat tanpa suara.
"Ganggu aja."
"Awas kalau mesum lagi!" ucap Freya.
"Yang mesum kan kamu, mereka jadi saksinya. Lihat nih, rambutku berantakan, bajuku sobek, dasiku lepas. Yang paling mengenaskan, Arjun jadi protes."
"Arjun? Siapa Arjun?" tanya Freya
"Nih, yang kamu bikin tegang."
__ADS_1
Arby menunjuk juniornya yang terlihat membesar di balik celana panjangnya, membuat Freya frustasi akan kemesuman pria itu, sedangkan kelima pria yang ada di depan pintu, yaitu Ikmal, Marcell, Vian, Marva dan Evan hanya bisa mengelus dada.
Semoga Chiro saat besar nanti tak seperti ini, batin mereka serempak.