
Freya diam-diam berkonsultasi dengan dokter kandungan.
"Tidak ada masalah apa-apa di rahim kamu, Freya. Kamu tenang saja, ya."
"Yakin?"
"Iya."
"Jangan bohongi aku."
"Ya ampun, aku ini dokter, loh. Mana mungkin aku bohong dengan pasien aku sendiri, apalagi dia juga teman aku."
Freya menghela nafas.
"Aku sudah mengurangi banyak pekerjaan aku, kenapa belum hamil juga?"
"Memang belum waktunya. Kamu kan menikah juga baru beberapa bulan. Bulan madu, sana. Kali saja nanti bisa dapat bayi lucu."
Bulan madu?
Enggak, bisa gempor nanti dia gara-gara Arby.
"Jangan cerita sama siapa-siapa kalau aku konsultasi kehamilan padamu, apalagi sama Arby."
"Jadi Arby enggak tahu?"
"Enggak. Kalau tahu, pasti dia ada di sini sekarang."
__ADS_1
"Bicarakan dengan Arby, biar dapat solusinya."
"Ish, solusi dari Arby paling lembur tiap malam, biar cepat dapat dedek bayi. Solusi yang benar-benar menguntungkan dirinya."
Mereka tertawa, sementara di tempat lain, Arby sedang garuk-garuk kuping.
"Pasti ini ada perempuan yang sedang membicarakan pesona aku. Maaf saja, aku ini milik bebeb Freya, ya. Jadi kangen!"
Di dalam rapat itu, Arby senyum-senyum sendiri, lalu manyun.
Mereka menatap heran dengan sikap bos ganteng mereka itu. Sejak menikah lagi dengan Freya, sikap Arby jadi aneh. Suka senyum-senyum sendiri.
Evan sampai geleng-geleng kepala. Tapi ini jauh lebih baik, dari pada Arby Erlangga yang dulu.
Sekarang Arby juga tidak keberatan dipanggil Arby lagi oleh orang lain, karena separuh jiwanya sudah kembali ke dirinya.
"Anton?"
"Anak kamu ada berapa?"
"Empat, Tuan."
"Sudah berapa lama kamu menikah?"
"Sepuluh tahun, Tuan."
Mereka yang ada di dalam ruangan itu saling lirik, mendengar pertanyaan Arby yang di luar jalur itu.
__ADS_1
"Kalau tahun ini bebeb Freya hamil, aku makan menaikkan gaji kalian."
"Aamiin," jawab mereka serempak.
Nah, itu yang Arby butuhkan, aamiin yang banyak, biar segera dikabulkan. Bukannya dia yang ngebet mau punya anak lagi, tapi dia tidak mau Freya yang jadi murung. Tadi orang suruhannya memberi kabar, kalau Freya ke dokter kandungan.
Sejak kecelakaan dulu, Arby sudah menyuruh orang untuk menjaga Freya dari jarak jauh. Dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi. Dia juga tahu, tidak bisa menjaga Freya selama dua puluh empat jam setiap hari.
Bahkan kalau bisa, Arby akan mengikuti Freya ke kamar mandi.
Nah, yang ini sih memang maunya dia.
Arby juga rutin menyantuni anak yatim dan anak-anak terlantar diam-diam. Ini juga sebagai tanda syukurnya akan kebahagiaan dia dan Chiro yang bisa bersama Freya lagi.
"Anak kamu laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki dan perempuan, Tuan."
"Daya juga mau punya ank perempuan. Pasti sangat cantik, katena memiliki mommy yang cantik dan daddy yang ganteng."
Evan menunduk, menahan tawa akan kenarsisan atasannya ini.
"Tugas aku akan semakin besar, karena harus menjaga Freya dan baby perempuan kami. Karena pasti banyak yang ingin menjodohkan anak mereka dengan anak kami."
Mereka diam mendengarkan curhatan bos mereka itu.
"Kenapa kalian diam, cepat lanjutkan rapatnya. Anton, selesaikan presentasi kamu, kenapa malah bengong!"
__ADS_1
Inilah hal yang menyebalkan dari bos. Bos yang salah, anak buah yang disalahkan.
Tapi dalam hati, mereka tetap berdoa agar penerus keluarga Abraham dan Zanuar segera datang, agar mereka bisa naik gaji.