Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
62 Kejujuran Chiro


__ADS_3

Mereka sudah kembali ke aktifitas masing-masing. Arby kembali dalam keadaan hampa. Freya juga akan disibukkan dengan oekerjaan barunya yang ingin mendirikan perusahaan farmasi dan alat kesehatan.


.


.


.


"Kamu sama Freya sebenarnya kenapa, sih?" tanya Ikmal.


"Bukan aku, tapi Freya. Sikapnya sekarang berbeda."


Mico sendiri yang memang melihat ada yang berbeda dengan Freya sebelum mereka liburan bersama, belum mendengar cerita dari perempuan itu.


Mereka kini berada di salah satu restoran untuk merayakan proyek baru Vian yang berjalan dengan lancar. Ada Chiro, Mico, Jasmine dan Evan juga di sana kecuali Freya yang belum datang. Bahkan Nuna Nania, Kirei dan Marva juga ada di sana.


"Mungkin mommy lagi bingung, Daddy."


Arby tak bertanya lebih jauh, bisa-bisa jawaban putranya sama seperti dulu, kan mungkin.


"Bingung kenapa, Chiro?" tanya Ikmal.


"Bingung harus menikah dengan uncle Ikmal, Mico atau Evan."


Seketika ketiga pria itu terbatuk.


"Kenapa Chiro bisa bicara begitu?"


"Soalnya Chiro bilang sama mommy, kalau dulu oma mau menjodohkan daddy dengan aunty Jasmine. Jadi Chiro bilanh, mommy menikah saja dengan uncle Mico, Ikmal atau Evan, terus nanti mommy dan daddy bisa balapan siapa yang lebih dulu memberikan Chiro adik."


Kini Arby dan Jasmine yang terbatuk.


Mereka meringis mendengarnya, bahkan Mico yang biasanya akan tertawa mengejek, kini menatap iba Arby.


Arby menghela nafas panjang dan menyadarkan badannya di sofa.


"Sabar, Ar!" Nuna menepuk pelan punggung Arby, merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Rasanya Arby ingin marah, tapi marah pada siapa? Chiro? Mengapa perkataan mommynya dulu yang ingin menjodohkan dia dengan Jasmine kini menjadi boomerang baginya? Padahal dia sama sekali tak oernah menanggapi keinginan mommynya itu.


"Apa Freya cemburu?"


"Aku rasa tidak, tapi dia merasa dipermainkan mentang-mentang amnesia."


"Sepertinya begitu."


Mereka malah berdiskusi tanpa mihat Arby, sedangkan Jasmine merasa tak enak hati. Arby mengusap wajahnya frustasi, Freya pasti sudah salah paham padanya dan menganggap dirinya duda playboy.


Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan wajah Freya.


"Maaf terlambat, aku baru selesai syuting."

__ADS_1


Freya bisa merasakan suasana yang terasa canggung. Dilihatnya Jasmine yang melirik-lirik padanya.


"Aku sudah pesankan makanan untukmu, Ya."


"Syukur, deh. Aku sudah lapar banget."


Lima menit berikutnya pelayan datang membawa makanan yang dipesan.


"Ya, tadi Arby, Jasmine dan Evan habis meeting dengan klien, jadi ...."


"Bukan urusanku!" jawab Freya ketus. Ikmal tak melanjutkan penjelasannya, sedangkan Freya benar-benar terlihat masa bodo. Freya benar-benar tak melihat keberadaan Arby dan Jasmine. Sebenarnya Freya yang merasa tak enak dengan Jasmine, apalagi pertemuan Freya dengan Arby di kantor saat itu dengan keadaan Freya yang keluar dengan gugup dan wajah merah, sedangkan penampilan Arby sendiri acak-acakan. Dia tidak ingin orang-orang berpikir, terutama Jasmine, bahwa dirinya menggoda dan tak bisa move on dari mantan suaminya itu.


Walau dirinya memang sempat diam saja saat Arby menciumnya saat itu, dia jadi merasa bersalah pada Jasmine.


"Mommy, jadi dengan siapa Mommy akan menikah, uncle Mico, Ikmal atau Evan?"


Sekarang jatahnya Freya yang tersedak. Ditodong pertanyaan seperti itu di depan orang-orang membuat Freya malu. Tanpa sadar, Freya menatap ketiga yang dianggap Chiro sebagai kandidat daddy barunya.


Dia merasa dekat dengan Ikmal dan Mico, namun merasa tak begitu mengenal Evan.


"Mungkin kalau bukan dengan uncle Mico, ya uncle Ikmal."


Hahaha ....


Mico langsung tertawa dan menepuk lengan Freya.


"Sudah, jangan ada yang dimasukkan ke dalam hati, diambil santai saja!" lanjutnya.


Betapa sulit meluluhkan hatinya. Aku seperti harus meruntuhkan gunung es dan mencairkan Kutub Utara. Chiro, mengapa kamu harus mengatakan semua itu pada Mommy?


💕💕💕


Arby menatap Freya yang terlihat sangat cantik hari ini.


"Setelah ini kamu mau ke mana?"


"Aku mau jalan sama Mico."


Arby mendengkus, dandan cantik-cantik hanya untuk jalan dengan Mico?


Freya yang merasa Arby memang menjaga jaraknya dengannya, merasa lega tapi juga aneh, namun dia tak ingin ambil pusing.


"Ya udah, untuk kelanjutannya biar para asisten saja yang mengurusnya," ucap Freya menyudahi pertemuannya dengan Arby. Sebenarnya Arby sudah bilang agar tak terlalu formal dalam hubungan kerja sama dua keluarga ini, karena pada dasarnya hubungan mereka memang tak akan terputus begitu saja karena ada Chiro sebagai cucu dari dua keluarga besar itu. Namun Freya tetaplah Freya, perempuan perfeksionis dalam segala hal. Meski dirinya hilang ingatan, namun tak mengubah karakter dasarnya.


.


.


.

__ADS_1


Berkat kerja keras Mico, semua surat perizinan telah selesai dengan cepat. Langkah selanjutnya adalah pembuatan pabrik yang memang sudah dimulai.


"Ingat, jangan terlalu lelah."


"Iya, aku tahu."


"Apa kamu suka sakit kepala?"


"Tidak. Kenapa orang-orang sering sekali bertanya dengan pertanyaan yang sama?"


"Itu karena kami khawatir."


Tentu saja Freya mengerti itu, dia hanya tidak ingin orang-orang selalu mengkhawatirkan dirinya.


"Oya, kalau kamu punya masalah, kamu bisa menceritakannya padaku."


"Iya, tenang saja dan ja gan khawatir, oke?"


"Kamu kelihatan semangat sekali."


"Tentu saja, aku merasa ini adalah impianku, menjadi dokter spesialis bedah dan pengusaha. Hanya saja, aku bingung kenapa aku juga mengambil spesialis kejiwaan? Lalu, saat aku membantu papa di perusahaannha, aku benar-benar menikmatinya dan merasa tak ada beban."


Tentu saja Mico sangat tahu itu, dulu saat dalam masa-masa labil, mereka selalu menceritakan impian mereka dan berjanji akan mewujudkannya.


Bandel boleh, tapi harus pintar dan tak lupa untuk sukses.


Itulah dulu yang selalu mereka katakan. Sama-sama menjadi pecandu, namun bisa sama-sama sukses.


Anggap saja masa kelam itu menjadikan mereka seperti saat ini. Bersakit-sakit dahulu, sukses kemudian.


"Kenapa bengong?" tanya Freya saat melihat wajah Mico yang tampak menerawang jauh.


"Aku hanya sedang mengenang masa-masa sekolah."


Freya meringis, merasa iri pada Mico, karena ada hal yang bisa Mico dan yang lain kenang akan masa-masa yang kata orang, merupakan masa-masa yang paling indah.


Sedangkan dia? Tak bisa mengingat apapun.


"Jangan berpikir terlalu banyak, karena kita harus melangkah maju. Yang lalu biarlah berlalu."


💕💕💕


Chiro melihat daddynya yang terlihat murung, apalagi sejak makan makan malam bersama kemarin.


Chiro mendekati dirinya dan membisikkan sesuatu, membuat Arby mengangguk.


"Ya sudah, sekarang Chiro bobo ya. Jangan lupa berdoa."


Ya Allah, semoga mommy dan daddy kembali bersama. Chiro enggak mau melihat mommy dan daddy bersedih. Hm, Chiro punya rahasia ... sebenarnya Chiro enggak mau punya mommy baru, Chiro juga enggak mau punya daddy baru. Bagi Chiro, daddy Chiro hanya daddy Arby, dan mommy Chiro hanya mommy Freya, tak ada yang bisa menggantikan posisi mereka di hati Chiro. Tolong satukan mereka, agar daddy dapat bahagia dan mommy ada yang menjaga. Chiro sayang daddy, Chiro juga sayang mommy.

__ADS_1


__ADS_2