Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
130 Dimarahi


__ADS_3

Freya merasa bosan, hari ini adalah hari kerja, jadi semua orang sedang bekerja. Arby sendiri juga tadi harus pergi meeting dengan rekan bisnis dari Korea.


Freya melihat lukisan yang, setelah dia perhatikan dengan baik, adalah lukisan yang dilukis oleh Chiro. Freya membenarkan lukisan itu, yang ukurannya cukup besar. Lukisan itu bergeser, dan terlihat pintu besi yang menggunakan kode.


Freya diam sebentar, yang kemudian menekan beberapa nomor, dan pintu itu langsung terbuka.


Ck, pria bucin itu ... kalau mau pasang kode rahasia, yang susahan, kek. Ini kenapa malah pakai tanggal ulang tahun aku?


Freya lalu masuk ke dalam ruangan itu. Ada banyak lemari, juga ada sofa dan kasur, meja, dan kulkas.


Freya membuka satu lemari, yang juga memakai kode ulang tahunnya.


Bisa kaya mendadak aku, kalau nyuri di rumah orang yang seperti ini.


Mata Freya terbuka lebar, melihat yang di dalamnya bukan benda berharga seperti emas batangan, atau perhiasan seperti yang dia kira sebelumnya. Itu karena Arby pemilik perusahaan perhiasan terkenal, yang dia rintis sejak masih kecil.


Perlengkapan bayi semua? Jangan-jangan dia pedofil? Ya ampun, jangan-jangan ini punya anak dari hasil selingkuhan?


Freya mendengkus melihat hasil kejahatan Arby. Dikeluarkannya barang-barang itu dari semua lemari.

__ADS_1


Semua barang dia periksa, sampai akhir ya dia melihat album foto. Foto Chiro saat masih bayi bersama Arby.


Freya akhirnya terhanyut dalam ruangan itu, tidak ingat dengan dunia luar.


Arby yang sedang meeting, merasa gelisah. Dia merindukan istrinya itu, juga calon anaknya. Biasanya di jam segini, dia akan memotongkan buah, mengelus perut Freya yang masih rata, cium-cium bibirnya sampai kena tabok karena Freya kesal bibirnya jadi jontos.


Arby sudah menyiapkan beberapa cemilan sehat yang dia buat sendiri untuk Freya makan. Tanpa dia tahu, Freya di dalam kamar pribadi rahasianya sedang ngemil kripik kentang kemasan dan sirop yang ada di dalam kulkas ruangan itu.


Menjelang siang dia pulang. Dia menyuruh Evan yang mengantarnya, sama seperti dia tadi dijemput. Karena Arby sibuk, jadi tidak bisa menyetir sendiri.


Sibuk apa?


Sibuk melamunkan Freya. Pengen noel-noel pipinya.


"Sayangku, suami gantengmu pulang."


Tidak ada sahutan pasti istrinya lagi di kamar. Di kamar kosong, di kamar mandi juga begitu. Dia lalu pergi ke dapur, mungkin saja istrinya itu sedang menggeledah isi dapur, mencari kesempatan saat Arby tidak ada.


Arby mulai panik, di mana-mana istrinya imutnya itu tidak ada.

__ADS_1


"Sayang?"


"Honey?"


"Bi, Bibi lihat istri saya?"


"Tadi saya lihat lagi di halaman depan, Tuan."


Arby langsung menyuruh semua orang yang ada di rumah itu mencari Freya, tapi tidak ketemu.


Diteleponnya nomor Freya, tapi ponsel itu ada di kamarnya.


Dia lalu menghubungi keluarga dan sahabat-sahabat Freya, bukan hanya rasa panik yang sahabatnya berikan, tapi juga Arby dimarahi.


"Apa lagi yang kamu lakukan pada Freya? Sampai dia kabur lagi dari kamu, hah?" tanya Nuna dengan emosi


"Pria tampan mana yang sudah berhasil memikat hati Freya?" tanya Nania dengan santai.


"Apa selama ini kamu kurang perhatian? Ingat Arby, Freya itu lagi hamil, butuh perhatian dari kamu!" tuduh Aruna.

__ADS_1


Kurang perhatian apa lagi aku? Apa aku kurang ronde? Berapa ronde sih, yang Freya butuhkan?


"Arby, jangan kamu duakan wanita hamil. Hatinya sangat sensitif, aku tahu itu. Apa kamu tahu bagaimana rasanya hamil tanpa perhatian yang tulus dari keluarga? bla bla bla ...." Si kalem Rei pun ikut berkomentar panjang.


__ADS_2