
Arby gelisah terus sejak tadi. Rasanya dia ingin terus berada di dekat istri cantiknya. Tidak mau jauh-jauh dari Freya walau hanya sedetik saja. Pria itu terus saja menghela nafas berat dan kuat, membuat Steve dan Didi yang ada di dekatnya jadi ikut-ikutan gelisah.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Ya, tidak ...."
Arby sendiri tidak yakin dengan perasaannya.
"Ayo, ikut aku pulang."
Ketiga orang itu mengikuti langkah Arby yang terburu-buru.
"Cepat!" perintah Arby.
Pria itu menarik dasinya hingga lepas, jasnya juga sudah dia letakkan di sebelahnya. Arby mengambil ponselnya yang ada di saku celana, dan menghubungi istrinya.
Tidak diangkat.
Di rumah, Freya sedang membuat kue untuk anak-anaknya yang ingin makan donat dengan taburan gula halus.
"Mau Mommy, mau."
"Belum jadi, Sayang."
__ADS_1
Ichi dan Ishi melihat ada terigu di atas meja, yang mereka kira adalah gula halus. Anak-anak itu lalu mengambil tepung itu tanpa sepengetahuan Freya.
Mengambil mentega dan roti tawar. Mereka ingin memakan roti dulu sambil menunggu donat itu matang.
"Gak enak."
Ishi lalu melepehkan makanan itu dari mulutnya, menyenggol tepung hingga berantakan di lantai.
"Chiro Sayang, ini sudah ada yang jadi, kamu kasih adik-adik. Bawa mereka ke ruang TV, ya."
"Iya, Mom."
Freya membuat banyak kue saat itu. Dia tahu Sachi, Ichi dan Ishi sangat suka dengan donat. Bukan hanya dengan taburan gula halus saja, mereka juga sangat suka dengan topping coklat dan kacang.
Freya juga tidak lupa membaurkan martabak manis untuk Arby, yang tidak terlalu manis. Perempuan itu memang mengurangi aktivitas dia di laut rumah, karena Arby tidak mau doa sampai kelelahan. Pekerjaan dia diurus oleh orang-orang kepercayaannya yang tentu saja sudah terjamin kejujuran mereka.
"Abang, mau lagi."
Sachi, Ichi, dan Ishi langsung berlarian ke dapur, yang dikejar oleh Chiro.
Arby menghela nafas berkali-kali, merasa tidak sabar untuk segera tiba di rumah. Padahal Didi sudah berusaha mengemudikan mobil lebih cepat, tapi tetap saja terasa lambat.
Arby turun dari mobil, dan dia mendengar suara teriakan dan tangis anak-anaknya, yang baginya terasa menyakitkan. Pria itu langsung berlari masuk.
__ADS_1
"Yang? Anak-anak?"
"Daddy! Mommy!"
"Freya!"
Lutut Arby rasanya lemas seketika saat melihat istrinya yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"Steve, ayo ke rumah sakit!" teriak Arby sambil menggendong Freya.
Didi yang melihat keadaan tidak baik, langsung mengambil salah satu kunci mobil dan memasukkan si kembar ke mobil, sedangkan Chiro menggandeng Sachi.
"Om, pinjam ponsel!"
Didi langsung memberikan ponselnya pada Chiro, dan anak itu segera menghubungi uncle dan aunty-nya yang ada di rumah sakit. Juga tidak lupa menghubungi opa oma mereka.
Mereka tiba di loby UGD, dokter dan perawat sudah menunggu dan segera membawa Freya ke UGD.
Lutut Arby masih terasa lemas, tapi dia berusaha tetap melangkah dengan cepat.
Nuna, Naina, Aruna, Agam, dan Marcell juga mendampingi Arby di situ.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nuna.
__ADS_1
Arby diam saja, karena dia juga tidak tahu.
"Maafkan Chiro, Daddy. Chiro tidak bisa menjaga mommy dengan baik."