Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
140 Ikut Mommy


__ADS_3

"Sayang, ayo kita bicara baik-baik."


Arby sudah tahu kalau dia orang tercintanya itu ada di rumah mertuanya.


"Aku kangen sama kamu, Chiro dan calon anak kita. Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu marah."


Prang


"Tuh, kamu ngaku sendiri kan kalau sudah salah."


Arby meneguk salivanya. Dia kembali mengetuk pintu kamar Freya. Anaknya juga marah padanya.


Tidak ada yang berani ikut campur urusan ini, karena setiap ada yang menyebut nama Arby mana nomor ponselnya langsung diblokir oleh Freya, dan dianggap musuh.


"Nuna, tolong aku."


"Aku enggak ikutan, Ar. Freya sudah pernah sekali membenci aku, dan kamu tahu sendiri apa yang terjadi. Aku enggak mau itu terjadi untuk yang kedua kalinya. Lagian kamu juga cari masalah sendiri!"


Arby menghembuskan nafas berat.


"Bukan salahku!"


"Masih saja enggak mau ngaku!"


"Jadi kamu mau nolong atau enggak?"


"Enggak!"


"Demi aku."


"Emangnya kamu siapa aku?"


"Demi Freya."


"Ya aku sih selalu mendukung Freya. Kalau di marah sama kamu, ya wajarlah!"


"Demi Ikmal."

__ADS_1


"Apa hubungannya sama Ikmal?"


"Nanti aku comblangin aku sama dia."


"Enggak butuh."


๐Ÿ’ง๐Ÿ’ง๐Ÿ’ง


Kelima perempuan berbaring terlentang di lantai apartement.


"Sudah lama banget kita enggak kumpul seperti ini. Ternyata memang benar ya, masa lajang itu yang paling menyenangkan," ucap Nania.


"Caramu bicara seolah kamu sudah menikah saja."


Nania hanya tertawa pelan.


"Ayo kita pergi dari sini," ucap mereka serempak.


"Sepertinya kita tidak cocok tinggal di negara ini."


"Ayo kita kembali ke Inggris."


"Ayo kita pergi dari sini. Aku sudah suntuk di sini. Kamu juga mau ikut, Rei?"


"Ayo. Seharusnya kita memang tidak usah kembali saja." Rei meneteskan air matanya.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Aku akan membawa Chiro pergi bersamaku."


"Aku tidak akan mengizinkannya."


"Aku enggak butuh izin dari kamu."


"Chiro, Chiro akan tetap bersama daddy, kan?"


"Chiro ikut sama mommy."

__ADS_1


Anak itu menggigit bibirnya, dia tidak berani menatap wajah anaknya.


"Chiro, selama ini Chiro selalu bersama daddy. Apa Chiro tega meninggalkan daddy seorang diri?"


"Karena Chiro sudah bersama daddy, jadi Chiro tahu rasanya bagaikan tidak bersama mommy. Kalau Chiro tidak ikut mommy, nanti siapa yang menjaga mommy dan adik bayi?"


Bukan Chiro tega, tapi dia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau daddynya ada bersama perempuan lain di kamar hotel.


"Sayang, dengarkan dulu penjelasan aku. Jangan egois!"


"Pokoknya Chiro ikut aku. Lagian kamu dengar sendiri kan, kalau Chiro itu sudah enggak mau lagi sama kamu. Lagian anak mana yang mau dengan ayah yang pengkhianat?"


"Dengerin dulu."


"Kamu ada di dalam kamar hotel itu bersama Jasmine, kan? Mau mengelak?"


"Ya, iya sih."


Arby menelan salivanya. Mana bisa dia mengelak kalau dia ada di kamar hotel itu bersama Jasmine, Chiro saja melihatnya. Masa dia mau bilang mereka berdua salah lihat atau buta?


"Aku juga enggak salah lihat apa yang kalian pakai saat itu, kan? Nyaris telanjang!"


Arby memejamkan matanya, mati kutu lah dia.


"Jangan berpikir kalau aku akan diam menangis dalam kamar dan meratapi nasib! Kamu itu bukan pria satu-satunya, masih banyak kok yang suka sama aku, meskipun aku sedang hamil, tapi masih banyak yang menunggu jandaku!"


"Aku ini bukan perempuan jelek miskin dan pengangguran yang hanya bisa mengandalkan kamu saja."


Arby menghela nafas berat, dia ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Tarik nafas, sabar ya๐Ÿคญ


sabar menunggu di cerita yang satunya๐Ÿคฃ


__ADS_2