Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
70 Seperti Orang Ngidam


__ADS_3

Anak-anak muda itu masih asik mengobrol, sedangkan Chiro dan para orang tua telah tidur di dalam tenda elit.


Ini acara lamaran yang luar biasa. Meski tidak mengundang orang luar dan hanya dihadiri okeh keluarga besar beserta para sahabat saja, tapi sangat ramai. Bahkan sepupu-sepupu dari Arby dan Freya ikut memeriahkan acara ini.


Freya baru sadar jika Jasmine tidak ada di acara ini.


“Jasmine tidak ada?”


“Kenapa dia harus ada? Memangnya dia siapa?”


“Dia kan sekretaris kamu.”


“Nah itu, dia kan hanya sekretaris aku. Bukan sahabat apalagi keluarga. Nanti kalau kita menikah, baru aku undang dia.”


💕💕💕


Mereka sarapan di tepi pantai, segelas lemon tea hangat diminum oleh Freya.


“Kita pulang ke apartemen aku aja, yuk!”


“Enggak boleh, kalian belum menikah.”


“Ya enggak aku apa-apain kok, paling nyosor dikit aja.”


Elya langsung menyentil bibir Arby, yang suka asal kalau bicara.


“Kita nikahnya sekarang saja, yuk!”


“Ya ampun, Ar, kamu pikir nikah kaya beli cilok?”


“Ya resepsinya belakangan ....”


“Sekarang hari Minggu, Ar. KUA juga tutup.”


“Ya nikah agama saja dulu, kaya dulu. Baru diurus secara hukum.”


Arby dan Elya terus berbicara, tanpa memperhatikan raut wajah seseorang yang terlihat bingung.


“Kaya dulu? Memang dulu kita nikahnya gimana?” tanya Freya.


Mereka terdiam, Arby mengumpat dirinya sendiri yang keceplosan.


“Kalau dipikir-pikir ....”


Arby langsung memeluk Freya.


“Yuk, kita nikah agama dulu. Besok kita urus surat-suratnya, resepsinya menyusul.”


“Ah, kamu mah, nikah kok kaya orang ngidam, maunya langsung didapatkan.”


Perkataan Freya itu membuat Arby teringat saat Freya hamil. Hamil pertama dan hamil kedua. Hamil pertama yang melarang Freya ini itu, dan haris ini harus itu, namun akhirnya calon anaknya itu harus pergi.


Lalu hamil kedua, dimana dirinya lah yang mengidam. Merasakan apa yang dulu Freya rasakan saat hamil pertama.


“By ... Aby ....”


Arby tertegun saat Freya memanggilnya By atau Aby saja. Seolah Freyanya tak pernah melupakannya, karena hanya Freya yang memanggilnya seperti itu.


“Ya?”


“Lepas napa, pengap tahu!”

__ADS_1


Arby hanya melonggarkan pelukannya, namun tidak melepaskan.


“Ayo, kita nikah saja sekarang. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda.”


Mereka tertawa geli, ada saja alasannya untuk bisa cepat-cepat menikah, meski apa yang dikatakannya itu memang benar, niat baik tidak boleh ditunda-tunda.


Hingga pulang pun, dia terus meminta.


“Mom, nikah napa, Mom.”


Arby menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang minta jajan.


“Ya Allah, Arby ... Kamu itu sudah punya bocah, tetapi kelakuan kamu masih seperti bocah. Tidak malu apa, sama Chiro?”


“Enggak, tuh.”


“Kamu tidak malu dengan calon mertua?”


“Enggak, tuh.”


“Terus apa yang bisa bikin kamu malu?”


“Kalau sudah umur segini, tapi jomblo terus, nah itu, baru malu-maluin.”


“Sialan!” maki mereka yang memang jomblo ngenes.


“Jadi gak nih, nikah sekarang?”


Elya langsung menjewer telinga Arby yang sedang menggendong Chiro. Pria itu masih berusaha nego meski dirinya telah didorong masuk ke dalam mobil.


💕💕💕


“Tuan Erlang kelihatan senang sekali, kenapa ya?” tanya Jasmine pada Evan.


“Hah, kapan, sama siapa?”


“Ya sama siapa lagi kalau bukan sama nona Freya. Kemaren acara lamaran, kalau menikahnya belum tahu, tapi pastinya tifak akan lama lagi.”


Jasmine terdiam, merasa sesak di hati.


“Sudah, masih banyak pria lain. Sejak awal seharusnya kamu bisa membatasi hati kamu agar tidak terlalu sakit. Apalagi dia juga tidak pernah memberikan harapan padamu, dan selalu bersikap dingin kepada perempuan lain.”


Jasmine tentu sangat sadar itu. Dirinya memang terlalu berharap, meski dia sadar, dia tidak bisa dibandingkan dengan Freya Canaya Zanuar, wanita cantik berprestasi dengan karir cemerlang, belum lagi seorang pewaris dari keluarga Zanuar.


Arby terkadang tersenyum, lalu menghela nafas berat.


“Kenapa sih, Ar?”


“Aku sepertinya harus ke psikolog.”


Ikmal, Vian dan Marcell menatap wajah Arby yang terlihat serius mengatakannya.


“Kenapa?”


“Aku hanya takut kalau semua ini hanya mimpi. Aku juga takut, bagaimana kalau ingatan Freya kembali, lalu dia marah padaku dan berpikir aku memanfaatkan amnesianya untuk menikahinya. Lalu dia kembali minta berpisah ketika kami telah menikah.”


“Kamu harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.”


“Ikmal benar,” ucap Vian.


“Aku harus segera mengikat Freya, bukan hanya dengan pernikahan.”

__ADS_1


“Terus?”


“Aku harus cepat-cepat memberi adik untuk Chiro.”


Arby menaik turunkan alisnya, solusi yang paling pas yang ada di otak mesumnya.


Ikmal, Vian, dan Marcell mendengkus.


“Mudah-mudahan nanti langsung jadi lagi ya, seperti sebelum-sebelumnya.”


Senyum ceria terukir di wajah calon mantan duda itu.


“Semoga yang ini perempuan, tapi kembar cewek cowok lebih baik.”


Pria itu mulai cekikikan tidak jelas.


“Kembar lima, pasti seru!” terus saja dia berbicara, tanpa peduli raut wajah kesal di hadapannya.


“Enaknya bulan madu ke mana, nih? Duh, pusing aku milihnya.”


“Kami lebih pusing lagi, Ar, mendengar dan melihat kamu.”


“Ya kalau pusing minum obat sana!”


“Kita pulang saja yuk, di sini bukannya membahas pekerjaan malah bikin kesal,” ajak Vian pada Ikmal dan Marcell.


Saat menutup pintu, mereka masih mendengar tawa renyah Arby yang membuat mereka ikut tersenyum.


“Akhirnya, perjuangannya membuahkan hasil,” ucap Ikmal pada keduanya. Mereka melakukan tos.


💕💕💕


Ucapan Arby itu bukan sekedar ucapan. Dia memang bener-benar membutuhkan seorang psikolog, meskipun para sahabat dan pihak keluarga sudah berusaha memberikannya pengertian, tapi tetap saja kecemasan itu tidak bisa hilang.


Dan di sinilah dia, di hadapan tante Irma, kerabat dan seorang psikolog yang dulu menangani Freya saat masih sekolah.


“Freya kini telah dewasa, bukan lagi ABG labil yang akan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Sekarang di menerimamu tanpa paksaan, kan?”


Arby meringis, dia sendiri ragu apakah kali ini dia masih memaksa Freya atau tidak.


“Freya perempuan yang cerdas, dia bukan orang yang bisa dipaksa. Dulu saja dia memberontak, tapi sekarang tidak, kan?”


“Tapi bagaimana kalau ingatannya kembali, lalu dia membenciku bahkannlebih besar lagi. Dia akan berpikir aku memanfaatkan hilang ingatannya untuk bisa menikahinya.”


“Freya kan tahu dia hilang ingatan, dia pasti sudah memikirkannya dengan sangat baik.”


“Aku takut kalau perasaannya akan berubah.”


“Freya juga akan mempertimbangkan semua itu sebelum memgambil keputusan. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, dan belum tentu terjadi. Freya saja tidak cemas, kenapa kamu yang selama ini menunggunya malah cemas?”


Arby terdiam, kalau sudah begini, dia jadi berharap Freya tidak usah lagi mengingat masa lalu.


“Kalian berhak bahagia, jadi jangan takut lagi.”


💕💕💕


Arby memikirkan konsep pernikahan dia dan Freya. Tidak ada yang tahu impian pesta pernikahan Freya seperti apa, karena perempuan itu memang tidak pernah berpikir tentang itu. Selama ini Freya hanya fokus dengan karirnya, selain pendidikannha dulu. Namun Arby telah merancangnya dengan sangat baik, dia yang telah lama mengenal Freya, tentu saja memiliki bayangan sendiri tentang pernikahan mereka nanti, sesuatu yang belum pernah direalisasikan karena Freya terlanjur pergi.


.


.

__ADS_1


.


Bab selanjutnya sudah aku ketik, tapi masih aku pikir-pikir mau up sekarang apa besok 😁😁😁


__ADS_2