
"Selamat ya, adik bayinya ganteng!"
"Hah?"
"Ganteng?"
"Berarti?"
"Adik aku laki-laki?"
Dokter mengangguk dengan senyuman.
Pluk
Boneka princess yang dipeluk oleh Chiro jatuh begitu saja.
Pupus sudah khayalan mereka selama ini, yang berpikir kalau bayi yang dikandung Freya bayi perempuan.
Freya menahan nafas, khawatir dengan kekecewaan Chiro yang sudah menyiapkan kamar kayaknya istana boneka dan istana seorang putri.
Arby dan Chiro saling menatap dan tidak lama kemudian ....
"Yeeeeyyy ... adik bayi laki-laki. Mommy tetap yang tercantik."
Arby dan Chiro jingkrak-jingkrak. Reaksi yang sangat tidak diduga oleh Freya. Dia pikir kedua pria beda generasi itu akan menangis guling-guling saking kecewanya.
Masih saja Arby dan Chiro meloncat dan menari.
Chiro lalu memungut boneka itu dan membawanya ke luar.
"Gimana Chiro?"
__ADS_1
Pluk
Chiro menyerahkan boneka itu untuk Raine.
"Untuk kamu, Raine."
"Kenapa Chiro? Adiknya enggak suka boneka?"
"Aku mau beli bola saja untuk adik aku."
"Bola?" tanya Ikmal, Marcell, Vian, Agam dan Mico, juga Marva.
"Berarti?"
"Adiknya laki-laki?"
Jika Chiro dan Arby jingkrak-jingkrak, maka keenam pria itu langsung lemes.
"Wahhh, laki-laki lagi?"
Tentu saja ini disambut bahagia oleh kedua pihak keluarga. Bukan apa-apa, bukan juga karena tidak suka cucu perempuan, tapi anak laki-laki akan bisa meneruskan usaha keluarga dan menyandang nama keluarga. Akan ada yang membantu Chiro nanti saat dia sudah dewasa, jadi Chiro juga tidak memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Arby adalah anak satu-satunya Arlan Abraham. Sedangkan kakak dan adik Freya belum menikah, dan tidak tahu apakah akan memiliki anak laki-laki atau perempuan, apalagi mereka juga memiliki darah seni yang sangat kental, tidak tahu saat dewasa nanti akan memilih jalur apa.
Freya segera dipindahkan ke ruang perawatan, setelah dia memberikan ASI pertama untuk bayi mereka.
"Jadi, siapa namanya?"
Arby dan Chiro kembali saling pandang. Mereka sebelumnya menyiapkan nama anak perempuan, yang keluar malah laki-laki.
Arby menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
Yang lain mulai sibuk menggendong anak kedua Freya itu bergiliran. Wajahnya sangat tampan, meski baru beberapa saat dilahirkan.
Kulit yang putih bersih dengan alis tebal, bibir merah, hidung mancung. Bahkan, rambutnya sangat tebal.
"Kamu makan apa saja sih, pas lahir sudah kaya begini?"
"Dia makan segalanya, Aunty, dan kami yang makan ati," celetuk Marcell yang langsung mendapat toyoran dari Frans.
Bibir bayi itu terus bergerak, mengingatkan mereka akan tingkah seseorang, siapa lagi kalau bukan bapaknya kalau lagi ngambek.
"Tuh lihat, dedeknya langsung protes saat mommy dia dicela."
"Tapi, kenapa tadi sangat lama?"
Freya dan Arby saling pandang.
"Jangan-jangan bayinya demo. Dibilang cantik, padahal ganteng begini. Kalau enggak dibujuk, pasti tetap ngumpet itu dia di dalam," ucap sang dokter.
Suara tawa memenuhi ruangan itu.
"Wah, cucu opa pintar sekali ya. Masih bayi sudah pintar protes. Kamu kan ganteng ya, masa dibilang cantik sama Daddy kamu, ya?"
Arby kembali manyun.
"Kan bukan salah aku. Suruh siapa yang lain mengira anak aku perempuan. Sampai nyiapin semuanya untuk bayi perempuan."
"Ngomong-ngomong, kita harus menyiapkan kamar untuk anak laki-laki secepatnya."
Ikmal, Marcell, Vian, Mico dan Agam menegang. Pasti mereka yang akan disuruh.
"Jadi, siapa namanya?"
__ADS_1