
"Kalian ini, ya!"
Anak-anak berlari, mulai menuju kebun yang dari jauh saja, sudah terlihat buah-buahan yang menumpuk, siap untuk dipanen.
Mereka menghirup udara dalam-dalam, merasakan kesejukan udara di sini. Tempat ini memang memberikan sejuta kenangan untuk mereka. Entah itu kenangan yang cukup menyakitkan, juga kenangan yang indah.
Arby kembali mengingat masa-masa sekolah dulu, di mana dia, Freya dan yang lainnya ke sini. untuk jangka waktu yang cukup lama.
"Kamu mikirin apa?"
"Enggak."
Tentu saja Freya tidak akan ingat. Tapi mungkin dia tahu melalui buku harian yang dia tulis.
Pria itu menghela nafas panjang, merasa terharu, sekarang dia ke sini bersama perempuan yang sama, dengan tambahan lima orang anak yang sangat luar biasa.
"Ayo kita foto bersama, seperti dulu," ucap Ikmal.
Mereka foto bersama.
__ADS_1
Freya, Arby, Nania, Aruna, Ikmal, Vian dan Marcell.
Selanjutnya ditambah dengan Nuna dan Mico.
Dan kini mereka semua—seluruh keluarga besar. Rasanya waktu berlalu dengan cepat. Mereka yang dulu masih anak-anak, kini sudah memiliki anak-anak.
"Sekarang anak-anak saja. Ayo para cucu, foto bersama."
Chiro menggendong Aileen, menghadapkan wajah Aileen ke depan.
"Oke. Kapan-kapan kita bikin foto keluarga yang lebih bagus lagi."
Arby mengajak Aileen ke kebun strawberry. Dia ber-selfie dengan anak istrinya. Tangan Chiro dan Sachi memegang keranjang, yang mulai diisi buah strawberry oleh si kembar.
Yang lain ada yang memetik sayuran. Para bodyguard bertugas membawa hasil panen ke villa. Ada juga yang mengawasi para pekerja yang menyakitkan hasil itu kepada para pedagang untuk dibawa ke swalayan-swalayan, dan pedagang di pasar induk.
Freya memakan salah satu buah strawberry, dengan rasa asam manis segar. Rasanya menyenangkan liburan keluarga seperti ini, tidak perlu pergi ke luar negeri, di sini juga sudah sangat menyenangkan. Freya juga akan mengambil cuti beberapa bulan. Tidak perlu khawatir, karena rumah sakit juga miliknya. Perusahaan, perusahaan dia. Arby tidak akan melarang Freya bekerja, karena itu memang sudah menjadi hidupnya. Bahkan di rumah saja, dia akan selalu membuat kue.
"Mommy, bikin kue dengan staubeli."
__ADS_1
"Oke, nanti ya. Mommy bikin yang banyak untuk kalian semua."
Cuaca sangat bagus pagi ini, semoga saja sampai mereka kembali ke Jakarta nanti. Para perempuan kini memetik buah-buahan, sedangkan yang laki-laki memetik sayur-sayuran. Sebagian lagi dari bodyguard, menyiapkan kayu bakar, untuk api unggun dan bakar-bakaran, karena aroma khas dari kayu bakar itu membuat cita rasa makanan menjadi berbeda.
Arby menyempatkan diri melihat villa yang dia sewakan untuk umum, yang memiliki restoran dan taman bermainnya. Dia melihat laporan keuangan, yang ternyata setiap minggunya, pemasukkan selalu bertambah.
"Berikan bonus lebih untuk para karyawan."
"Baik, Tuan."
"Oya, enam bulan sekali, saya berencana memberikan tiket liburan untuk satu karyawan yang berprestasi. Jadi, kalian harus semangat bekerja dan tunjukkan loyalitas kalian pada perusahaan."
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak atas perhatian Tuan kepada kami."
Arby langsung kembali ke vila pribadinya yang jaraknya tidak jauh. Cukup berjalan kaki saja.
"Daddy, mau tangkap ikan."
"Kalian di sini saja. Yang tangkap ikan om Ti J saja, ya."
__ADS_1
Melepaskan Sachi dan si kembar dari pandangan mata Arby dan Freya, berarti siap-siap dengan tingkah anak-anak itu yang akan membuat kerusuhan.