Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
19 Sakit


__ADS_3

Info Penting


Bagi yang masih menjadikan Akibat Pernikahan Dini di daftar favorit, pastinya sudah tahu dong, dan sudah membacanya, dan untuk itu aku ucapkan treima kasih.


Buat kamu yang sebelumnya sudah membaca Akibat Pernikahan Dini dan sudah menghapus dari favorit, bisa dimasukin ke daftar favorit lagi.


Di sana aku nulis cerita baru, masihbdengan tema


yang sama, namun beda tokoh dan konflik, ya. Jadi dijamin enggak bakalan sama.


Thanks atas dukungannya.



Jam sebelas malam waktu setempat


Ponsel Naya berbunyi nyaring. Dengan rasa malas dan mengantuk, dia langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Hm?"


"Mommy, hiks?"


"Ecan? Kenapa?"


Naya langsung membuka matanya lebar setelah mendengar suara Chiro yang menangis.


"Daddy, Mommy. Daddy!"


"Daddy kenapa?"


"Daddy sakit."


"Ya sudah, Ecan tunggu ya. Mommy ke sana."


Naya langsung mengambil peralatan medisnya, dan menuju kamar Erlang tanpa mengganti baju tidurnya terlebih dahulu.


Chiro membuka pintu, dia melihat wajah mommy-nya yang mengantuk.


"Periksa daddy, Mommy."


Naya melihat wajah Erlang yang berkeringat, bajunya juga sudah cukup basah.


Disekanya kening Erlang dengan telapak tangannya, sedikit hangat.


"By, bangun dulu. Minum obat."


"Gak, aku enggak mau minum obat. Aku mau tidur saja, nanti juga sembuh."


Erlang langsung menutup matanya.


"Jangan tidur dulu, cepat ganti bajumu!"


"Aku tidak sanggup mengganti bajuku, tolong gantikan."


Naya menggaruk tengkuknya.


"Jangan berpikiran mesum, kamu ini kan seorang dokter, sudah seharusnya mengobati dan merawat pasienmu."


"Kenapa tidak menghubungi Marcell?"


"Uncle Marcell tidur, Mommy."


Tidak tahu kah Chiro, bahwa mommy-nya juga sudah tidur tadi?


"Ayo, cepat gantikan bajuku. Ambil saja di lemari."


Atas dasar profesi, Naya akhirnya menggantikan baju Erlang.


Otot yang keras dan dada bidang juga perut six pack terpampang jelas di hadapannya.


"Sekalian dielapin!"


Naya mendengkus.


Sekali lagi, apa dasar profesi, dia mekakukan apa yang Erlang mau.


Sentuhan tangan Naya di tubuhnya membuat Erlang merinding. Bukan merinding karena hantu, tapi dia kembali panas dingin.


"Pelan-pelan ngusapnya. Kiri dikit, kanan, kanan lagi, atasan, agak ke bawah!"


Reflek Naya langsung menoyor Erlang.


"Apaan, sih?"

__ADS_1


"Jangan mesum!"


"Jangan KDRT, ada Chiro?"


KDRT? Enggak salah, tuh?


"Ayo, Ecan."


"Tunggu, mau kamu bawa ke mana Chiro?"


"Ke kamarku."


"Jangan, dia harus tidur bersamaku."


"Tapi nanti ketularan."


"Aku bisa tambah sakit jika Chiro jauh dariku."


"Mommy, Ecan mau tidur dengan daddy."


"Hm, baiklah. Tapi jangan terlalu dekat dengan daddy, ya."


"Mommy juga di sini dulu temani Ecan."


Naya langsung duduk bersandar di kasur sebelah Ecan.


Keesokan paginya.


Naya merasa ada yang berat di badannya. Rasanya juga sangat sempit hingga ia tidak dapat memutar tubuhnya. Dibuka matanya secara perlahan.


Ada dua tangan berbeda ukuran.


Yang satu tepat di atas dadanya, yang satunya lagi di atas perutnya namun langsung tersentuh kulit karena baju tidurnya yang sedikit menyibak.


Aaaarrggg, apa ini?


Dia langsung menengok kiri kanan.


Tangan Chiro dan tangan Erlang (jangan ditanya tangan siapa di mana, bebas milih).


Dia ingin melepaskan kedua tangan itu dari tubuhnya, tapi kedua kaki berbeda ukuran mengunci pahanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Dasar pria mesum, kenapa tangannya bisa ada di sini.


"Kamu kok di sini, peluk-peluk aku?" tanya Erlang.


"Cih, kamu tuh yang meluk-meluk aku. Lagian kenapa aku bisa ada di tengah?"


"Heleh, pura-pura enggak tahu, sudah jelas-jelas itu maumu."


"Jangan nuduh! Jelas-jelas kamu yang sejak tadi malam sudah mesum, langsung panas dingin saat tangan halusku menyentuh tubuhmu!" balas Naya tak mau kalah, membuat rona merah di wajah Erlang.


"Aku panas dingin karena sakit, bukan karena kamu. Jangan geer."


"Sudah jelas-jelas tanganmu saat tidur tidak pada tempatnya."


Erlang tak menjawab, karena sejujurnya dia juga merasa tangannya berada bukan pada pelukan Chiro yang bertubuh mungil dan pas dalam pelukannya.


"Good morning Daddy, good morning Mommy."


"Good morning Ecan/Chiro," balas Erlang dan Naya bersamaan.


Chiro langsung duduk di antara Erlang dan Naya.


Cup


Cup


Kecupan dia berikan untuk Naya dan Erlang. Erlang dan Naya juga memberikan kecupan di pipi Chiro, membuat anak itu semakin merasa bahagia karena tadi malam dia tidur ditemani oleh Mommy-nya, bangun masih melihat mommy-nya dan mendapat kecupan dari mommy dan daddy-nya.


"Mommy, Ecan mau dimandikan sama Mommy."


"Oke, lets go."


"Sama Daddy juga."


"Oke, Boy."


Di dalam kamar mandi itu, mereka berdua memandikan Chiro.


"Ayo Mommy, Daddy, masuk ke sini."


"Ecan saja, ya."

__ADS_1


Namun Chiro langsung menyiram air pada mommy-nya sambil tertawa.


Sudah terlanjur basah, akhirnya mereka bertiga berendam bersama, tentu saja Erlang dan Naya masih memakai baju mereka.


"Sudah, jangan lama-lama, nanti Ecan masuk angin."


Naya langsung ke luar, sementara Ecan dan Erlang membasuh badan mereka dengan shower.


Setelah mereka ke luar dari kamar mandi, Naya yang kini mandi.


Ck, aku kan enggak punya baju kering di sini.


Saat dia ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, Erlang memberikan kantong kepadanya.


"Ini bajumu, tadi aku dan Chiro ke kamarmu untuk mengambilnya."


Naya mengambil paper bag itu dan melihatnya. Terlihat ********** berada paling atas.


Erlang memilih sepasang dalaman berwarna merah maroon.


Sialan, dia menyentuh dalamanku, dan kenapa harus warna ini yang dia pilih?


Naya langsung masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Naya masih terus mengoceh.


.


.


.


"Kamu dari mana saja, Nay? Kami tadi ke kamarmu.


Saat ini mereka sarapan bersama.


"Mommy tadi malam tidur bersamaku dan daddy."


Naya dan Erlang langsung terbatuk. Mereka juga mendapat tatapan dari para sahabat-sahabat mereka, sedangkan Jasmine dan Evan pura-pura tak mendengar.


"Jangan mikir macam-macam."


"Evan, kamu dan Jasmine kembali saja lebih dulu ke Jakarta. Aku dan Chiro akan pulang tiga hari lagi," ucap Erlang mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik, Tuan."


Erlang dan pasukannya akan pulang tiga hari lagi.


"Ini sekaligus perayaan kembalinya aku ke Jakarta," ucap Marcell.


Naya, Monic, Zilda dan Letta tiba di restoran hotel. Mereka kembali berpakaian formal.


"Mommy sampai kapan di sini?"


"Tujuh hari, Sayang."


"Mommy, kapan mommy akan tinggal di Jakarta?"


"Kita masih bisa ketemu lagi, Ecan," hanya itu jawaban yang bisa Naya berikan.


Ecan mengangguk paham, dia tidak ingin nakal dan memaksa mommy-nya, agar mommy-nya tidak menghilang lagi dari kehidupannya.


Chiro menatap cemberut pada daddy-nya.


Kenapa daddy tidak mau membujuk mommy?


.


.


.


Naya membacakan dongeng untuk Chiro hingga anak itu terlelap. Setelah memastikan Chiro tidur, Naya mengecup kening dan kedua pipi Chiro lalu menyelimutinya.


"Aku membelikan Ecan baju dan mainan."


Erlang melihat barang-barang yang dibelikan Naya, semuanya barang bermerk terkenal dengan kualitas yang tentunya sangat bagus.


.


.


.


Jangan lupa, mampir lagi ke đź’šAkibat Pernikahan Diniđź’š

__ADS_1


__ADS_2