
Arby menyiapkan makan malam sebelum Chiro dan Freya bangun.
Dia tadi terlalu sibuk dengan pikiran dari masa lalu, terlalu sibuk dengan hati yang melambung bahagia, jadi tidak tidur. Sebenarnya dia takut untuk tidur, takut kalau saat dia terbangun nanti, malah akan mendapati kalau semua itu hanya mimpi semu.
Arby terus mengecup bibir Freya, setengah karena mesum, setengah lagi karena menyakinkan diri kalau ini bukan mimpi.
Kenapa tidak mencubiti dirinya sendiri, untuk meyakinkan kalau ini bukan sebuah mimpi?
Ya kalau ada yang enak, ngapain milih yang sakit!?
Dia kan pintar, dan sekali lagi, mesum.
Aroma masakan membuat Chiro dan Freya terbangun.
"Ayo Mommy, daddy pasti sudah membuatkan kita makanan."
Ibu dan anak itu laku mencuci muka.
"Kalian enggak mandi dulu?"
__ADS_1
Keduanya menggeleng.
"Kamu sudah mandi?"
"Sudah."
Arby lalu menyuapi Freya, seperti dia dulu menyuapi Chiro saat masih kecil. Pria tampan itu kembali melow, dia jadi baperan. Dia juga menyuapi Chiro.
Chiro memandang Arby, dia tahu kalau daddy tersayangnya itu sedang sedih. Dia ingat, dulu saat dia dan Arby makan, maka dia akan bertanya seperti ini, "Daddy, apa mommy sudah makan? Apa mommy juga makan enak seperti kita? Apa mommy punya uang untuk makan?"
Kenangan itu ternyata bukan hanya dirasakan oleh Arby saja, tapi juga Chiro. Freya melihat raut wajah keduanya, yang terlihat melamun dan sedih.
Keduanya menggeleng. Freya lalu melihat banyak foto di sana. Foto Chiro, Arby dan Chiro, mereka berdua dengan Ikmal, Marcell dan Vian.
Tidak ada satu pun foto perempuan di sana. Baik itu yang bersama Chiro, Arby, atau Ikmal, Marcell dan Vian.
Masakan yang dibuat Arby sangat enak. Freya sendiri heran, kenapa Arby bisa pandai memasak. Freya melihat ke sekeliling ruangan. Ada banyak kamar di sini, yang tentunya untuk Arby dan Chiro, Ikmal, Marcell dan Vian.
"Aku mau tanya sama kamu."
__ADS_1
"Apa?"
"Dulu, selama di sini, apa Marcell punya pacar? Siapa saja pacarnya?"
Arby manyun, kenapa Freya harus bertanya tentang pria lain.
"Jangan cemburu, aku hanya mau tahun saja. Marcell itu kan playboy, tali dia juga masih mengharapkan Nania."
Arby mengangguk, dia bukannya cemburu, tapi hanya ... cemburu! Ya pokoknya begitulah!
"Marcell itu memang begitu. Terlalu ramah pada perempuan. Banyak yang jadi baper, akhirnya. Tapi selama kami tinggal di sini, dia memang enggak pernah pacaran. Paling kumpul bersama teman-teman kami."
"Kalau Ikmal?"
"Apalagi dia! Kalau kamu tanya tentang Vian, sama juga lah. Kami di sini sibuk kuliah dan bekerja. Jauh dari orang tua bukan berarti kami bisa seenaknya. Kami tetap harus bekerja dari jarak jauh. Membantu Marva dan kakek Frans. Apalagi saat itu juga Marva punya masalah, kamu juga sudah tahun kan cerita tentang Marva?"
Freya mengangguk. Tapi dia masih bingung, kenapa Marcell dan Nania bisa seperti ini. Juga Vian dengan Aruna. Dia sebenarnya tidak masalah, mau Nania dan Aruna bersama siapa, yang penting para pria itu baik. Tapi kalau setiap kali bertemu dan berkumpul bersama, pasti akan ada saja hal tidak enak yang bisa saja terjadi.
Hubungan pertemanan mereka bisa berantakan.
__ADS_1
Tidak ingin membiarkan Freya memikirkan banyak hal, pria itu kembali menyuapi istrinya itu.