
Erlang seharian ini tidak bisa konsentrasi bekerja. Dia terus memikirkan Naya.
"Kenapa, sih, Arby Erlangga Abraham?" tanya Ikmal.
"Aku lagi mikirin Freya."
"Kenapa? Belum bisa move on?"
"Mana mungkin aku move on. Dia kan cinta pertamaku, cinta monyet, cinta sejati, cinta ...."
"Cinta ditolak, dukun bertindak ...."
"Good. Ide bagus, tuh."
"Dasar pea!"
"Tapi serius nih, aku lagi mikirin mommynya Chiro."
"Kenapa dengan Freya?"
"Dia kurusan."
"Ya ampun Arbyyyyyy ...."
"Dia juga berubah. Dulu dia galak banget, kalau sekarang malah masa bodo."
"Misalnya?"
"Masa pas aku nyium dia, dia malah noyor kepalaku."
Ikmal menghela nafas, mencoba sabar. Ini sebenarnya yang gagal paham siapa, sih?
"Terus, maunya kamu diapain? Dipiting lagi, kaya dulu? Ditendang? Dibanting?"
"Biasanya kan, gitu. Kalau sekarang, paling noyor, jambak rambut. Dah gitu, waktu si nyonya Kunti menghina dia, dia malah membalasnya dengan cara yang enggak disangka-sangka. Padahal tadinya aku pikir tangan kakinya di nyonya Kunti bakalan patah."
Erlang jadi ikut-ikutan manggil Angel dengan nama nyonya Kunti.
Kelihatannya sepele, namun tidak bagi Erlang yang sudah mengenal Freya sejak lama, bahkan sebelum Nuna dan Ikmal mengenal Freya, dia sudah jauh lebih dulu tahu tentang mommy Chiro.
Ikmal dapat melihat kegelisahaan dalam diri Erlang. Sebagai sahabat yang jiga sudah mengenal Freya sejak SD, Ikmal juga sebenarnya bisa merasakan ada yang berbeda dengan Freya.
"Mungkin karena Freya akan menjadi psikiater dan dokter bedah, jadi harus bisa mengendalikan emosinya."
Erlang mengangguk pelan, alasan dari Ikmal memang cukup masuk akal.
"Ya, mudah-mudahan saja nanti dia khilaf."
"Maksudnya?"
"Waktu itu kan, dia meluk aku, bilang sayang dan nyium aku. Kali aja nanti dia begitu lagi, hehehe."
"Dasar ngarep! Dia begitu karena sengaja bikin si nyonya Kunti marah."
"Biarin, yang penting aku disosor."
Sepertinya hanya seorang Arby Erlangga Abraham yang malah bahagia disosor seperti itu.
.
.
.
Erlang menggebrak meja berkali-kali, saat mendapat kabar dari Marcell dan Marva bahwa akhir-akhir ini Naya sering pergi bersama Mico. Bukan hanya dari Marcell dan Marva saja, Ikmal dan Vian juga pernah bercerita seperti itu.
Evan dan Jasmine menunduk. Erlang memang sering marah, tapi kemarahan yang paling besar pasti yang berhubungan dengan Chiro dan sekarang ditambah dengan Naya.
Apa aku harus mundur? Enggak! Aku enggak akan pernah mundur untuk mendapatkanmu kembali, Freya.
.
.
__ADS_1
.
"Jadi gimana, sudah cocok, belum?" tanya Mico di perjalanan pulang bersama Naya.
"Sudah, aku suka banget sama lokasinya. Kamu urus ya, semua prosedurnya."
"Beres. Aku juga akan investasi di sana."
"Nanti biar Kirei yang mendesign bangunannya. Sedangkan Nuna, Nania, dan Aruna mengurus yang lain."
"Oke. Sudah jam makan siang, kamu mau makan apa?"
"Apa ajalah, aku kan enggak pernah ribet, Co, soal makanan."
"Ke cafe tempat kita sering bolos sekolah dulu, yuk."
"Ayo ayo ayo."
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di cafe tersebut.
Erlang, Jasmine dan Evan yang kebetulan ada di cafe itu melihat kedatangan Freya dan Mico.
"Freya!" panggil Erlang.
Mico langsung memasang wajah isengnya. Dia menggandeng tangan Freya dengan sangat sengaja, dan dalam hati tertawa, lalu menuntun Freya menghampiri Erlang.
"Kalian habis dari mana?"
"Dih, kepo."
"Jangan ikut campur!"
Mico mendengkus.
"Ecan di mana?" tanya Naya, tidak mempedulikan pertanyaan Erlang.
"Masih sekolah, setelah itu dia akan ke kantor."
"Kalau begitu nanti aku ke kantor kamu, boleh kan?"
"Kita sama-sama saja," ajaknya.
"Enggak bisa, aku masih banyak urusan sama Mico."
Erlang menatap sinis Mico.
Kenapa dia lagi, dia lagi, yang menjadi pihak ketiga antara aku dan Freya?
Mico dan Naya memesan makanan, mereka makan dengan cepat karena memang masih banyak pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
"Untuk lokasi yang lain, kamu mau yang mana, Yaya?"
Ish, masih saja dia manggil Freya, Yaya.
"Yang strategis, pastinya. Satu dekat yang tadi. Yang lain kamu atur aja, deh. Takutnya aku enggak sempat buat surveinya."
"Ya sudah, aku yang akan urus semuanya, kamu tinggal terima beres saja."
"Aku mau lima lokasi, ya, untuk D'Cafe."
"Oke."
"Kamu mau membuka D'Cafe di sini?" tanya Erlang.
"Iya, ini kan salah satu impian aku, selain menjadi dokter bedah."
Erlang ikut bahagia Naya bisa mewujudkan satu demi satu impiannya, tapi kenapa harus minta pada Mico untuk membantunya? Dia juga bisa, kok.
"Dudah selesai?" tanya Mico pada Naya.
"Sudah, yuk jalan, biar bisa ceoat selesai. Aku mau ketemu sama Ecan."
"Kami duluan, ya."
__ADS_1
.
.
.
Naya memasuki loby perusahaan Erlang. Sebelum melangkah lebih dalam, diarinya sudah dicegat lebih dulu oleh nyonya Kunti.
"Masih berani, ya, datang ke sini?"
"Kenapa harus takut? Memangnya kamu yang punya perusahaan?"
"Aku akan menjadi nyonya pemilik perusahaan ini."
Pede banget, dia. Memangnya Ecan mau punya ibu tiri model mak lampir, gini? Dih, amit-amit dah, Ecan. Jangan sampai kamu di asuh sama mak lampir, bisa-bisa kamu jadi gerandong.
"Memangnya Arby mau sama kamu?"
"Heh, Arby tuh enggak suka dipanggil Arby sama orang luar, dia dipanggilnya tuan Erlangga."
"Bodo amat, dah. Mau Arby, kek. Erlang, kek. Erlangga, kek. Suka-suka aku maunya manggil apa."
"Dasar perempuan udik, bisanya menggoda calon suami orang."
"Halah, baru calon suami aja sudah bangga, belum juga dinikahin. Memangnya orang tuanya Arby mau menerima kamu? Kamu dari keluarga mana? IQmu berapa? Prestasimu apa?"
"Heh, tentu saja keluarga Arby akan menerimaku. Aku ini berasal dari keluarga baik-baik, tidak seperti kamu yang asal usulnya tidak jelas. Aku yakin kamu adalah anak haram, dan anak yang lahir dari rahim kamu juga anak haram."
Plak
Plak
Sudah cukup Naya menahan sabar. Terakhir kali bertemu dengannya, nyonya kunti itu menghina kelaurganya, dan sekarang dia menghina anak yang dilahirkannya sebagai anak haram, yang berarti dia mengatakan Chiro adalah anak haram
Naya tidak akan tinggal diam.
"Dasar j*lang, beraninya kamu menamparku."
"Kamu yang j*lang, san kamu memang pantas ditampar."
Recepsionist langsung menghubungi Evan, memberitahukan bahwa Angel bertengkar dengan seorang perempuan yang pernan berjalan beriringan dengan tuan Erlangga.
Evan langsung memberitahu Erlang apa yang terjadi.
"Chiro,.Chiro tunggu di sini dulu, ya. Daddy ada urusan sebentar di bawah. Chiro jangan ke mana-mana."
"Oke, Daddy."
Erlang dan Ecan langsung ke loby. Sesampainya di loby, mereka melihat Naya yang memiting tangan nyonya Kunti.
"Ada apa ini?" tanya Erlang.
"Arby, tolong aku. Jala*g ini menyakitiku."
"Aku bukan j*lang, dan kamu memang pantas menerimanya."
"Dasar perempuan murahan, anak yang kamu lahirkan juga pasti anak haram."
Raut wajah Erlang mengeras, tangannya mengepal kuat.
"Lepaskan dia, Freya."
"Tapi dia ...."
"Lepaskan dia, Freya!"
Angel tersenyum penuh kemenangan. Naya menatap marah pada Erlang, namun dia melepaskan Angel juga.
Plak
Plak
Kali ini Erlang yang menampar Angel.
__ADS_1
"Arby, kamu ...."
"Ini untuk yang pertama kalinya aku memukul perempuan, dan kamu pantas menerimanya. Sekali lagi aku mendengar kamu menghina Freya dan semua yang berhubungan dengannya, maka aku sendiri yang akan menghacurkanmu dan mengirimu ke neraka."