
Pesawat mulai bergerak. Ti J langsung duduk dengan tegang. Mulut mereka komat Kamit membaca doa.
Setelah pesawat terbang dengan lurus, mereka sedikit lebih rileks.
"Daddy, nanti bawa pulang Upin Ipin, ya," ucap Sachi.
Tuh kan, benar.
"Upin Ipin itu bukan di Jepang, Sayang. Di Jepang adanya Naruto."
Sachi berpikir.
"Berarti bawa pulang Nto, ya?"
Arby menghela nafas. Bawa pulang bonekanya saja.
"Iya, nanti beli bonekanya saja."
Setelah mendengar perkataan Arby, Sachi langsung meninggalkan Arby begitu saja. Arby mendengus, dia kaya dibuang begitu saja setelah dimanfaatkan. Bibirnya mengerut sebel. Diliriknya ibu hamil di sampingnya, yang sedang makan rujak. Lalu anak-anaknya juga masih sibuk mengunyah.
Pria itu geleng-geleng kepala.
"Mommy, mau bobo."
"Ayo, cuci tangan, kaki, sama mulutnya dulu."
Arby lalu mengajak keempat anaknya untuk bersih-bersih. Freya di belakang mengikuti mereka. Di dalam kamar, keempat anak itu berganti baju.
Arby menina bobokan Ichi, Freya menina bobokan Ichi, sedangkan Sachi dengan Chiro. Semua dibagi rata.
__ADS_1
Keempat anak itu tidur dengan cepat, karena kekenyangan.
"Ayo, Yang. Sekarang aku nina bobokan kamu." Wajah Arby tersenyum cerah.
Freya mendengus, sudah hapal dengan akal bulus pria itu. Freya berganti baju memakai daster. Arby menahan tawanya. Ada ya, perempuan di dalam jet mahal pakai daster. Ya itu, istrinya sendiri.
Freya menghela nafas lega. Nyaman rasanya memakai daster yang bahannya sangat adem dan lembut ini.
Arby juga mengganti bajunya dengan kaos biasa dan celana longgar selutut.
Kalau ada yang melihat mereka, pasti akan merasa lucu. Baru saja Arby mau memeluk Freya, Sachi sudah merangkak meniban tubuhnya.
Ya, gagal deh!
Pluk
Pluk
Arby berusaha menjaga Freya agar perut istrinya itu tidak ketiban apa pun.
"Bis kita ke mana?" tanya Jan pada salah satu bodyguard senior.
"Tidur."
"Memang di sini ada kamar?"
"Ada. Biasanya keluarga bos kalau bepergian jauh akan tidur di kamar."
"Wah, keren banget, ya."
__ADS_1
"Bang, Sidah berapa lama kerja sama bos?"
"Kalau untuk jadi bodyguard begini, sudah lama banget. Sebelumnya kerja di perusahaan."
"Jadi apaan, Bang? Satpam?"
"Sembarangan. Jadi hacker!"
"Hah? Ceker?"
"Ya ampun, hacker, hacker. Bukan ceker!"
"Oh."
"Ngerti?"
"Enggak." Ti J hanya cengar cengir saja.
"Kenapa jadi pindah, Bang?"
"Yang jaga keluarga tuan, bukan hanya handal dalam berkelahi saja, tapi juga harus bisa meretas data dengan cepat. Karena masalah bukan hanya dalam hal perlindungan fisik, tapi masih banyak lainnya. Seperti meretas CCTV di berbagai tempat, menyabotase data."
"Kalian ini masih pada muda, harus banyak belajar. Bukanya mau mengungkit, tapi kalian bertiga cukup beruntung karena walaupun sudah menculik dua tuan kecil, tapi bisa diterima oleh keluarga ini."
"Tapi kalau berani berkhianat, nyawa kalian akan lenyap begitu saja. Jadi jangan macam-macam. Kedua keluarga ini—Abraham dan Zanuar—bukan keluarga sembarangan. Mereka juga berteman dengan orang-orang penting di berbagai negara," ucap yang lainnya.
Ti J melihat para bodyguard yang ada di dalam jet ini. Mereka bukan sembarangan orang, tapi sudah diseleksi secara ketat.
Pramugari membagikan makanan dan minuman untuk para bodyguard itu. Para kru pesawat pribadi ini juga bukan orang-orang sembarangan, mereka juga sudah diseleksi secara ketat oleh Arby.
__ADS_1