
Freya mengelus perutnya pelan, lalu kembali menarik rambut Ikmal.
"Se ... sejak kapan lahiran ada latihannya dulu?" tanya Ikmal menahan ngeden.
"Sejak Uranus menikah dengan Neptunus, Mars putus dengan Jupiter, Merkurius melamar Saturnus, Venus ditolak Bumi yang selalu menjadi pihak ketiga dan Pluto dicampakkan!"
Si suami dzolim dengan santainya mengelus perut besar istrinya itu, lalu menyuapi pisang tanduk yang berukuran paling panjang dan besar juga padat.
Ya biasa, pasti ada otak mesum yang langsung traveling ke mana-mana.
"Diemut dulu Yang, jangan buru-buru. Nikmati dan santai saja."
Nania langsung merem melek merem melek melihat itu.
Apa muat itu, ya?
Sedangkan Didi, di sekretaris yang baru lulus kuliah itu sesekali melirik, lalu kembali mencari semut perempuan.
Dia masih sangat ingat dengan pesan Evan.
"Kalau kamu mau awet kerja di sini, apalagi menjadi sekretaris tuan Erlangga, maka patuhi semua perkataan dia. Lakukan semua yang dia perintahkan, jangan banyak tanya dan apalagi protes. Kamu itu beruntung, baru lulus kuliah sudah menjadi sekretaris tuan Erlangga. Jadi bekerjalah dengan tekun agar posisi kamu tidak digantikan!"
Dan sekarang dia merasa merana.
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
__ADS_1
Menatap ku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa di sini
Menanti pacar jawabku
Eh, ada nyanyi dalam hati.
Freya yang enggak sabaran, langsung saja menggigit pisang itu.
"Aw!" ringis Vian.
Mereka lalu menoleh kepada Vian, kenapa pisang yang digigit dia yang meringis?
"Apa enggak sakit itu, ya?" tanyanya.
"Dasar mesum!"
"Emangnya kalian enggak mesum? Noh lihat, muka pada merah dan nahan nafas gitu."
Ngomong-ngomong, kenapa bisa ada pisang tanduk di ruangan Arby?
Tentu saja ada, karena dia selalu menyiapkan berbagai jenis buah untuk dia, Freya dan Chiro jika datang ke kantornya. Dan Arby memang penggemar segala jenis pisang, terutama yang berukuran besar dan padat.
"Jangan-jangan nanti dia bakalan bawa durian," ucap Nuna.
Dia yang sudah enggak tahan dengan keadaan, langsung melangkah ke kulkas, dan membukanya.
__ADS_1
Benar saja, di dalamnya banyak sekali buah. Ada semangka dan melon. Sedangkan kulkas yang satunya lagi isinya minuman.
Nuna lalu membelah buah-buah itu, dan memberinya ke Freya.
"Nuna! Jangan kamu berikan lagi dia makan!" ucap Ikmal sambil mengusap kepalanya yang berdenyut yang baru saja di lepas oleh Freya.
Marcell dan Ikmal buru-buru memakan buah itu.
"Kami yang butuh tenaga, bukan dia."
Freya mengelus perutnya, dan mengatur nafas.
"Kalian pakai sampo apa? Kok rambutnya halus?" tanya Freya.
"Ya halus lah! Kamu kira rambut kami sapu ijuk yang sudah pada keriting!" ucap Marcell dengan ketus.
"Honey, halusan juga rambut aku."
"Iya dong Baby, makanya aku enggak tega buat jambakin kamu."
Ikmal langsung memasukan potongan melon ke Freya biar ibu hamil itu tidak lagi sahut-sahutan dengan suaminya. Sedangkan Marcell mencengkoki Arby dengan semangka beserta kulit-kulitnya.
"Maaf Tuan."
Mereka langsung mengalihkan perhatian pada Didi.
"Apa?"
"Saya tidak menemukan semut satu pun. Baik yang ada di lantai atau pun yang berbaris di dinding ...."
__ADS_1
Ikmal dan yang lain menghela nafas. Ada lagi orang aneh di kantor ini. Kenapa pria polos ini harus bekerja dengan Arby?