
"Abang, haus."
Chiro langsung membuka tasnya, dan merasa lega karena di dalam tasnya masih ada minuman dan makanan.
"Jangan dihabiskan, kasih adik Ichi dan Ishi juga."
Chiro lalu membuka tas ketiga adiknya, dan kembali merasa lega karena ada makanan dan minuman juga yang belum mereka habiskan.
Radhi juga melakukan hal yang sama, memberikan minuman untuk Raine dan yang lain.
"Keluarkan ponsel kalian!"
"Ponselku mati."
"Punyaku ketinggalan."
"Tidak apa, yang penting ada yang membawa ponsel.
"Para Daddy kita pasti akan membalas orang-orang itu."
"Abang, panas, Bang."
Ichi dan Ishi mulai merengek kegerahan. Bagaimana tidak, sekarang mereka semua ada di dalam kontainer yang tertutup rapat, dan saling berebutan oksigen. Chiro, Radhi, dan Raine sebagai yang paling tua di sana, mencoba mencari celah, agar mereka bisa bernafas dengan baik.
"Buka dulu baju kalian, ya. Nanti Abang kipas-kipas."
Chiro mengeluarkan buku tulisnya, lalu mengipas ketiga adiknya, diikuti oleh yang lain.
Sementara itu di luar, para bodyguard masih mengejar mereka, yang sekarang melalui jalan luar kota. Ingin menembak, tapi tentu saja khawatir mobil itu akan oleng lalu menabrak. Di dalam sana banyak anak yang harus mereka jaga keselamatannya.
"Lebih cepat, aku akan mencoba memanjat kontainer itu."
Para penculik itu menembak ke arah para bodyguard yang mengejar.
"Ambil jalan itu," perintah Jan pada Jun.
Ti J tentu saja tahu kalau saat ini mereka sedang menuju pelabuhan. Mereka pun tahu, ada jalan pintas menuju sana.
"Kita bisa mencegat mereka dari depan."
__ADS_1
Di dalam kontainer
"Abang, mau pipis."
Chiro menepuk jidatnya.
"Ayo, ke depan pintu."
Ishi jalan ke depan pintu kontainer.
"Di pojokan, ya. Pelan-pelan."
Jangan sampai habis ini mau BAB.
Air pembuangan itu mengalir dari celah-celah pintu ke luar. Para bodyguard yang melihat ada air yang mengalir, merasa panik.
Jangan sampai ada anak yang terluka, pikir mereka.
"Raine, kamu lapar?"
"Enggak, kasihan adik-adik."
Arby dan yang lain, yang mendengar penculikan itu merasa sangat geram. Kali ini semua anak itu memang diculik, dan bukan penculik abal-abal.
"Jangan sampai Freya dan para perempuan tahu!" ucap Arby pada yang lain.
"Ayo kita susul mereka."
Tentu saja mereka tahu ada di mana anak-anak itu saat ini. Anak-anak itu sudah diberikan pelacak, di semua apa yang mereka gunakan. Baik itu tas, sepatu, ponsel, atau jam tangan.
"Sayang, aku pulang terlambat hari ini. Mau rapat. Anak-anak ada sama aku, kamu tidur saja di rumah, ya. Jangan ke mana-mana," ucap Arby di telepon.
"Kenapa anak-anak enggak di suruh pulang saja?"
"Mereka mau ikut meeting."
"Aku mau bicara sama mereka."
"Mereka sudah ada di luar."
__ADS_1
"Kenapa ponsel Chiro tidak bisa dihubungi?"
"Mungkin baterainya habis, Sayang. Sudah ya, aku mau meeting dulu."
Arby buru-buru mematikan sambungannya, sebelum Freya banyak bertanya.
Inilah ribetnya punya istri yang pintar, susah untuk dibohongi.
"Suruh yang lain menjaga mereka, jangan sampai para perempuan itu bertemu atau ke luar rumah."
"Ada yang mau main-main sama kita."
"Mereka salah sasaran."
"Ayo."
Mereka lalu berjalan bersama menuju parkiran mobil.
.
.
.
.
Haii, Jarak ganti cover, ya🙂
Buat kenang-kenangan
Yang ini cover lama
Yang ini cover yang baru
Komen dong, kalian lebih suka cover yang mana?😌
__ADS_1