
Arby mengusap perut Freya pelan, saat ini mereka sedang berada di ruang persalinan.
"Aduh, kenapa aku selalu tegang di saat seperti ini? Melebihi tegangnya Arjun."
"Arby, kamu tega banget, aku mau lahiran ini, jangan nyebut-nyebut Arjun!"
"Namanya juga tegang, Yang. Apaan aja bisa diomongin."
Tetap saja pria itu membela diri. Suster yang mendengarnya, bertanya dalam hati, siapa itu Arjun?
"Masih pembukaan delapan ya, Dokter Naya."
Arby kembali mengelus perut Freya, berharap dengan itu rasa sakitnya akan berkurang.
Tidak lama kemudian, pembukaan Sidah sempurna. Dokter memberikan arahan pada perempuan itu.
Arby menatap haru pada anaknya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia langsung bergegas keluar dan berteriak heboh.
"Rasakan kamu Marva, kamu kalah dari aku. Anakku kembar, jadi sekarang aku punya empat anak. Kamu cuma tiga, dong!"
"Apa?"
"Kembar?"
Keluarga Freya langsung bersorak gembira. Mereka memang belum pernah memiliki bayi kembar dalam keluarga itu. Arby kembali masuk ke dalam ruangan, yang disambut dengan tatapan cemberut dari istri tercinta.
"Kamu mah kebiasaan, langsung kabur gitu aja."
"Kan pamer dulu, Yang. Pamer itu nomor satu."
__ADS_1
"Dasar!"
Perawat langsung membersihkan kedua bayi itu, dan Arby seperti biasa, memberikan banyak doa untuk anak-anak tercintanya.
Arby menggendong kedua anaknya dengan suka cita. Air matanya menetes, benar-takjub dengan hadiah yang sangat indah ini.
Yang lain berebutan masuk, tidak peduli kalau Freya baru saja melahirkan.
"Benaran kembar?"
"Aku kira matanya Arby siwer!"
"Sachi saja baru satu tahun, sudah langsung punya dua adik sekaligus."
"Jangan-jangan yang satu kloningan!"
"Ish, Arby. Jangan sembarangan bicara di depan bayi yang baru lahir."
"Kali ini kalian harus benar-benar memakai jasa baby sitter!"
Freya menatap kedua anaknya. Bahagia, tapi juga sedikit sedih.
"Semuanya laki-laki. Bukannya tidak bersyukur, tapi aku sudah memiliki dua jagoan kecil dan satu jagoan yang sedikit lapuk."
Arby mendengkus saat Freya mengatakan jagoan uang sedikit lapuk. Sudah pasti itu dirinya, kan? Tapi kemudian wajahnya langsung bersinar, layaknya seseorang yang baru saja menemukan solusi paling tepat di tengah masalah rumit.
"Enggak apa, Yang. Mungkin ini sebagai tanda kalau kita harus bikin lagi yang baru. Harus pakai gaya apa ya, biar nanti cetakannya jadi perempuan?"
Arby cekikikan sendiri saat membayangkan menciptakan gaya baru biar nanti produknya perempuan. Keren ya, solusinya?
__ADS_1
Ingin sekali mereka menoyor pria itu.
"Arby, kamu sudah punya empat anak tali enggak ada malunya sama sekali!" ucap Freya.
"Justru udah punya empat anak, ya enggak malu lagi, lah. Noh, mereka noh yang belum pada nikah yang pasti malu. Pengen tuh pengen tuh pengen tuh! Paling praktek pertama gayanya manual."
Anjirrrr
Sialannn
Wajah para perempuan itu merona. Kenapa ada pria seperti ini yang tercipta di dunia?
"Kalian tahu gak, gaya mixer itu gimana?"
Vanya jadi mengetuk jarinya di dagu, membayangkan mixer itu bergerak seperti apa. Mico yang melihat Vanya, langsung menutup telinga gadis itu. Jangan sampai adik sahabatnya itu terkontaminasi oleh virus mesum rumah tangga yang banyak menggunakan istilah-istilah yang ada di dapur.
"Mixer itu bukannya muter-muter gitu, ya?" tanya Anya, ternyata dia masih penasaran.
Freya menepuk jidatnya, sedangkan yang lain tertawa dan yang para perempuan pasti semakin merasa malu.
"Ah Vanya, kamu sih nanya-nanya. Aku kan jadi pengen nih. Aduh aduh aduh, jadi enggak sabar."
Arby memeluk Freya dengan gemas, lalu mengecup-ngecupi pipi Freya yang chubby dan selalu mulus itu.
"Kalau nifasnya udah selesai, kita bikin lagi Yang, yang lebih rajin. Kali aja nanti perempuan kembar tiga.😚😘🥰😍🤩🥳"
"JANGAN LAGI, ARBYYYYYYYYY!" teriak mereka.
Orang-orang: 😳😨😤
__ADS_1