Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
26 Kejujuran


__ADS_3

Segerombolan orang berlari di sepanjang koridor rumah sakit.


"Mommy, mommy," Chiro menangis dalam gendongan daddynya.


Tadi pagi, Naya ditemukan pingsan di dalam kamarnya. Asisten opa dan oma langsung menghubungi rumah sakit.


Untung saja sekarang adalah hari Minggu, jadi mereka semua libur dan bisa pergi ke Durham yang memang membutuhkan 4 jam'an jika menggunakan kereta api, dan lima jam'an jija menggunakan mobil.


"Apa yang terjadi?" tanya Monic pada seorang pria yang tidak mereka kenal.


"Dokter Naya tadi pagi ditemukan pingsan di kamarnya. Kemungkinan besar dokter Naya pingsan sejak tadi malam."


"Tadi malam mommy sakit, wajahnya pucat. Ya kan, Daddy?"


Jantung Erlang terasa ngilu dan sesak nafas. Tidak lama kemudian pintu UGD terbuka.


"Bagaimana, Dok?"


"Dokter Naya sudah sadar, dan akan segera dioindahkan ke ruang perawatan."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Dokter Naya terlalu banyak pikiran, yang menyebabkan dia sakit kepala. Untuk beberapa hari ini dia harus di rawat, dan tolong jangan membuat dia setres."


Naya sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan kini kembali tidur karena pengaruh obat.


Malam harinya, oma dan opa datang membesuk Naya saat wanita itu masih tidur.


"Selamat malam semuanya," sapa opa.


"Kalian?"


"Panggil saja kami ooa dan oma. Dokter Naya bekerja denfan kami di Durham."


Erlang mengangguk paham, tak banyak komentar. Yang penting baginya Naya baik-baik saja.


Perlahan mata Naya terbuka dan melihat sekitarnya.


"Naya, kamu sudah bangun?"


"Maaf merepotkan kalian."


"Tidak sama sekali. Istirahatlah yang cukup, jangan banyak pikiran."


Naya melihat Chiro yang tertidur di kasur. Ruangan ini adalah ruangan VVIP yang memiliki kasur untuk keluarga pasien yang menginap.


Naya mengobrol dengan opa dan oma cukup lama. Kedua kakek nenek yang masih terlihat tampan dan cantik alami itu sangat baik, membuat Naya merasa nyaman saat bersama mereka.


.


.


.


Pintu kamar rawat Naya terbuka, masuklah beberapa orang yang membuat jantung Naya berdetak kencang.


Satu persatu mereka memeluk Naya.

__ADS_1


Kedua orang tua Naya, kakak dan adiknya, kakek neneknya (dari pihak mama), juga kedua mantan mertuanya.


Naya meremas kedua tangannya, rasa gugup tiba-tiba melandanya. Dia memang sejak lama ingin bertemu dengan mereka, tali bukan dengan keadaan seperti ini.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya mamanya.


Naya mengangguk, tapi juga menggeleng.


"Apa ada yang kamu butuhkan?"


"Ada yang mau aku sampaikan pada kalian."


"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Monic.


"Jangan, kalian di sini saja."


Naya mengatur nafas berkali-kali.


"Aku ... aku mau mengatakan kalau aku lah yang melakukannya," Naya berbicara dengan sangat cepat.


"Maksudnya, melakukan apa?"


"Menyabotase data perusahaan Papa dan Om Arlan."


Semua melebarkan matanya.


"Aku menyembunyikan data itu, namun tidak membocorkannya pada rekan bisnis kalian ...."


Naya terdiam sesaat.


"Aku juga yang menyebarkan berita tentang Arby dan sekolah ...."


Naya selalu merasa miris saat teman-teman sebayanya, entah yang dia kenal atau tidak, terjebak dalam kenakalan remaja.


Daat dia pergi ke club malam bersama Mico, dia dan Mico sering melihat hal-hal yang seperti itu. Para gadis yang bergelayut manja pada pria, bercumbu, merokok.


"Aku juga yang menyimpan dana perusahaan papa, lalu mengembalikannya lagi. Maaf!"


Mereka tak ada yang bicara, bukan karena marah, namun merasa takjub karena gadis yang masih berumur belasan tahun mampu melakukan hal seperti itu.


Wildan dan Aroan memanv dibuat kelimpungan saat itu. Rahasia oerusahaan tiba-tiba saja raib begitu saja, namun tak pernah bocor ke pihak lawan.


Dana perusahaan juga menghilang, namun tak diketahui siapa yang menggelapkannya, lalu, dua tahun setelah Freya menghilang, semuanya kembali ke tempat masing-masing.


Bahkan yang lebih mencengangkan, uang itu tetap utuh secara langsung padahal berkurangnya secara bertahap.


Haruskah mereka memuji atau memaki kekacauan yang Freya lakukan?


"Yang lalu biarlah berlalu, jangan diungkit lagi."


Wildan memeluk dan mengusap kepala Naya. Naya menggigit bibir dalamnya, menahan segala gejolak yang dia rasakan saat pelukan itu diberikan untuknya.


.


.


.

__ADS_1


Naya sudah kembali bekerja di London, setelah sebelumnya merasa jenuh garus berbaring terus di brankar rumah sakit.


"Ngapain, Nay?"


"Kaget, aku. Habis konsultasi sama dokter Hendrick. Masih banyak yang harus aku pelajari dari beliau."


"Jangan sampai telat makan siang, Nay."


Naya mengangguk, lalu dia dan Monic ke ruangan masing-masing.


Jam makan siang, Erlang membawakan bekal makan siang untuk Naya yang terdiri dari ikan, kentang yang dipanggang bersama kulitnya, roti gandum utuh, jamur, bayam, ubi jalar.


Untuk buahnya, dia membawakan potongan melon, ceri, semangka, pisang, nanas, mentimun.


Sedangkan cemilannya, dia membawa kismis, kacang almond, dan coklat.


"Enggak sekalian kamu bawain kacang-kacangan?"


Naya tahu bahwa semua makanan itu bagus untuk mencegah sakit kepala.


"Aku bawain besok."


Naya berdecak, dia kan hanga becanda.


"Ayo makan."


Erlang menyuapkan kentang panggang berkulit itu pada Naya.


"Aku bisa makan sendiri."


"Buruan makan, jam istirahat kamu kan, enggak lama."


"Ecan di mana?"


"Di cafe depan rumah sakit bersama Evan."


Erlang memang tidak ingin Ecan ke rumah sakit, karena tidak baik untuk anak kecil, meskipun anak itu tadi merajuk.


Pintu ruangan Naya diketok, lalu masuklah Monic.


"Kirain kamu belum makan."


Monik duduk setelah mencuci tangannya, lalu ikut makan makanan yang dibawa Erlang. Erlang mendelik kesal pada Monic.


"Beli sendiri napa, Nun."


"Elah, pelit amat."


Erlang memang memasak semua ini bersama Chiro, karena bocah itu juga ingin membuatkan makanan untuk mommynya.


"Kamu enggak mau kembali pada Arby, Nay?" tanya Monic setelah Erlang pergi.


Naya menghela nafas. Bingga saat ini, meskipun telah bertambah usia, dia tidak pernah benar-benar memikirkan soal pasangan.


Monic sangat tahu, bahwa Arby masih sangat mengharapkan Naya. Saat mereka masih SD di Singapura dulu, Monic yang melihat kedekatan antara Arby dan Freya, merasa bahwa persahabatan mereka itu berbeda.


Dalam persahabatan yang lebih dari dua orang, pasti akan ada yang lebih condong pada yang lain, entah itu karena persamaan sifat atau hobi.

__ADS_1


Hingga saa ini, Naya tidak pernah menceritakan perasaannya tentang seorang pria, kecuali rasa kehilangan Mico saat itu, yang bagi Naya adalah teman seperjuangan dalam mencari jati diri dan makna hidup.


Satu-satunya orang yang bisa melihat sisi gelap dalam dirinya secara langsung.


__ADS_2