
Mendengar kata pulang, membuat hati Freya bergetar, matanya melirik pada pria yang menjadi mantan suaminya itu. Merasa diperhatikan, Arby kemudian melihat Freya. Tatapan mata itu beradu, pandangan mata mereka saling beradu, sampai akhirnya Freya yang memutuskannya.
"Freya, aku Nuna atau bisa dipanggil Monic oleh para dokter dan perawat. Kita sudah berteman sejak masih SD di Singapura."
"Aku Nania, atau Zilda, tapi kamu panggil saja Nania. Kita berteman sejak kelas enam SD di Jakarta."
"Aku Aruna atau Letta, kita berteman sejak SMP kelas satu."
"Aku Ikmal, kita juga sudah bersahabat sejak masih di Singapura bersama Monic dan Arby."
"Aku Marcell dan ini Vian, kami seniormu sejak SMP."
"Aku Mico. Hm, kita juga dekat saat SMA," ucap Mico ragu untuk mengatakan tentang kenakalan mereka.
"Freya, aku Kirei. Aku seniormu saat SMA, namun kita satu angkatan saat kuliah," ucap Kirei dengan suara bergetar.
Dalam hatinya dia sangat terguncang dengan yang terjadi pada Freya, sahabat pertamanya, yang selalu baik padanya dan menolongnya.
Anya dan Vanya juga ikut mengenalkan diri ke saudara mereka.
Opa oma
Kakek nenek
Papa mama
Juga mantan mertuanya
"Boleh aku meminjam kaca?"
"Untuk apa?"
"Aku mau tahu, wajahku seperti apa."
Kirei lalu menyerahkan kaca kecil pada Freya. Freya sedikit kaget melihat kepalanya yang botak.
"Jangan sedih, Mommy. Mommy tidak sendiri, Chiro juga botak seperti Mommy, dan rambut kita akan tumbuh bersama."
Chiro lalu naik ke brankar Freya, dan mengecup kepala Freya, juga bekas operasi yang masih diperban itu.
"Mommy selalu cantik di mata Chiro, dan Mommy adalah malaikat tak bersayap. Tak perlu rambut yang panjang untuk menjadi mommy Chiro, cukup Mommy terus berada di sisi Chiro, dan tugas Chiro adalah menjaga dan membahagiakan Mommy."
Mendengar anak sekecil itu berkata demikian, membuat hati mereka terenyuh. Keadaan memang membuat anak itu lebih dewasa dari umurnya.
Kata-kata manis dan indah, ketulusan akan kasih sayangnya kepada orang tua. Meskipun tak mengingat apapun, tapi Freya merasa beruntung memiliki anak seperti ini.
"Freya, sebelum kamu operasi, kamu menitipkan ini padaku. Saat itu kamu bilang, jika kamu sadar dan tak ingat apa-apa, maka aku harus memberikan ini padamu."
Nuna memberikan kotak yang cukup besar dan berat.
Freya membuka kotak itu, di dalamnya ada beberepa buku, foto-foto, kalung yang berleontinkan cincin, dan berbagai barang lainnya. Diambilnya kalung itu, lalu diamati.
Arby yang melihat itu, menghela nafas. Itu adalah cincin pernikahan mereka. Freya lalu memakai kalung itu, membuat hati Arby kembali berdesir.
Aku harus mengulangnya lagi dari awal, untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu.
Setelah kalung, Freya lalu membuka salah satu buku, dan tak lama kemudian menutupnya.
__ADS_1
"Kenapa kita berpisah?" tanya Freya pada Arby.
"Hm, itu ...."
Arby tidak ingin mengatakan bahwa sebenarnya Freya lah yang meninggalkan mereka.
"Itu, karena kesalahanku. Aku ...."
Tidak mendapat jawaban cepat dari Arby, membuat Freya curiga.
"Jangan-jangan kamu selingkuh!"
"Sembarangan, aku ini setia tahu!"
"Terus?"
"Ya ampun, jangan-jangan aku yang selingkuh?" sambungnya cepat.
"Ish, cewek galak kaya kamu, siapa yang mau jadi selingkuhanmu?" ceplos Arby.
Freya melotot mendengar perkataan Arby. Dia mencebikkan bibirnya.
Freya menggerakkan sedikit badannya, namun terasa susah, Arby yang melihat itu langsung membenarkan posisi Freya dan mengatur bantal di punggungnya.
Seketika jantung Freya berdetak kencang, dan mengalihkan pandangannya.
"Kakimu belum bisa berjalan, karena pasca operasi, memang belum melakukan terapi jalan. Kamu baru bisa melakukan terapi setelah kondisimu jauh lebih baik."
Teman-teman kerja Freya datang membesuk, dari dokter, perawat, juga yang bekerja di kafe. Mereka memaklumi keadaan Freya yang tak mengingat mereka, juga ada Zion cs yang menjadi rekan kerja Arby.
Freya sudah diperbolehkan pulang hari ini. Keluarga dan sahabat-sahabatnya menjemput dia. Arby mendorong kursi roda dan menggendong Freya ke dalam mobil.
Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba. Freya melihat rumah besar yang terlihat tak asing baginya. Mereka mendekati pintu ruang tamu.
Aku bersumpah, apapaun yang terjadi, seumur hidupku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi.
Deg
"Tunggu!"
Arby menghentikan langkahnya saat mendorong kursi roda itu.
"Kenapa, Frey?"
"Aku ...."
Seperti ada yang mengganjal di hati Freya, namun dia tidak tahu apa itu.
Keluarganya memandang Freya, lalu papa dan mamanya mendekati.
"Freya Sayang, apapun yang terjadi di masa lalu, papa dan mama sudah memaafkanmu. Begitu juga papa dan mama yang meminta maaf akan kesalah pahaman antara kita. Ayo kita buka lembaran baru dengan cerita yang lebih indah."
Aku ingin memulai cerita yang baru tanpa mengingat masa lalu.
Kata-kata yang terngiang di telinga Freya.
"Ya Pa, Ma," jawab Freya dengan tersenyum.
__ADS_1
Dengan kursi roda, Freya memasuki rumah itu.
"Selamat datang!"
Suara balon yang meletus dengan pita-pita yang bertaburan, menyambut kedatangan Freya. Freya memandang ruangan itu, memang familiar, taoi terasa aneh di hatinya.
"Freya, sebenarnya kamarmu ada di atas, tapi untuk sementara ini kami pindahkannke lantai bawah," ucap mama.
Freya mengangguk paham, kan tidak mungkin juga baginya untuk mondar-mandir ke lantai atas dengan kursi roda, walau menggunakan lift, tetap tak nyaman baginya.
Yang paling keberatan Freya kembali ke rumah ini sebenarnya Arby, dia kan jadi susah kalau mau nyolong ciuman dari Freya.
Kembali ke mesum!
Chiro duduk dipangkuan Freya, dengan memakan kue coklat.
Mereka berbincang hinggga malam.
"Kalian menginaplah di sini, banyak kamar kosong," ucap Wildan.
"Ayo Chiro, kita tidur," kata Freya.
"Tunggu, Chiro tidur denganku," cegah Arby.
"Loh, sama aku, dong."
"Tapi aku tidak bisa tidur tanpa Chiro."
"Bukannya biasanya kamu tidur sendiri? Sebelumnya Chiro tinggal bersamaku, kan?"
Mereka terdiam dan saling pandang, bingung mengatakan yang sebenarnya pada Freya.
Jangan sampai Chiro mengatakan yang sebenarnya, anak itu terlalu jujur.
"Mommy, Chiro ...."
"Tapi aku tidak bisa tidur kalau tidak ada Chiro."
"Tapi aku juga mau tidur sama Chiro."
"Ya sudah, kita tidur saja bertiga," ucap Arby enteng memberikan solusi yang sangat menguntungkannya.
Wajah Freya mendadak merah.
Dasar duda mesum.
Sayangnya Freya tak ingat semesum apa Arby.
Arby tidak mempedulikan tatapan tajam opa oma, kakek nenek, papa mama dan mommy daddy.
"Iya, Mommy tidur saja sama Chiro dan daddy. Nanti kalau tengah malam mommy mau pipis gimana, kan susah kalau enggak ada yang nganterin ke kamar mandi, jangan sampai Mommy ngompol. Chiro saja sudah tidak ngompol. Ya kan, Dad?"
Arby mengangguk cepat namun menahan senyum.
Enggak sia-sia aku memiliki anak sepintar ini.
Sedangkan Freya, wajahnya sudah memanas dan tak berani melihat siapa pun.
__ADS_1