
"Sayang, kamu jangan kelelahan. Duduk saja di sini." Arby menyuruh Freya duduk di sofa, tidak mengarang istrinya itu melakukan aktifitas apa pun. Biar saja para pelayan dan bodyguard yang bekerja.
Anak-anak kecil semuanya bermain di halaman belakang, sibuk memetik buah dan bermain. Jan, Jon, Jun terus mengawasi mereka.
"Jangan manjat, nanti jatuh."
"Jangan dimakan, itu masih mentah."
"Itu cabe, bukan strawberry."
Ternyata ini lebih melelahkan. Sachi terus saja ada dalam gendongan Jan, meminta diambilkan belimbing wuluh.
Firasat Jan sungguh tidak enak. Baru beberapa hari menjadi bodyguard anak-anak ini, dia Sidah sangat paham bagaimana isengnya mereka.
Ini rumah apa kebun, sih? Kenapa di sini sangat lengkap?
Tamu-tamu mulai berdatangan, banyak anak yatim piatu yang diundang. Makanan dan minuman Sidah ditata di tempatnya. Hadiah yang akan diberikan untuk anak-anak itu juga sudah siapkan.
Sahabat-sahabat Freya sibuk ngemil bersama Freya, sedangkan para pria juga sibuk membicarakan acara keluarga yang akan dilakukan secara bergilir.
Acara akhirnya dimulai. Mereka melakukan doa bersama, meminta kesehatan dan keselamatan ibu dan calon anak itu, juga untuk Arby dan anak-anak mereka yang lainnya. Tentu saja termasuk semua keluarga besar mereka, dan para pekerja.
__ADS_1
Ti J merasa terharu. Selama ini tidak ada yang pernah mendoakan mereka selain ibu mereka. Keadaan ibu mereka juga sudah membaik berkat perawatan maksimal di rumah sakit. Ibu mereka juga diijinkan tinggal bersama Ti J.
Saat acara makan-makan, seperti biasa, para bocil selalu membuat keramaian. Mereka mencampur jus cabe dan belimbing di dalam minuman.
"Ya ampun, kenapa mereka sangat mirip sekali dengan Freya, hah!" teriak Marcell.
Yang masih ingat dengan itu, langsung tertawa. Sachi, Ichi dan Ishi langsung ngumpet di kolong meja, tapi masih sempat menyelundupkan makanan dan minuman lebih dulu.
"Semoga yang ini perempuan, ya."
Arby sebenarnya tidak masalah mau yang ini perempuan atau laki-laki, tapi dia hanya tidak mau Freya kecewa. Istirnya itu sangat menginginkan anak perempuan, agar hidup mereka terasa lebih lengkap saja.
Di bawah kolong meja, Sachi dan si kembar memegang perut mereka yang kekenyangan.
"Ayo kita bobo saja," ucap Sachi.
Mereka duduk sambil tertunduk-tunduk, terlihat sangat menggemaskan. Pipi chubby dengan mata bulat dan perut gendut. Belum lagi kulit putih dan mulus.
Mulut mereka bertiga belepotan makanan. Sedangkan Ti J sangat ini sibuk mencari Ketiganya.
"Ngumpet di mana mereka?"
__ADS_1
"Apa di kandang ayam?"
"Kamu kira ini di kampung, kaya kuta dulu, ngumpet di kandang ayam!"
"Ya ampun, kenapa rumah ini luas banget."
"Ho'oh, pantas saja banyak pekerjanya."
"Istirahat dulu."
Mereka bertiga selonjoran di lantai halaman belakang.
"Asisten rumah tangga yang bekerja di sini, enggak cukup hanya makan tiga kali sehari."
Arby sibuk mencari ketiga bocil. Doa tidak perlu cemas mereka menghilang, karena keamanan di rumah ini sangat ketat. Hanya saja dia juga bingung, ke mana anak-anaknya itu ngumpet?
"Capek aku, Yang. Istirahat dulu. Ni rumah kok jadi terasa gede banget, ya."
Freya mendengus mendengar perkataan Arby. Baru ngerasain sendiri, kan, gimana punya rumah gede dan harus mencari ketiga anak itu?
"Apa ngumpet di loteng, ya?"
__ADS_1
"Kamu kira mereka tikus!"