Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
12 Dibully


__ADS_3

"Bagaimana Mommy, uncle Evan tampan, kan?"


Naya kembali menatap Evan, yang ditatap justru merasa gugup. Gugup karena tatapan mantan suami istri itu yang sama-sama mengintimidasi.


"Iya, uncle Evanmu ini sangat tampan."


Nyes


Hati Evan terasa berbunga-bunga dipuji oleh Naya, entah itu benar atau tidak, tapi dia sangat senang.


Mungkin inilah tipe pria yang mudah geer.


"Tapi sepertinya uncle Evanmu ini takut dipecat oleh daddymu."


Ibu dan anak ternyata sama-sama provokator.


"Hm, benar juga. Daddy terkenal kejam dan muka seperti kayu balok."


"Bukan es balok?" tanya Naya.


"No Mommy. Es balok masih enak buat diserut atau dijilat, tapi daddy tidak seperti itu."


Naya tak dapat lagi menahan tawanya. Tawa renyahnya membuat orang-orang yang ada di sana terpana.


Sungguh cantik!


"Kalau uncle Evan takut pada daddy, Mommy sama uncle Ikmal saja."


Kini Ikmal yang ketar-ketir, lagi-lagi dirinya dibawa-dibawa dalam urusan rumah tangga orang.


"Ikmal? Kenapa tidak Vian atau Marcell saja?"


"Jadi Mommy mengenal uncle Vian dan Marcell?"


Naya mengangguk dengan tawa yang tertahan.


"Kalau begitu Mommy pasti tahu kalau uncle Marcell itu playboy yang gagal move on dari perempuan yang bernama Nani ... Nani apa, ya?"


"Nania?"


"Betul Mommy. Juga uncle Vian yang menyukai Arun?"


"Aruna?"


"Ye, Mommy. Setiap kali mereka mabuk, mereka akan berkata 'Sayang, entah di mana ... dirimu berada ... hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana ... kau rindukan aku ... seperti diriku yang slalu merindukanmu ... selalu merindukanmu ....'"


Betapa malunya mereka, itu kan lagu-lagu galau yang sering mereka dengar saat mabuk dan ikut mereka nyanyikan. Kenapa Chiro bisa tahu?


Naya memegangi perutnya dengan wajah yang sudah semerah tomat.


"Hai Boy, apa yang kamu katakan, itu tidak benar!" ucap Marcell.

__ADS_1


"Seharusnya aku mengajak Nania, Nuna dan Aruna ke sini," Freya mengatur nafasnya sambil memencet hidung untuk menghentikan tawanya.


"Apa tujuan kalian ke sini hanya untuk membullyku?" tanya Erlang dengan wajah ketus.


"No, aku juga mau pamer pada Daddy kalau mommy membuat bekal yang enak untukku. Hueee," Chiro menjulurkan lidahnya.


Erlang menahan kesal, menurutnya sejak Chiro bertemu dengan Freya anak itu menjadi menyebalkan.


Ini tidak bisa dibiarkan, Freya tidak boleh merebut Chiro dariku!


"Chiro, Mommy pergi dulu, ya. Mommy ada seminar."


Mata Chiro kini kembali berkaca-kaca. Dia selalu takut kalau mommy-nya akan pergi lagi dari dirinya.


"Jangan nangis ya, mommy kan mau seminar."


Chiro mengangguk pelan, meskipun hatinya sangat berat untuk melepas Naya.


"Biar uncle Ikmal saja yang mengantar Mommy. Mungkin saja uncle Ikmal akan menjadi daddy baruku."


Ya Allah, tolong jangan libatkan hamba dalam masalah mereka. Dulu Nuna yang menjadi pihak ketiga secara sepihak, kenapa sekarang aku?


"Tidak bisa! Kami ada rapat dan harus segera diselesaikan."


Chiro mendelik kesal pada daddy-nya yang melarang Ikmal mengantar Freya.


"Enggak apa-apa, Sayang, kan uncle Ikmal harus kerja biar punya uang yang banyak ...."


Ikmal benar-benar menyesal telah datang ke kantor ini.


Setelah kepergian Freya, suasana terasa canggung. Wajah Erlang terlihat suram dan siap mengeluarkan semburan api dari mulutnya.


Satu minggu kemudian


"Ups, ma ... maaf." Naya menggaruk tengkuknya saat memergoki dokter Aurel sedang berciuman dengan dokter Angga.


Dalam pikiran Naya, bagaimana bisa dokter Aurel yang bahkan belum satu bulan ini menikah justru berciuman dengan rekan kerjanya sendiri.


Tapi itu bukan urusannya, kan.


Naya langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan pasangan yang terlihat gugup itu.


"Naya, tunggu!" panggil dokter Aurel.


"Ya?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


Naya mengangguk lalu mereka berjalan ke arah taman rumah sakit yang sedang sepi.


"Tolong jangan katakan pada siapa pun tentang apa yang kamu lihat."

__ADS_1


Sekali lagi Naya mengangguk. Dirinya bukanlah ratu gosip yang akan menceritakan aib orang pada siapa pun, apalagi jika orang itu tidak pernah mengusik dirinya.


"Biar aku jelaskan padamu. Aku dan suamiku menikah karena dijodohkan, kami tidak saling mencintai. Aku dan dokter Angga telah berpacaran sejak lama dan hingga sekarang kami masih saling mencintai meskipun aku telah menikah dengan orang lain."


Naya menghela nafas pelan.


Inilah yang dia cemaskan dulu. Dia sangat tahu bagaimana perasaan dokter Aurel, meskipun dia tidak akan menyalahkan atau pun membenarkan perbuatan dokter Aurel dan dokter Angga.


Menikah karena perjodohan memang berat, apalagi tanpa cinta dari keduanya, ditambah ada orang lain di hati mereka, entah di hati keduanya atau salah satu pihak. Orang ketiga siap menjadi boomerang dalam pernikahan itu.


Penikahannya dulu juga penuh dengan konflik.


Dokter Aurel saja yang telah dewasa tidak mampu menahan gejolak hati yang ada, apalagi dirinya yang saat itu masih enam belas tahun lalu dipaksa menikah dengan musuhnya.


Sekali lagi, menikah itu bukan hanya kesiapan lahir, tapi batinnya juga. Secara usia dokter Aurel tentu telah matang untuk menikah, tapi masalahnya dia menikah bukan dengan pria yang dicintainya.


Secara materi pun, dia dan suaminya telah memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk sekedar hidup sederhana.


Sekali lagi Naya menghela nafas, mengingat pernikaannya di usia 16 tahun dan menjadi janda di usia 17 tahun.


Jadi dia tidak berhak menghakimi rumah tangga orang. Sebagai teman, dia hanya mampu mendoakan kebaikan untuk dokter Aurel dan suaminya juga dokter Angga, meski sudah pasti akan ada hati yang tersakiti entah itu siapa.


Naya juga tidak ingin bertanya apakah dokter Aurel tidak ingin mencoba membuka hatinya pada sang suami.


Dia tidak ingin menjadi sok bijak menasehati orang, sedangkan rumah tangganya sendiri berantakan, bahkan lebih parah karena meninggalkan bayinya yang baru lahir.


"Aku tidak mungkin melupakan dokter Angga begitu saja."


"Hm, apa suami Dokter juga memiliki kekasih?"


"Entahlah, aku tidak pernah menanyakannya."


"Apa dia tahu Dokter memiliki kekasih?"


"Hm, aku pernah bilang jika aku mencintai pria lain."


"Lalu?"


"Dia tak mengatakan apa pun."


Naya berpikir, jika suaminya juga memiliki kekasih dan belum memutuskan hubungan mereka, maka pernikahan itu bisa di ambang kehancuran karena kedua belah pihak yang sama-sama goyah.


"Kadang aku bingung harus bagaimana."


Dokter Aurel yang usianya lebih tua dari Naya itu justru menceritakan keluh kesahnya, apalagi sebenarnya mereka baru saling mengenal.


"Banyak-banyak berdoa saja, Dok."


Hanya itu yang bisa Naya katakan. Memangnya dia mau bilang apa? Lanjutkan, gitu?


Naya memang masih muda, tapi pengalaman hidupnya lebih dari yang orang-orang kira. Di usia muda sudah mencari uang sendiri, menikah, dipe***sa, hamil, melahirkan, menjadi janda, lalu hidup di luar negeri tanpa keluarga.

__ADS_1


__ADS_2