Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
205 Cuma Jadi Juli


__ADS_3

Akhirnya mereka menemukan Sachi dan si kembar di kolong meja, dengan orang dan gelas yang berantakan, ditambah muka cemong. Mulut ketiganya mengecap-ngecap, seolah merasa masih makan.


"Men, Mom. Emen," igau Ishi.


Arby mendengus, sudah tidur masih saja mikirin makanan. Mamanya Freya, kakak adiknya langsung menggantikan baju Ishi, Ichi dan Ishi.


"Gemes banget sama mereka. Malah kelihatan kaya kembar tiga."


Umur yang tidak jauh antara Sachi dengan Ichi Ishi, tentu saja membuat ketiganya terlihat seperti kembar tiga. Belum lagi kelakuan yang sama menggemaskannya. Lucu-lucu ngeselin.


Chiro menjaga ketiga adiknya di dalam kamar yang sekarang sedang tidur. Dia menepuk-nepuk ketiganya bergantian, sambil sesekali menyanyi. Dia sangat gemas dengan ketiga adiknya itu, kerasa senang karena bisa memiliki adik-adik yang lucu. Chiro tidak pernah marah saat mainannya dirusak oleh salah satu dari ketiga adiknya.


Mata Ichi terbuka sedikit.


"Pipis ...."


Chiro langsung menggendong Ichi dan membawanya ke kamar mandi. Mata anak itu kerem melek saat pipis, dan begitu ada di atas kasur lagi, langsung tidur dengan posisi nungging, memperlihatkan pantatnya yang montok. Apa karena kembar, atau memang kebetulan, Ishi juga ikut-ikutan nungging.


Arby yang ingin melihat keempat anaknya, masuk ke kamar. Dilihatnya posisi tidur si kembar. Begitu tangan Arby menyentuh pantat montok itu, Siara misterius langsung terdengar.


Pria itu langsung cemberut, lalu mengusap wajahnya dengan kesal, tidak sadar kalau tangan itu tadi habis ternoda dengan aroma mistis milik si kembar.


Tapi tentu saja dia tidak akan marah. Melihat keempat anaknya tidur dengan anteng, membuat hatinya menghangat. Sebentar lagi suasana rumah ini akan semakin ramai. Dia begitu senang memiliki banyak anak, dan berdoa semoga anak-anaknya akan selalu rukun sampai kapan pun.


...🌼🌼🌼...


Pagi ini, Arby membuatkan sarapan dengan dibantu oleh anak-anaknya. Bukannya membantu, tapi merusuh sebenarnya. Freya sendiri hanya disuruh duduk, tidak boleh ikut campur, tinggal menikmati saja hasilnya. Begitu Arby meleng dikit, Sachi memasukkan enam sendok makan ke dalam kuah sup.


Satu sendok untuk mommy, satu sendok untuk Daddy, dan Abang, aku, juga adik-adik.


Sungguh sikap adil yang patut ditiru, ya.

__ADS_1


Sachi dan Ichi yang melihat itu, memberikan gula sebanyak tujuh sendok juga ke bumbu ayam bakar.


"Ayo anak-anak, kita bakar ayamnya."


Chiro sendiri sedang memotong buah-buahan, jadi tidak melihat kelakuan adik-adik mereka.


Arby juga akan membuat udang goreng. Dia sudah menyiapkan bumbu, dan kini ada di hadapan Sachi. Sachi mengetuk dagunya, berpikir apa yang belum dia kasih.


Dilihatnya bumbu berupa serbuk halus. Di masukannya ke dalam bumbu itu.


Dia ingat saat ada di kafe atau restoran, melihat para koki yang dengan terampil memberikan ini itu dalam masakan mereka. Ada juga serbuk berwarna merah.


Mommy kan suka warna merah.


Lagi


Lagi


Satu jam kemudian, masakan itu dihidangkan di hadapan Freya. Freya mengendus sesuatu yang tak biasa.


"Ayo semuanya, kita makan."


Mereka mengambil masing-masing makanan.


Di suapan pertama


Huekkk


Pedassss


Asinnnn

__ADS_1


Manisss


Panassss


"Aaa ... kenapa rasanya begini?"


"Daddy, Daddy halus dieliminaci."


"Daddy nih, gak bica macak."


"Pasti kalian bertiga, kan ...."


"Ih, kok kami ci?"


"Kan Daddy yang macak."


"Kami mah cuma jadi juli."


Sedangkan Sachi, si biang onar pertama, hanya menggelengkan kepalanya, gemes sama masakan daddy-nya yang rasanya uwuw banget.


.


.


.


.



Cerita terbaruku sudah ganti cover ya. Enggak penasaran? Yuk baca, yuk. Jangan lupa like dan vote juga, ya😃

__ADS_1


__ADS_2