
"Yang, jalan-jalan pagi, yuk?"
"Masih ngantuk."
"Ayo, Yang. Mumpung udaranya masih sejuk."
Freya tadi sebenarnya sudah bangun, hanya saja dia tidur lagi, dan sekarang sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh menit.
"Ayo, Yang."
"Malas."
"Yang."
Freya langsung membuka matan, merasa kesal.
"Kamu, mah. Odah aku bilang masih ngantuk, juga!"
Arby jadi kelabakan saat melihat Freya menangis.
"Kok nangis?"
"Keluar sana, sebel aku sama kamu."
"Enggak mau, aku mau di sini saja sama kamu."
"Keluar, gak!"
"Iya, iya, aku keluar, deh."
Bari saja Arby membuka pintu kamarnya, Freya malah semakin keras menangis.
"Kok kamu malah pergi, sih?"
"Loh, kan kamu yang nyuruh."
"Ck, kalau istri ngambek tuh dibaik-baikin, jangan malah ditinggal pergi. Gak peka banget jadi suami."
Arby menggaruk tengkuknya, merasa bingung. Oke, hormon kehamilan Freya sedang meraja rela sekarang.
Arby lalu mendekati Freya, memeluk istirnya itu.
"Apa kita olahraga di kamar saja, ya? Sayang kalau kasurnya dianggurin."
Freya benar-benar kesal mendengar perkataan Arby.
__ADS_1
"Kenapa malah bicara begitu?"
"Kan kata kamu tadi minta dibujuk? Minta dibaik-baikin." Freya mendengus, kesal.
"Musuh sedang membuat mommy menangis, seraaanggg!"
Bruk
Pluk
Pluk
"Aw!"
Arby diserang oleh keempat anaknya. Ada yang naik ke punggungnya,
"Mommy, tenang aja ya, nanti Ichi pukul alien ini."
Bukannya memukul, Ichi malah menggelitik telapak kaki Arby.
"Aaaaa!" Arby menjerit, bukan kesakitan, tapi kegelian.
Ishi menggelitik ketiak Arby, yang kiri, sedangkan Sachi yang kanan. Chiro memberikan semangat pada adik-adiknya.
"Ciap, jendlal."
Sungguh, anak-anaknya ini benar-benar pandai menyiksa Arby.
Tidak perlu olahraga yang ribet-ribet, ini sudah bisa membuat Arby ngos-ngosan.
Pria itu sampai terjatuh dari kasurnya.
"Menyelah, gak?"
"Iya, iya, Daddy nyerah."
Bukannya berhenti, Sachi, Ichi dan Ishi langsung duduk di atas perut Arby.
Freya terisak tapi juga tertawa.
Penampilan Arby sudah tidak karuan. Posisi anak-anaknya itu membuat dia susah untuk membalasnya.
Setelah Arby benar-benar tidak berdaya, anak-anaknya langsung bangun dari atas tubuhnya dan memeluk Freya.
"Aliennya cudah pelgi, Mom."
__ADS_1
"Iya. Kita olahraga pagi, yuk," ajak Freya.
Arby mendengus, mimpi apa dia tadi malam? Perasaan enggak mimpi aneh-aneh, cuma mimpi elus-elus manja sama Freya.
"Ayo Daddy, olahlaga. Bial gak lemes, maca gitu aja udah cakit pinggang."
"Namanya juga oyang tua."
Arby mengelus dadanya.
"Kalian kok gitu, sih? Daddy nangis nih," ucap Arby.
"Cup cup cup. Daddy jangan cedih. Ayo kita ke taman, yuk."
"Ayo." Arby tersenyum senang, karena anaknya membujuknya.
"Nanti beliin kami es klim ya, cama kue."
Senyum itu langsung sirna.
Mereka tiba di taman. Banyak orang-orang yang berolahraga raga di taman, maklum karena sekarang hari Minggu.
Anak-anak itu langsung bersemangat berlari. Bukannya apa-apa, tapi mereka menuju pedagang yang menjual makanan.
"Anak-anak kita kok begitu ya, Yang?"
Bukannya olahraga, mereka malah membeli berbagai jenis makanan.
Arby dan Freya tidak pernah khawatir dengan mereka yang gemar makan. Tidak khawatir dengan obesitas, karena anak-anaknya itu yang lincah dan banyak gerak, juga suka makan makanan yang berserat.
"Kamu mau apa, Yang?"
"Bubur ayam saja."
"Oke."
"Bubur ayam apa bubur kacang hijau, ya?" Freya jadi bingung sendiri.
"Bubur aku saja, Yang."
"Bubur kamu?"
"Iya, yang ini. Manis-manis gurih." Bibir menunjuk bibirnya sendiri sambil cengar-cengir.
Modus trossss!
__ADS_1