
Arby, Freya san Chiro sedang membuat sarapan. Chiro pagi ini ingin sarapan bubur ayam, bubur yang dulu sering Arby buatkan untuknya.
Aroma wangi dari bubur itu langsung membuat Freya merasa lapar. Dia bahkan yakin bisa menghabiskan lima mangkok sekaligus.
"Kamu kok putar banget sih, masaknya? Kenapa enggak buka restoran saja?"
"Yang begini saja banyak yang suka, gimana nanti kalau aku tambah kaya? Kan kamu yang repot, tiap hari cemberut muka karena enggak sanggup menahan cemburu."
Freya mendengkus, tapi dalam hati mengakui itu, pasti tambah banyak perempuan yang menyukai suami unyunya ini.
Arby menyuapi Freya bubur buatannya.
"Enak banget!" Freya lalu makan sendiri, tidak mau kalau Arby selalu menyuapi dirinya.
Ibu, anak dan ayah itu saling menyuapi, menikmati bubur itu dengan penuh rasa syukur.
Benar apa yang dipikirkan oleh Freya, dirinya selalu ingin nambah.
Arby menahan sedihnya, sebenarnya ini adalah salah satu makanan yang dulu, saat mereka masih kecil, sering Arby bawakan untuk Freya.
Freya yang dulu selalu dijaga dengan ketat oleh opa omanya, tidak bisa makan atau minum dengan bebas, meski sebenarnya makanan yang Freya inginkan itu hanya makanan sederhana.
__ADS_1
Takut enggak sehat
Takut kotor
Jadilah Freya kecil selalu makan makanan yang dibawakan oleh sahabat-sahabatnya, yang juga sebenarnya dimasak oleh koki profesional, tapin bagi Freya tetap saja berbeda.
Koki di rumah Freya, tentu saja akan membuatkan apa saja yang nona kecilnya itu minta, tapi Freya bosan, Freya juga ingin seperti anak kecil lainnya, yang bisa jajan di luar, main hujan, makan permen dan es krim yang dibeli di pinggir jalan.
Opa dan omanya sangat protektif, selalu menjaga Freya yang bagi mereka, demi kebaikan dan masa depan Freya.
Itulah mungkin, yang tanpa Freya ingat sekali lun, yang memuat dia dulu suka memasak, membuat kue-kue dan dijual ke warung-warung atau pasar.
"Nanti siang, aku masakin lagi yang lain buat kamu."
"Enggak, aku mau masakin buat kamu. Sekalian buat bekal piknik kita. Kamu mau makan apa?"
"Apa saja yang kamu buat, enggak usah yang ribet-ribet."
"Chiro mau apa? Biar daddy buatkan?"
"Apa saja yang daddy buat, Chiro pasti suka."
__ADS_1
Arby mengecup kening kedua orang kesayangannya itu. Untung saja istri dan anaknya itu bukan orang-orang yang banyak menuntut, harus ini harus itu.
Ponsel Arby berbunyi, tapi tidak dia pedulikan. Dia sudah tahu, kalau para sepupunya itu pasti mau merusuh. Memang sengaja tidak dia matikan juga ponselnya, biar mereka semakin kesal.
"Kenapa enggak diangkat-angkat, sih?" tanya Freya.
Freya yang bosan mendengar dering ponsel Arby itu, langsung mengangkat.
"Kenapa sih, gangguin suami aku mulu?" cetus Freya.
Yang lain langsung diam, tidak menyangka kalau nyonya besar yang mengangkatnya.
"Hehe, jangan ngambek dong, Freya. Arby mana?"
"Lagi masak, keren kan suami aku? Kalian bisa masak, tapi mau masak buat siapa coba? Anak tetangga?"
Enggak yang laki, enggak yang perempuan, sama menyebalkannya.
"Makanya, hidup tuh harus punya kemajuan, jangan begitu-begitu saja. Kalian kalau tuh cewek udah dihak patenkan sama pria lain, baru tahu rasa. Jomblo saja terus sana!"
Ya ampun, kejam banget!
__ADS_1
"Dah, jangan ganggu orang bulan madu. Cari istri, sana!"
Freya tertawa setelah menutup panggilan itu, suami dan istri itu sama saja!