Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
58 Bisnis Jangka Panjang


__ADS_3

Freya membuka pintu ruangan Arby, dilihatnya Jasmine yang mengelap kemeja putih Arby yang terkena kopi.


"Kamu boleh ke luar!"


Jasmine menunduk hormat pada Arby dan Freya. Setelah pintu tertutup rapat, duda itu langsung membuka jas, dasi, dan kemajanya di hadapan Freya.


"Kamu ngapain buka baju di hadapan aku?"


"Pamer roti sobek, dong. Lihat nih otot aku, kenceng, kan? Kamu enggak mau ngelus-ngelus, gitu? Kali aja kamu penasaran tapi malu mau megangnya."


"Dasar pea!"


Arby tak menyahuti, dia langsung masuk ke kamar pribadinya untuk mengganti baju.


Tak lama kemudian Jadmine masuk dengan membawa berbagai macam makanan dan minuman. Freya meringis, setiap kali membahas pekerjaan dengan Arby, seolah mereka sedang piknik.


Perusahaan FJ milik Arby memanv bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga dari pohak mama Freya yang bergerak di bidang entertainment, jadi mereka memang menggunakan perhiasan dari perusahaan FJ, yang entah kenapa Freya yang ditunjuk untuk mengaturnya.


"Sebenarnya enggak perlu formal banget lah, Frey, sudah pasti aku deal."


Freya melengos, ada gitu CEO yang main oke-oke saja tanpa memikirkan untung rugi?


Demi cintaku padamu, apa pun akan aku lakukan, ya seperti itulah kira-kira.


Tanpa membaca dulu, Arby main tanda tangan saja.


Enak banget nih kalau aku tipu, biar perusahaannya pindah ke tangan aku, hehehe.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Enggak."


Freya tidak tahu saja, kalau Arby seperti itu hanya padanya. Mana mungkin dia main tanda tangan jika itu orang lain. Toh mereka juga punya pengikat yang resmi, yaitu Chiro. Hartanya akan jatuh pada Chiro, begitu juga dengan harya Freya, akan menjadi milik Chiro jija mereka berdua tak memiliki adik untuk Chiro.


Asal dia jangan menikah dengan pria lain saja dan memberikan adik untuk Chiro. Entar aku bikin kamu janda dua kali kalau nikah sama orang lain.


Entah egois, cinta mati atau cinta buta, tapi seperti itulah Arby.


Baginya cinta itu ya harus diperjuangkan. Sok berjiwa besar banget orang-orang yang mengatakan aku rela kamu bersamanya, asal kamu bahagia meski tanpaku, tapi ujung-ujungnya nangis.


"Frey?"


"Hm?"


"Kamu tahu enggak? Semut, Semut apa yang manis?"


"Enggak."


"Semudah kita membuat anak, yuk bikin!"


Uhuk


Freya langsung tersedak jus mangga yang diminumnya.


"Jangan grogi, Frey. Enggak ada yang dengar kok."


Wanita itu langsung memasukkan roti unyil ke mulut Arby agar pria mesum itu segera bungkam.

__ADS_1


"Frey?"


"Hm?"


"Aku punya bisnis nih sama kamu. Keuntungannya tentu saja jangka panjang. Pembagiannya bisa 50:50, atau kamu 70 aku 30. Terserah kamu mau kaya gimana."


Pembicaraan mereka kini mulai serius.


"Biar nanti aku yang urus semuanya, kamu tinggal terima beres saja."


"Bisnis apa?"


Arby terlihat senang melihat Freya yang sangat antusias. Freya memang ingin punya perusahaan sendiri, tapi untuk awal tak apalah dia bekerja sama dengan orang lain dulu, termasuk sang mantan.


"Produksi, dari bahan mentah ke barang jadi. Bahannya tentu saja kualitas premium di pabrik yang terjamin kesterilannya. Aku akan mencari dokter terbaik untuk terus memantau perkembangannya."


"Hm, apa usaha parmasi?"


Mata Freya semakin terlihat berbinar, dia dokter dan seorang pengusaha, tentu saja bisnis ini akan sangat cocok untuknya dan bermanfaat untuk orang banyak.


"Ya sudah, aku mau. Nanti biar aku minta Mico yang mencari lahan untuk membuat pabriknya dan mengurus semua berkas dan perizinan."


Arby mendengkus.


"Jangan bawa-bawa orang lain, ini urusan kita berdua."


"Ish, memang kenapa, sih? Kan lebih baik bekerja dengan tim yanv kita kenal."


"Ini bukan perusahaan farmasi, Frey?"


"Terus, produksi apa? Oh, aku tahu ... alat kesehatan ya? Bagus juga sih, nanti alat kesehatan di klinik bisa semakin lengkap. Orang-orang yang berobat di sana juga padti senang kalau fadikitas lengkap dengan harga terjangkau, atau gratis."


"Bukan Frey, ini tidak ada hubungannya dengan itu."


"Terus?"


"Produksi baby untuk teman main Chiro. Kan investadi jangka panjang itu, kalau punya keturunan, semakin banyaj semakin bagus. Kata orang banyak anak, banyak rejeki. Nanti cucu kita juga bakalan banyak, hehehe ...."


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


"Aaaa ... sakit sakit sakit."


Freya menggigit pundak Arby, kebetulan jas pria itu dilepas, jadi gigitannya sangat terasa. Doalnya kalau nyumpal mulut Arby pakai makanan, enak di Arby, kenyang.


"Jangan di situ gigitnya, pindah ke bawah yang enakan!"


"Aaaa ... awww, aaaa ... awww, aaaa ... awww."


"Ah, kamu mah, kalau sepi aja, agresif. Kalau ramai sok malu-malu tapi mau! Aaaa Chiro tolongin daddy!"


Mereka berdua sama-sama ngos-ngosan. Yang satu ngos-ngosan karena tersiksa, yang satu ngos-ngosan karena menyiksa.


Mereka berdua saling pandang, dengan sorot mata yang menyimpan berjuta makna. Perlahan, Arby mendekatkan wajahnya, lalu mencium Freya. Arby semakin memperdalam ciuman itu, merasakan sensasi yang sulit dia artikan dengan kata-kata.

__ADS_1


Drrttt ... drrttt ...


Suara ponsel menyadarkan Freya, dia langsung mendorong Arby yang terjungkal ke belakang. Wanita itu lalu masuk ke kamar pribadi Arby begitu saja.


Arby mendengkus kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Siapa sih nih, yang nelp? Ganggu aja! Awas saja kalau enggak penting, aku cekek nih orang!


Arby lalu melihat nama penelepon.


Chiro.


Enggak jadi aku cekek! Nanti lebih banyak yang nyekek aku, apalagi mommynya. Bisa-bisa aku gagal produksi baby unyu.


"Ya Chiro, kenapa Sayang?"


"Enggak papa Daddy, ponsel Chiro tadi kepencet. Sudah dulu Daddy, Chiro lagi sibuk, jadi Daddy jangan ganggu Chiro. Daddy yang baik ya di sana, jangan nakal, nanti Chiro adukan ke mommy."


Tut ... tutt ... tuttt


Arby mengerjap-ngerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Kepencet?


Lagi sibuk?


Jangan ganggu?


Jangan nakal?


Adukan ke mommy?


Aaa Chiro, daddy lebih sibuk dari kamu, kamu yang sudah mengganggu daddy, kamu yang nakal karena ponselmu kepencet, apa yang mau kamu adukan ke mommy, mommymu saja lagi sama daddy, dan sekarang lagi ngumpet di kamar mandi.


Arby mengacak-ngacak rambutnya yang sudah berantakan, kini semakin berantakan. Dilonggarkannya dasi di lehernya, yang membuatnya sesak nafas.


Kalau nelp karena ada yang penting sih, enggak apa. Lah ini, apa katanya? Kepencet? Sungguh alasan yang membuatku sakit hati.


Pintu kamar Arby terbuka, Freya berlari kecil dan menyambar tasnya. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung ke luar ruang kerja Arby.


Evan dan Jasmine kaget melihat Freya yang keluar dari ruangan Arby dengan wajah merah dan terlihat gugup.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya Jasmine polos. Sedangkan Evan yang tahu watak Arby bagaimana jika bersama Freya, hanya meringis.


Freya tak menjawab, dia lalu berlari menuju lift.


"Woy Frey, jangan kabur dulu. Ini bagaimana meeting kita, belum selesai."


"Bodo amat, kamu urus saja sana sendiri, aku lagi sibuk."


Cih, kamu sama Chiro memang sibuk apa, sih?


Arby berusaha menyusul Freya, namun pintu lift keburu tertutup dan Freya sudah pergi.


Evan dan Jasmine yang melihat penamoilan Arby, hanya bisa menelan saliva mereka. Penampilan Arby benar-benar dramatis.


Banyak noda lipstik di bagian lundaknya, dasinya berantakan, rambutnya acak-acakan, bajunya lecek, dan ada bekas gigitan juga di baju bagian pundak.

__ADS_1


Kan pikiran mereka jadi ikut travelling ....


__ADS_2