Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
80 Arby Dan Chiro


__ADS_3

Dengan wajah cemberut dan sangar, menghentakkan kaki dan tangan terkepal, pria itu sudah siap bertempur.


Bukannya bertempur di ranjang bersama bebeb, malah harus ngurusin para jomblo yang kehilangan bapaknya (tidak mungkin dia menyebut dirinya induk).


Dibukanya pintu itu.


"Kenapa Daddy lama sekali. Chiro sudah sangat ngantuk, mau bobo. Ayo Daddy, kita bobo."


Arby seperti terhipnotis. Taring dan tanduk yang tadinya sudah keluar, kini rontok begitu saja.


Para sepupu songongnya itu menahan tawa.


"Tuh, mau kamu apakan Chiro yang mengganggu malam pertama kamu?"


Mereka langsung kabur sebelum menjadi pelampiasan Arby yang tidak bisa disalurkan kepada Chiro.


Arby menutup pintu, dan dilihatnya Chiro yang sudah terkantuk-kantuk, tapi masih belum tidur.


"Bobo, Chiro." Dipeluknya tubuh anaknya itu, dan langsung terdengar suara dengkuran.


Keesokan paginya


Mereka berkumpul di tepi kolam renang untuk sarapan.


Mereka melihat wajah Arby yang sejak tadi pagi berbeda.

__ADS_1


"Ya elah, gagal malam pertama enggak usah sampai setres begitu kali, Ar," ucap Anya, kakak Freya.


Mereka semua tahu apa yang terjadi tadi malam.


"Bukan, bukan itu. Tapi ... aku dan Chiro kan memang tidak bisa tidur terpisah. Lalu ...."


Mereka semua terdiam, kecuali Freya yang terlihat bingung.


Oke, ini tidak bisa dianggap sepele.


Pertama, Chiro akan dewasa, lalu sampai kapan akan seperti ini?


Kedua, Arby dan Freya sudah kembali menikah, lalu bagaimana cara menangani masalah ini?


Arby sendiri memang tidak bisa tidur tanpa Chiro, begitu juga sebaliknya. Hal yang sudah bertahun-tahun terjadi, dan sekarang perlu diperhatikan dengan baik.


"Kita bisa bicara pelan-pelan pada Chiro. Beri pengertian padanya, tidak bisa terburu-buru. Begitu juga dengan kamu, Arby."


Tentu saja Arby juga harus berkonsultasi dengan psikolog mengenai dirinya sendiri.


"Memangnya kenapa kamu tidak bisa tidur tanpa Chiro?" tanya Freya.


Arby diam, bingung mau jawab apa.


"Itu karena daddy takut Ecan hilang, Mommy." Chiro tiba-tiba saja dengan pakaian basah, karena dia baru saja berenang.

__ADS_1


"Hilang?"


"Iya, mungkin daddy takut Ecan pergi sama seperti ...."


"Chiro, ayo mandi dan ganti baju, nanti kamu masuk angin." Arby langsung memotong perkataan Chiro, sebelum anak itu menceritakan sesuatu pada Freya.


"Kamu belum makan, ayo sini aku suapin." Arby langsung menyuapi Freya, u untuk mengalihkan perhatian istrinya.


Arby sudah tidak mau membuka luka lama. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Yang penting adalah masa depannya, dan itu tetap bersama Freya dan anak-anaknya nanti.


Dia selalu berdoa agar rumah tangganya akan selalu baik-baik saja. Masalah pasti ada, karena tidak ada yang berjalan mulus tanpa kerikil. Tapi apa pun yang terjadi, apa pun masalah itu, dia berharap mereka bisa menghadapi semuanya bersama. Tidak ada lagi perpisahan. Cukup satu kali saja dia mengalami kegagalan, jangan sampai yang kedua kalinya, apalagi dengan orang yang sama.


Cup


Arby langsung mengecup pipi Freya


Pluk


Kulit pisang hadir di hadapannya, siapa lagi pelakukanya kalau bukan Marcell.


"Mentang-mentang sudah sah, enggak mau rugi banget kamu."


"Ini adalah rejeki, jangan disia-siakan. Harus disyukuri, masa aku harus cemberut."


"Halah, alasan. Dasar soang!"

__ADS_1


"Gitu tuh, kalau orang ngirian. Cuma bisa ngayal tapi enggak bisa ngewujudin."


"Makin lama dia makin ngeselin!"


__ADS_2