Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
53 Bidadari Surga


__ADS_3

Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku.


Aku sadar bukanlah orang yang sempurna.


Dengan ketak sempurnaan ini, aku memaksa ingin memilikimu.


Diawali dengan janji kelingking, kemudian aku ingin mengikatnya dalam sebuah akad.


Aku menyayangi dirimu, bahkan di saat dirimu belum fasih menyebut huruf R.


Perjalanan kisah kita bagai rel yang saling terhubung, bercabang, meliuk.


Didera panas dan hujan, namun tetap kokoh di tempat yang sama, seperti itulah hatiku padamu.


Aku mencintaimu, gadis kecilku.


Aku merindukanmu, belahan jiwaku.


Aku menyayangimu, bidadari surgaku.


Bila kau air, jadikan aku tempatmu bermuara.


Cukup bagimu untuk bermimpi, karena ada aku dalam nyatamu.


Jangan lagi kamu tertidur, karena ada aku yang menunggu dalam sadarmu.


Ayo sekali lagi kita mengucap janji.


Sekali lagi aku ingin menghalalkanmu, dalam akad.


Aku memintamu kembali


Ibu dari anakku


Pelipur laraku


Belahan jiwaku


Pasangan hidupku


Bidadari surgaku ...


πŸƒ Arby Erlangga Abraham πŸƒ


Aku mungkin mengabaikan rasanya dicintai


Dan tak mengerti bagaimana mencintai


Dicintai tanpa mencintai, terasa hambar


Mencintai tanpa dicintai, terasa sakit


Aku merasa ada yang mengganjal dalam hidupku


Aku ingin melangkah


Menjauh dan tak kembali


Namun kakiku tertahan


Membuatku diam di tempat


Aku memandang langit,


Yang bagiku seperti potongan-potongan puzle yang harus kususun


Di sini sepi


Tak ada tawa


Semilir angin, bagaikan isakan pilu yang menuntutku untuk pulang


Pulang?


Bukankah pulang itu berarti kembali ke rumah?


Pulang, dan hiasi rumahmu dengan cara yang baru


Bukankah ini yang kamu inginkan?


Memulai hidup baru tanpa mengingat rasa sakit


🍁 Freya Canaya Zanuar 🍁


.


.

__ADS_1


.


Tangan itu bergerak, diiringi mata yang perlahan terbuka.


"Mommmm,Mommy bangun!"


Erlang langsung menghampiri, lalu menekan tombol untuk memanggil dokter.


Dokter dan perawat berlari memasuki ruang ICU, membuat orang-orang yang menunggu di ruang keluarga pasien menjadi panik. Erlang dan Chiro yang ke luar karena diminta oleh dokter, langsung diserbu dengan banyak pertanyaan.


"Kenapa?"


"Apa yang terjadi?"


"Dia baik-baik saja, kan?"


"Dia bangun, dia sudah sadar!"


Ucap syukur dan tangis bahagia terdengar.


Di dalam ruang ICU


"Naya, apa kamu bisa mendengar saya?"


Tidak ada jawaban dari Naya, matanya hanya menatap dokter dengan tatapan kosong.


"Apa kamu merasakan sakit di bagian tertentu?"


Tetap tak ada jawaban, membuat dokter dan perawat saling menatap.


"Apa kamu melihat saya?"


Lagi-lagi Naya hanya diam.


"Cepat panggil dokter yang lain," ucap dokter itu pada perawat.


"Baik, Dok."


Perawat langsung ke luar, yang juga disambut dengan pertanyaan dari yang lain.


"Bagaimana, Sus?"


"Apa ...."


"Maaf, saya harus memanggil dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut."


Dokter mengarahkan senter kecil ke mata Naya, memeriksa bagian mulutnya, telinga.


"Kenapa dia tak merespon?"


.


.


.


Mereka berembuk di ruang keluarga, membicarakan kondisi Naya.


"Kita tunggu beberapa waktu, bisa jadi ini efek samping sesaat setelah operasi dan baru sadar sekarang."


Prang


Suara yang terdengar dari ruangan ICU membuat mereka terlonjak dan berlari ke dalam.


Mereka melihat tiang infus yang terjatuh di sisi brankar Naya. Semua peralatan medis memang sudah dilepas, kecuali infus, namun sekarang infus yang masih terpasang di lengan Naya itu terjatuh.


Mereka akhirnya melihat Naya yang sudah bangun, begitu juga dengan Naya yang melihat wajah mereka satu persatu.


Mereka memeluk Naya secara bergantian, merasa senang akan sadarnya Naya, sementara dokter membenarkan infus Naya dan kembali memeriksa keadaaannya.


Saat Chiro, Erlang, dan keluarganya memeluknya, ada perasaan berbeda yang dia rasakan.


"Mommy, mommy baik-baik saja?"


Naya mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat wajah anak laki-laki berkepala botak namun terlihat tampan.


"Mo ... mommy? Siapa mommymu?"


"Kalian siapa?" tanyanya lagi.


"Freya? Kamu tidak mengenal kami?"


"Mommy, Mommy tidak mengenal Ecan? Ini Ecan, anak Mommy."


"Kami keluargamu, dan mereka sahabat-sahabatmu."


Naya kembali memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Jadi aku sudah punya anak?"


Naya terlihat bingung, namun hatinya tak menolak, tidak ada sikap curiga atau rasa tak percaya. Saat melihat mereka, Naya seperti tak asing, seperti memang telah mengenal mereka sejak lama. Hanya saja tak tahu kapan, di mana, atau bagaimana.


"Iya, Mommy. Ini Ecan, anak Mommy. Apa Mommy melupakan Ecan?" tanyanya dengan suara bergetar. Erlang memegang tangan kecil Chiro, dirinya pun tak tahu harus berbuat apa.


Lagi, apa kamu kembali melupakan kami?


"Hm, maafkan Mommy, Ecan."


Naya yang tak tega dan hatinya merasa bersalah itu, jadi ikut merasakan kesedihan juga.


"Jangan bersedih, Mommy. Tak apa Mommy melupakan Ecan, yang penting Ecan selalu mengingat Mommy. Bila Mommy lupa, cukup Ecan saja yang ingat. Bahkan bila seumur hidup Mommy melupakan Ecan, tak apa, Ecan tetap akan bersama Mommy."


Seperti pernah mendengar kalimat yang seperti ini, di mana, ya?


Naya meneteskan air matanya.


"Tak apa, jangan memaksa untuk mengingat," ucap Elang sambil memegang pundak Naya.


"Kamu siapa?"


"Ini daddy, Mommy."


"Oh, jadi kamu suami aku?" tanya Naya dengan wajah tersenyum. Senyuman yang terlihat lepas.


Deg


Deg


Deg


Jantung Erlang berdetak kencang. Ingin sekali dia berkata iya, aku suami kamu, tanpa ada embel-embel tapi kita sudah bepisah. Tapi apa jadinya kalau dia berbohong, dan Freya akan marah besar setelah kembali mengingat semuanya. Dia tidak ingin memulai semua ini dengan kebohongan. Tapi, haruskah dia menyia-nyiakan kesempatan ini?


"Tidak Mommy, Mommy dan daddy sudah berpisah."


Erlang menghela nafas, anaknya ternyata lebih gesit menjawab.


"Hah? Jadi aku janda?" senyum yang tadi ada di wajah Naya, mendadak hilang.


Yang menjadi fokus orang-orang saat ini, bukan hanya Naya yang kembali tak ingat apa-apa, melainkan ekspresi yang ada di wajahnya. Mereka yang telah lama mengenal Naya, tentu tahu bagaimana karakter Naya.


Sekarang yang mereka lihat adalah, Naya memang lebih ekspresif, lebih rileks, lebil welcome. Tidak ada penolakan saat Chiro mengatakan dia adalah anaknya, tidak ada kemarahan saat dia mengatakan seorang janda, walau memang terlihat kaget. Dia tidak terlihat takut layaknya orang asing yang bertemu dengan orang asing.


.


.


.


"Ingatannya masih bisa kembali, meski tidak tahu kapan. Yang paling penting, jangan menyembunyikan apa-apa padanya, sehingga dia tidak memaksakan diri untuk mengingatnya sendiri. Jawab saja apa adanya semua yang dia tanyakan."


Dokter terus memantau kondisi Naya sepanjang hari.


"Naya, ka ...."


"Naya? Siapa Naya?"


"Namamu Freya Canaya Zanuar, dipanggil Freya, namun juga dipanggil Naya."


"Begini saja, biar tidak bingung, kami akan memanggilmu Freya, tapi teman-teman sesama dokter dan perawat memanggilmu Naya."


"Jadi aku dokter?"


"Iya, kamu juga punya usaha sendiri."


"Sudah, jangan pikirkan itu dulu, yang penting kamu sehat dan segera pulang."


Pulang?


Aku memintamu pulang, bidadari surgaku.




Cerita baru ... baru 1 bab.


Aku tuh dari kemarin-kemarin galau, mau ngeluncurin yang thriller, mafia, time travel atau yang Mother dulu. Tapi akhirnya pilihan jatuh ke yang ini.


Yang time travel, aku belum siap lahir batin (berasa kaya dilamarπŸ˜‚)


Dukung juga ya, yang MOTHER, semoga kalian suka. Untuk cerita yang lain, semoga cepat nyusul di publish.


Oya, di tempat kalian, cerita Jarak dan Akibat Pernikahan Dini ada tulisan YOU ARE WRITER SEASON 6 gak sih, kaya yang Mother ini? Di tempatku enggak ada, padahal dah lama aku daftarin ke kontes.


Thanks, buat kalian semua yang membaca karyaku.πŸ˜ŠπŸ˜ƒ

__ADS_1


__ADS_2