Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
107 Cemen


__ADS_3

Freya melihat barang-barang yang dibelikan oleh Arby. Tidak terhitung berapa banyak baju yang dibeli, tas, sepatu, perhiasan, kosmetik, minyak wangi.


"Kenapa harus membeli sebanyak ini?"


"Ini enggak seberapa."


Tentu saja bagi Arby biru tidak seberapa. Seharinya lebih banyak lagi, kan. Mengingat mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun, seharusnya banyak yang bisa Arby belikan untuk perempuan yang kembali menjadi istrinya itu.


Freya jadi berpikir, jangan sampai perempuan lain tahu bagaimana Arby, bisa-bisa mereka semakin berambisi untuk merebut Arby. Rasa cemas tentu saja ada dalam diri setiap istri, takut suaminya tergoda oleh pelakor.


Arby membantu Freya merapihkan barang-barang itu. Chiro sendiri juga banyak membeli, tapi bukan baju apalagi mainan. Dia membeli banyak buku, yang semuanya berbahasa Jepang dengan tulisan Kanji yang rumit.


"Chiro memang mau jadi apa?"


Chiro suka menggambar, seperti Arby.


Dia juga suka membaca buku kedokteran, meski tidak ada yang menyuruhnya.


Dia juga membaca buku tentang bisnis dan segala yang berhubungan dengan itu.


Chiro tidak langsung menjawab pertanyaan Freya, dia sendiri suka melakukan banyak hal. Freya tidak memaksa, dan tersenyum melihat wajah anaknya yang terlihat bingung.


"Apa pun yang Chiro pilih, mommy dan daddy tidak akan memaksa atau melarang."


Chiro mendekati Freya, lalu memeluk Freya dengan kasih sayang yang besar. Arby tentu saja enggak mau rugi, pria itu memeluk Chiro dan Freya sekaligus.

__ADS_1


Ponsel Freya berbunyi.


[Mereka sudah pergi.]


Freya tersenyum membaca pesan itu.


"Pesan dari siapa?"


"Dari Rei."


Langit Tokyo malam ini cerah. Mereka makan ramen, melihat para pejalan kaki yang hilir mudik. Segala sesuatu yang dulu Arby rasakan biasa-biasa saja, mendadak menjadi sangat enak.


Ramen ini sangat enak. Dulu dia beberapa kali makan ramen di sini, tapi baginya, rasanya biasa-biasa saja.


Chiro pun merasa begitu, meski bagi dia, makanan yang paling enak tetap saja masakan mommy dan daddy tersayangnya.


Dia tidak perlu iri lagi pada setiap anak yang memiliki mommy. Jika mereka pamer, maka dia bisa jauh lebih pamer.


Sekarang, yang teman-temannya pamer, adalah adik mereka.


"Aku punya adik, dong. Kamu enggak punya."


Dan Chiro sebel karena itu, tapi dia diam saja. Tidak mungkin dia mengadu pada Freya dan Arby.


Kalau dedek bayi itu bisa dibeli, pasti punyaku lebih banyak dari mereka.

__ADS_1


Namun, sebuah pertanyaan terlintas dalam pikiran Chiro.


"Daddy?"


"Ya?"


"Dedek bayi itu, enggak bisa dibeli, kan?"


"Iya."


"Berarti dibikin?"


"Hmmm ... ya, begitulah."


"Bagaimana cara membuatnya? Ayo cepet bikin, Daddy. Masa Daddy bisa membuat perhiasan, tapi enggak bisa bikin bayi? Jangan mau kalah dengan daddy-daddy teman Chiro, nanti Daddy dikatain loh, sama mereka. Dikatain cemen!"


Freya dan Arby langsung tersedak ramen mereka, mana ramennya pedas, lagi.


Arby jadi senyum-senyum sendiri, manyun lagi, senyum-senyum lagi, manyun lagi.


Aku, yang seganteng dan sekeren ini, sekaya ini, dikatain cemen oleh anak kecil? Anak siapa mereka itu? Enggak tahu apa, kalau ayah mereka tidak sekeren diriku? Apa mereka enggak tahu, kalau hampir setiap hari aku menyumbang banyak kecebong pada Freya.


Tentu saja mereka tidak tahu, Arbyyyy!


Para kecebong itu sudah mengkhianati diriku.

__ADS_1


__ADS_2