Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
49 Air Mata Nakal Dan Ingin Jadi Anak Soleh


__ADS_3

"Rei, kamu kok gitu amat lihatin aku, kenapa?"


"Kamu, ingat aku, Nay?"


"Ya ingat lah, empat tahun kita kuliah bareng, kerja bareng, tinggal bareng, masa bisa lupa."


Naya menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Kirei.


Mereka yang ada di sana, menatap sedih pada Naya yang terlihat seperti orang pikun, tiba-tiba melupakan seseorang, lalu ingat lagi dengan sendirinya.


"Frey, ayo kita menikah," pinta Erlang untuk yang kesekian kalinya.


"Sudah kubilang, kamu bisa menjadi duda untuk yang kedua kalinya, karena perempuan yang sama. Nanti kamu diketawain orang-orang."


Dan untuk yang kesekian kalinya Naya menolak.


Mommy Chiro itu lalu mengambil kotak kecil dari dalam laci, dia memberikannya kepada Erlang.


"Ini milikmu, aku lupa mengembalikannya padamu, dulu."


Erlang membuka kotak itu. Di dalamnya ada kalung yang berbandulkan cincin. Cincin pernikahan dia dengan Freya dulu, yang dia sematkan di jari manis Freya saat wanita itu sedang hamil tiga bulan.


Cincin yang dia sematkan diam-diam saat Freya tidur.


Saat pertemuan terakhir mereka di cafe dulu, tempat dia mentalak Freya, masih terekam jelas dalam ingatannya bahwa Freya masih menggunakan cincin itu, namun Arby diam saja, tak ingin Freya mengembalikannya, berharap jika cincin itu masih berada oada Freya, maka akan terus mengingatkan Freya akan dirinya.


Dan nyatanya, wanita itu masih menyimpan cincin itu, disematkan disebuah kalung.


"Sudah saatnya aku mengembalikan semua ini padamu."


"Tidak, ini milikmu. Akan selalu menjadi milikmu."


Erlang memasangkan kalung berbandul cincin itu di leher putih Naya, lalu mencium keningnya.


.

__ADS_1


.


.


Naya menangis terisak, tidak lagi dapat menahan air matanya. Mico menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Naya mengusap air matanya, menetralkan deru nafasnya agar berhenti sesenggukan. Perlahan Mico memeluk Naya, mencoba memberinya kekuatan, meskipun dirinya sendiri juga merasa sangat sedih. Di saat yang bersamaan, Erlang datang dan melihat hal membuat dia sangat kesal. Di dalam ruangan itu memang hanya ada Naya dan Mico saja, membuat Erlang semakin cemburu.


Mico membisikkan sesuatu di tekinga Naya, sambil matanya melirik pada Erlang. Naya tertawa sambil menyedot ingusnya.


"Ish, jorok, Ya."


Lagi, wanita itu tertawa pelan.


"Ya udah, aku pergi dulu. Nanti ke sini lagi."


Hanya ada keheningan setelah kepergian Mico.


"By?" Naya akhirnya membuka suara, membuat jantung Erlang berdetak kencang saat perempuan itu memanggil dirinya By atau Aby.


"Ya?"


"Apa?"


"Tolong ... jangan bawa Chiro lagi. Aku, tidak ingin bertemu dengan Chiro."


"Maksud kamu apa, Frey?"


"Aku tidak ingin Chiro menemuiku lagi."


"Freya!"


"Jangan bawa Chiro!"


"Kamu tidak kasihan sama Chiro? Dia sering menangisimu, merindukanmu, dan menyayangimu. Kamu ingin membuat dia kembali menangis?"

__ADS_1


"Justru itu ... justru itu yang tidak aku harapkan. Aku tidak ingin membuat dia menangis saat melihat keadaanku. Aku tidak sanggup melihat dia menangis, dan tahu bahwa aku lah penyebabnya. Biarlah dia membenciku saat ini, dan berpikir bahwa aku tak menyayanginya. Karena, jika saatnya nanti aku benar-benar pergi meninggalkannya, dia sudah terbiasa tanpa kehadiranku."


"Kamj ini bicara apa, Frey? Siapa yang bilang kamu akan pergi? Kamu akan tetap bersama kami."


"By, aku ini bukan hanya seorang pasien, tapi juga dokter. Aku cukup tahu bagaimana kondisiku. Kamubtahu, bagaimana perasaan dokter yang gagal mengobati pasiennya, terutama gagal di ruang operasi? Saat melihat tangis anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang kehilangan anaknya, seseorang yang kehilangan pasangan hidupnya, sahabat yang kehikangan sahabat lainnya ... kami, sebagai dokter sudah sering melihat hal itu. Bagaimana memberi kata-kata motivasi dan penyemangat untuk keluarga pasien, hanya sekedar agar mereka tak menyerah, namun tetap saja, kami tahu resiko apa yang bisa saja terjadi. Bukan hanya mereka (pihak keluarga) yang sedih dan menangis pilu, kami juga ikut merasakannya, namun tak menunjukkannya. Kami, lebih sering melihat pintu kematian daripada kalian. Aku yang sering melihat pasien berbaring di ruang operasi, apa harus merasakannya lagi sebagai pasien? Apa kamu tahu, bagaimana rasanya menunggu didepan ruang operasi, terus memandangi pintu dan lampu yang menyala, saat pintu terbuka, berharap dokter mengatakan berita baik, namun ternyata ...."


"Cukup, Frey! Jangan teruskan lagi!"


Mereka sama-sama menggigit bibir masing-masing, sama-sama mengeluarkan air mata tanpa suara.


"Aku cukup sadar diri kalau aku bukan mommy yang baik untuk Chiro. Bukan istri yang baik saat kita bersama, bukan sahabat yang baik untuk mereka, terutama pada Nuna, bukan saudara yang baik untuk kak Anya dan Vanya, juga bukan anak dan cucu yang baik untuk papa mama dan opa oma. Aku ... tidak ingin kalian terlalu berharap akan operasi yang kemungkinan gagalnya bahkan lebih besar daripada kesuksesannya."


"Diam, Frey! Kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan takdir!"


"Aku, hanya takut. Meskipun aku dokter, aku juga manusia biasa yang punya rasa takut."


Aku juga takut, Frey. Tapi aku berharap akan mukjizat itu.


"Jadi ... katakan pada Chiro kalau aku sudah pergi, entah ke mana, dan jangan mencariku. Biarkan dia melupakanku dengan kebenciannya, agar dia tak pernah lagi menangisiku. Dan kamu, jika aku bisa meminta satu lagi padamu, jika kelak kamu menikah lagi, tolong carilah wanita yang disukai oleh Chiro, karena wanita itu pasti akan tulus menyayanginya. Menikahlah ...."


Belum sempat Naya menyelesaikan ucapannya, Erlang sudah membekap bibir itu dengan bibirnya, agar Naya tak lagi membicarakan hal-hal yang menyesakkan hati.


Ciuman yang penuh perasaan. Masing-masing dari mereka bisa merasakan air mata yang mengalir, ikut membasahi bibir keduanya.


Di balik pintu, Chiro menangis sambil membekap mulutnya. Dia sudah mendengar semua pembicaraan mommy dan daddynya.


"Uncle, ayo kita pulang saja. Mommy tidak ingin bertemu Chiro."


"Bukan begitu, Chiro. Maksud mommy ...."


"Uncle, mommy bilang tidak ingin bertemu Chiro dan melihat Chiro menangis. Tapi air mata Chiro dari tadi ke luar terus, Uncle. Padahal sudah Chiro suruh berhenti, tapi dia keluar lagi, keluar lagi. Air mata Chiro nakal, Uncle. Dia enggak mau nurut sama Chiro. Tuh, lihat kan, malah tambah deras. Ayo, Uncle, ayo."


Ikmal tak mampu lagi berkata, terutama Nuna. Sejak tadi mereka bertiga menguping pembicaraan Erlang dan Naya. Mereka bersandar di tembok sambil duduk, mendengarkan semua itu dalam diam.


"Uncle, Chiro sudah janji akan nurut apa saja yang mommy bilang. Mommy tidak ingin bertemu Chiro, dan melihat Chiro menangis. Jadi Chiro akan nurut. Tapi kenapa air mata Chiro gak mau nurut juga. Chiro mau jadi anak soleh, Uncle, dan membuat mommy senang."

__ADS_1


Sungguh, hati Ikmal dan Nuna seperti diremas-diremas.


Chiro sudah jadi anak yang soleh sejak dulu.


__ADS_2