
Setiap hari, saat pulang sekolah, Chiro akan selalu membelikan boneka untuk adik bayinya, yang masih ada dalam perut Freya. Freya sendiri jadi cemas, bagaimana kalau anaknya laki-laki lagi? Apa Chiro akan kecewa. Sudah banyak jenis boneka yang dia beli, kecuali ....
Boneka buaya
"Kalau aku beli boneka buaya, itu akan mengingatkan aku pada uncle Marcell."
"Kenapa begitu, Chiro?"
"Karena kata aunty Nania, uncle Marcell itu buaya darat. Jadi cukup melihat uncle Marcell saja kalau adik mau melihat buaya."
Anjirrr! Batin Marcell.
Tapi sebenarnya buaya itu hewan yang setia kan, dia hanya memiliki satu pasangan saja.
Pokoknya, boneka apa pun yang bagi Chiro jelek, dia tidak mau membelikannya untuk adiknya.
"Teman-teman Chiro itu kalau berantem sama yang lain suka ngatain babi, monyet, anjing, Mom. Jadi Chiro enggak suka. Adik bayi kan lucu dan baik."
"Radhi dan Raine kan juga suka dikatain begitu sama mereka."
"Terus?"
"Terus Chiro bilang saja kalau mereka itu serigala berbulu domba."
"Kenapa begitu?"
"Ya kan mereka lebih enggak jelas lagi, serigala atau domba? Apa mungkin mereka hasil peranakan serigala dan domba?"
__ADS_1
Arby langsung tertawa kencang. Dia sudah tahu, kalau anaknya itu tidak mudah ditindas oleh orang.
"Bagus Chiro, kamu tidak boleh takut dengan orang-orang seperti mereka."
"Iya. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tapi Chiro pernah memukul mereka."
"Kenapa?"
"Karena Chiro suka dijemput sama para uncle."
"Memangnya kenapa?"
"Mereka bilang, mommy suka gonta-ganti pria. Jadi Chiro enggak jelas anak siapa. Mereka suka sekali mengatai mommy Chiro dan mommy Radhi Raine. Katanya mommy kami perempuan enggak jelas, yang masih muda tapi sudah punya anak."
Para pria itu mengepalkan tangannya. Mereka tidak suka kalau ada yang menghina Chiro, Radhi dan Raine, yang tidak tahu apa-apa soal masalah orang tua mereka dulu.
Sedangkan Freya, dia hanya tersenyum saja.
💧💧💧
Keesokan siangnya, berderet mobil mewah memasuki sekolah Chiro. Dan turunlah para pria tampan dan satu perempuan cantik dari mobil itu.
Ibu-ibu yang menunggu anak mereka pulang, meneguk saliva mereka. Wajah mereka menunjukkan wajah iri, ingi juga dikelilingi oleh para pria itu.
__ADS_1
Freya, denga santainya, merangkul pria di kanan dan kirinya, melebarkan senyum di wajahnya.
Di kanannya dia menggandeng Arby, di kirinya dia menggandeng Mico. Di belakangnya ada Ikbal dan yang lain.
Persis seperti ratu dengan banyak pengawal.
Ngiri kan, kalian!
Marcell, menggunakan kaca mata hitamnya, bergaya sok cool.
Apa kalian tahu seperti apa itu hot man? Ya seperti aku.
Prettt!
"Selamat siang, Nyonya Freya."
Freya melirik sekilas perempuan yang memanggilnya itu. Perempuan itu seperti toko emas berjalan. Dia saja yang suaminya memiliki perusahaan perhiasan, enggak gitu-gitu amat.
Bibirnya merah darah, yang ada kalam pikiran Freya adalah drakula betina yang baru saja menghisap darah.
Bajunya merah, sepatunya juga merah, tas, dan jepitan rambutnya juga merah.
Freya menghela nafas, merasa heran.
Akun saja yang suka pada warna merah, enggak gitu-gitu amat.
Arby cs juga ngeri sendiri melihat perempuan itu. Kenapa warna merah yang bagus dipakai Freya, mendadak seperti warna mengerikan saat dipakai perempuan itu.
__ADS_1
"Anda ingin menjemput anak Anda?"
"Iya, sekalian mau pamer kalau aku punya banyak pria tampan di sisiku."