
Di sepanjang perjalanan, Arby sibuk nyanyi.
Hari ini indah banget.
Bahkan kemacetan yang terjadi di jam makan siang ini tak dia hiraukan, karena suasana hatinya sedang sangat bagus.
Arby juga menyuruh semua sahabat-sahabatnya ke kantornya.
Sesampainya di perusahaan, dia turun dengan wajah tersenyum, membuat para karyawan yang selama ini tidak pernah melihat bosnya tersenyum, langsung merasa heran.
Tiba di lantai ruangannya, dia langsung menyapa Evan, tanpa mempedulikan Jasmine.
"Evan, aku kasih bonus bulan ini untukmu, satu bulan gaji."
Evan melongo, apa benar apa yang dia dengar. Sebelum Arby memasuki ruangannya, dia berhenti dan melihat Jasmine.
"Buat Jasmine juga, aku kasih bonus satu bulan gaji," ucap Arby tanpa senyum.
Senyumnya mahal, hanya untuk Freya seorang.
Nanti kalau Evan dikasih, sedangkan Jasmine tidak, ada yang iri.
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, pasukan yang dipanggil Arby datang. Pria itu langsung menyambut kedatangan mereka dengan pelukan.
"Apaan, sih, Ar? Main peluk-peluk, aja."
"Tahu nih, bikin geli."
"Aku mau nikah, dong," katanya sumringah.
"Hah? Sama siapa?"
"Ck, pakai segala nanya. Kamu pikir siapa lagi yang pantas menjadi istri aku dan ibu dari anak-anakku, juga nenek dari cucu-cucuku, buyut dari cicit-cicitku, ne ...."
"Stop stop stop!"
"Freya?"
"Ya iyalah."
"Memang kamu sudah melamar dia?"
"Belum."
Tapi aku lah yang dilamar dia. Hahaha ... hihihi ... huhuhu ... hehehe ... hohoho ... xixixi ... wkwkwk ....
Segala jenis ketawa dikeluarkan olehnya, namun hanya dalam hati.
"Emang dia bakalan mau?"
"Mau, dong!"
"Tahu dari mana?"
"Dari hatiku, masa hatimu, kan yang mau nikah aku, bukan kamu."
"Dasar pea."
"Somplak."
"Kalau ditolak Freya, aku bakalan ngakak."
"Dih, bilang saja kalian pada ngiri. Aku udah mau dua kali nikah sama perempuan yamg sama. Nah kalian, satu aja belum, hahaha. Si Marcell, dari SMP ngejar cewek yang sama tapi gak dapat-dapat, ngakunya penuh pesona. Vian, dari SMA suka sama Aruna, baru pedekate langsung diblacklist, wkwkwkk. Ikmal, kaya cowok gak laku-laku, hanya berteman sepi. Evan, diputusin mulu sama ceweknya. Terus Marva ...."
Marva langsung melempar Arby dengan kulit jeruk. Mereka melihat wajah Arby yang mengesalkan itu. Apa mereka disuruh datang ke sini hanya untuk dibully?
__ADS_1
"Jangan terlalu berharap, Ar. Nanti kalau ditolak lagi, bisa-bisa kamu bunuh diri."
"Kalau ditolak, ya aku hamilin aja lagi," katanya asal, yang langsung mendapat lemparan kulit kacang dari berbagai arah.
"Nanti bulan madu ke mana, ya? Keliling benua Eropa? Freya kan suka banget sama negara Eropa. Apa keliling Asia? Amerika? Dunia?"
"Ayo kita doa berjamaah, semoga dia ditolak, paling nanti depresi," ucap Vian dengan sadis, namun sambil tertawa.
"Sialan!"
Tapi mereka juga heran kenapa Arby bisa seyakin ini. Sebagai sahabat yang juga memiliki ikatan keluarga (kecuali Evan), mereka tahu bagaimana Arby.
"Dia bisa percaya diri gitu, sih?"
"Jangan-jangan habis dari dukun?"
"Make pelet."
"Gak sabar aku, pengen punya baby baru. Tapi lebih gak sabar bikinnya, sih. Eh, tapi kan kalian tak tahu gimana rasanya kan, ya?" Arby terus berceloteh tanpa mempedulikan omongan sahabat-sahabatnya.
Arby langsung dipiting oleh sahabat-sahabatnya itu.
"Belagu amat nih, orang. Berapa tahun galau mulu."
"Jangan grep*-grep* aku, tubuhku hanya untuk Freya."
"Najis!"
Arby kembali tersenyum, membuat yang lain bergidik ngeri.
Freya lagi ngapain, ya? Dia ngajakin aku punya anak yang yang banyak? Mau banget aku, mah. Terus apa katanya tadi, anak perempuan? Wah, pasti my baby girl akan secantik mommynya.
Tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di pundak Ikmal dan memeluk pria itu dari samping, masih dengan wajah yang tersenyum lebar dan mata berbinar.
"Ya Allah, ini orang krnapa sih, geli aku lama-lama. Woy, Ar, sadar napa!"
"Panggil pak ustadz, biar di rukiyah."
Sementara itu, Freya masih mendekam di dalam kamarnya. Bahkan dia mematikan ponselnya. Dia tidak ingin bertemu Arby, sedangkan pria itu sendiri justru sedang sibuk ngemil di kantornya bersama sahabat-sahabatnya.
"Freya, kamu sudah makan siang belum? Ini mama buatkan makanan untukmu."
Freya langsung membuka pintu kamarnya sedikit.
"Makasih, Ma."
"Iya. Kalau sudah selesai makan, kamu istirahat, ya."
Hingga malam menjelang, Freya tetap di dalam kamar.
"Freya sudah pulang?"
"Sudah, ada tuh di kamarnya."
"Kenapa tidak ikut makan malam bersama?"
"Sibuk katanya, jadi tidak ingin diganggu."
"Mungkin dia sibuk dengan perusahaan yang akan dirintisnya."
"Meskipun dia hilang ingatan, tapi semangatnya tak pernah berubah."
Papa, mama, oma, opa, kakek, nenek, mereka terkenang dengan Freya kecil, yang selalu mendapatkan prestasi dan membanggakan mereka.
Anya, Freya dan Vanya.
__ADS_1
Tiga kakak beradik yang memiliki bakat di bidangnya masing-masing.
Mereka mengambil hikmah di balik kecelakaan Freya ini. Keluarga mereka dapat kembali berkumpul, saling sharing di akhir pekan.
"Tadi dia juga bilang tidak ingin bertemu dengan siapa pun, termasuk Chiro, apalagi Arby."
"Huft, aku masih berharap bahwa mereka akan rujuk," ucap Damian.
Anya dan Vanya hanya menyimak, tanpa ikut komentar. Sua keluarga besar dari pihak Arby maupun Freya, sangat berharap bahwa mereka akan kembali bersama.
.
.
.
Arby pulang ke rumahnya, disambut oleh anaknya tersayang.
"Chiro, Chiro mau punya berapa adik?"
"Memangnya Daddy mau memberikan aku adik?"
"Iya, dong?"
"Daddy mau menikah lagi?"
"Iya, dong."
Seketika raut wajah Chiro terlihat muram, namun dia langsung mengubahnya.
Daddy mau menikah dengan aunty Jasmine?
"Daddy, Chiro ngantuk, mau bobo."
Anak itu langsung berlari ke kamarnya dengan menahan tangis. Dia sebenarnya tidak ingin daddynya menikah dengan orang lain, tapi dia juga tidak ingin melarangnya. Apalagi daddynya lah yang membesarkannya sejak kecil seorang diri.
Tak apa dirinya berkorban perasaan, itulah yang ada dalam pikirannya.
Main kabur-kabur aja, aku kan belum selesai bicara.
[Mommy, daddy mau menikah dengan aunty Jasmine dan memberikan aku adik. Kapan mommy akan memberikan aku adik?]
Send
Freya membaca pesan itu dengan tangan bergetar. Baru saja dia menyalakan ponselnya untuk menghubungi dokter Aurel mengenai operasi besok.
Huft, pantas saja dia tidak menyusulku ke sini.
Freya mengacak-ngacak rambutnya.
Aku sudah mengatakan hal yang memalukan. Kalau kaya gini, jadi pengen amnesia saja.
Dia tidak ingat kalau dirinya sudah dua kali amnesia.
Bodo amat lah.
.
.
.
Arby tak bisa tidur, dirinya sudah membayangkan akan bersama Freya kembali. Dia tidak tahu bahwa baru saja anaknya mengadu pada Freya kalau dirinya akan menikah dengan Jasmine.
Jadi enggak sabar cepat-cepat nikah.
__ADS_1
Arby tiba-tiba duduk tegak. Dia baru saja teringat ada hal yang harus dia lakukan.