Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
125 Korban Lagi


__ADS_3

Karena pembicaraan di sosial media itu, sekarang Freya jadi sering uring-uringan. Tubuhnya jadi sedikit kurus.


"Makan yang banyak napa, Yang. Kamu jadi kurus begini, sih. Kan kalau tidur, aku jadi merasa kaya meluk botol kecap."


Freya memanyunkan bibirnya, bisa-bisanya dia dibilang kaya botol kecap. Arby juga masih kesal dengan orang-orang itu.


"Sudah, diamkan saja. Nanti juga mereka akan berhenti sendiri. Tidak semua orang suka pada kita. Anggap saja mereka fans kita. Dan perkataan buruk mereka adalah doa untuk kebaikan kita," ucap Freya dengan bijak.


Arby menghela nafas. Kalau saja yang dibicarakan itu dirinya, dia pasti akan diam saja, tidak akan peduli. Tapi dia benar-benar tidak suka kalau anak dan istrinya dihina.


🌸🌸🌸


Arby berlari sepanjang koridor rumah sakit. Freya pingsan, itulah yang dia dengar dari Nuna.


"Sayang, apa yang sakit?"


"Enggak ada yang sakit, aku baik-baik saja."


"Kamu mah, sudah pingsan masih saja bilang enggak apa-apa. Kalau emang enggak apa-apa, ayo kita bikin dedek bayi di sini. Kali saja kalau bikinnya di sini bisa langsung brojol."


Freya mendengus, tapi juga merasa geli.


"Nanti, brojolnya sembilan bulan lagi."


Arby hanya manggut-manggut, membuat Freya gemas.


"Jadi selama sembilan bulanan ini, kamu harus nurutin semua keinginan aku. Bangun malam, masakin buat aku, manjain aku."

__ADS_1


"Kenapa harus sembilan bulan? Kan dari dulu aku juga begitu."


Freya menghela nafas, tapi iya juga sih, selama ini kan Arby memang selalu memanjakan dirinya. Tidak mengenal waktu dan tempat.


Arby tiba-tiba saja tersadar akan sesuatu.


"Kamu hamil?"


"Iya, sudah tiga minggu."


"Chiro mau punya dedek bayi?" tanya Chiro.


"Iya. Senang?"


"Yey, punya dedek bayi." Arby dan Chiro berkata bersamaan.


"Enggak, dia sehat."


"Hmm, Yang?"


"Apa?"


"Boleh enggak, selama kamu hamil, kamu cuti kerja dulu. Aku enggak mau kamu kelelahan dan pingsan lagi."


"Iya."


"Hah? Benaran?"

__ADS_1


"Iya. Aku mau di rumah saja, sambil nyusun proyek baru."


Arby mendengus, dia pikir Freya benar-benar akan cuti tanpa memikirkan pekerjaan sedikit pun. Tapi ini masih jauh lebih baik, daripada harus beraktivitas di luar rumah.


Arby tahu, Freya bekerja bukan karena mencari harta, tapi itu memang hobinya. Dan itu juga bisa membantu banyak orang.


Kabar kehamilan Freya sudah didengar oleh para keluarga. Arby tidak lagi peduli dengan perkataan buruk orang-orang. Dia juga tidak memberikan kabar bahagia itu untuk orang-orang. Biar saja, tahu-tahu nanti dia sudah punya anak lagi.


Karena semakin bahagia kita, semakin iri orang yang tidak menyukai kita. Ambil semua yang positif, dan buang yang negatif, kalau bisa!


Arby menuntun Freya ke kamar.


"Ya ampun, aku bisa jalan sendiri."


"Biarkan aku jadi suami siaga."


"Iya, deh."


Chiro juga tidak mau kalau. Dia meletakkan bantal untuk mommynya bersandar. Lalu memijit kaki Freya.


"Anak mommy baik banget, sih."


"Mulai hari ini, Chiro akan jadi kakak siaga."


Arby dan Freya tertawa. Arby harus menjaga Freya dengan hati-hati, jangan sampai istrinya itu mengalami stres dan kelelahan.


Arby mulai menyusun menu makanan sehat yang harus Freya makan. Juga sudah menyiapkan segala hal yang kemungkinan akan menjadi ngidam Freya.

__ADS_1


Arby mengingat pohon kelapa di pantai itu, lalu tertawa. Dia sudah tahu siapa yang akan menjadi korban lagi.


__ADS_2