Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
94 Undangan Pernikahan


__ADS_3

Jasmine melihat keromantisan dan kemesraan antara Freya dan Arby, juga anak mereka di antara mereka. Dia mengepalkan tangannya, merasa geram melihat Freya yang kembali bersama Arby. Dia yang selama ini selalu menyukai Arby, selalu mengaguminya secara terang-terangan, berusaha masuk ke perusahaan Arby.


Seharusnya aku yang ada di sana, bukan dia.


Freya berhenti di depan toko perlengkapan bayi.


"Kamu mau lihat-lihat perlengkapan bayi? Wah, jangan-jangan dedek Chiro sudah ada?"


"Belum."


"PD banget kamu, bilang belum!" ucap Arby.


"Ya PD lah, kan aku lagi datang bulan sekarang."


Senyum di wajah Arby langsung kisut.


"Kamu kecewa, ya?"


"Iya, aku kecewa banget, Frey."


Freya langsung merasa tidak enak pada Arby.


"Jadi harus puasa kan, aku. Satu mingguan, lagi. Tahu gini tadi malam aku puas-puasin dulu dah, sampai sepuluh jam."


Percuma juga tadi aku merasa bersalah sama dia. Dia memang tidak layak dikasihani, tapi aku!

__ADS_1


"Kamu pengen, ya? Kok mukanya begitu?"


Freya melengos sambil pergi menggandeng tangan Chiro. Arby hanya terkekeh pelan. Dia memang kecewa belum ada dedek bayi, tapi tidak terlalu. Dia bisa menikmati masa-masa pernikahannya bersama Freya, sebelum sibuk mengurus bayi mungil bersama. Mereka juga bisa memberikan kasih sayang yang maksimal kepada Chiro, sebelum kasih sayang itu nanti terbagi buat adik-adik Chiro.


Arby benar-benar ingin memanfaatkan semua ini sebaik mungkin. Menggantikan masa lalu yang tidak menyenangkan, dengan sesuatu yang sangat indah.


Mereka saling bergandengan tangan, dengan Chiro yang ada di tengah mereka. Setiap hari, Arby selalu merasa tidak percaya dengan kebahagiaan yang dia rasakan sekarang.


🌺🌺🌺


Arby menyisir rambut Freya yang sudah kembali panjang. Rambut itu masih sama indahnya, halus dan hitam, juga selalu wangi. Disisirnya dengan pelan, takut melukai bekas operasinya.


Setiap akhir pekan, mereka (para keluarga dan sahabat) akan melihat model rambut Freya yang berbeda-beda.


Ya dikepang dua, lah.


Ya diikat dua, lah.


Ya dijepit, lah.


Ya dikasih pita, lah.


Ya dikasih bando, lah.


Semua itu kreasi Arby.

__ADS_1


"Anggap saja aku sedang latihan kalau nanti memiliki anak perempuan. Nanti aku sudah biasa mendandani dia dengan cantik, kan."


"So sweet banget sih, Ar?" ucap Nania.


"Kamu mau suami seperti aku?" Nania tentu saja langsung mengangguk.


"Jangan mimpi, karena tidak akan ada yang seperti aku. Marcell pun tidak bisa!"


Mereka langsung menertawakan Marcell dan Nania, pasangan enggak jadi-jadi.


"Aku tuh bosan, hampir tiap minggu menghadiri pernikahan orang lain terus," ucap Arby.


"Terus?"


"Ya kapan kita ke nikahan Ikmal, Marcell, Vian, Nania, Nuna dan Aruna? Nanti anak-anak kita keburu gede, mereka masih saja jomblo. Ngenes amat!"


Tuh, jiwa sombongnya kumat, deh!


Mentang-mentang sudah punya Freya. Coba kalau Freya todak mau menikah dengannya, yang ada hidupnya yang lebih ngenes dari mereka, karena setiap hari nangis bombay!


"Tenang saja, mungkin sebentar lagi, kita akan mendapat undangan pernikahan dari Nuna. Ya kan, Nun?" tanya Freya.


Wajah Nuna memerah, yang langsung digoda oleh Freya, Nania, Aruna dan Rei. Diam-diam Freya melirik Ikmal yang biasa saja. Freya lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan lirik-lirik Ikmal terus. Jelek begitu, ngapain dilirik? Enggak bakal berubah jadi ganteng juga!"

__ADS_1


__ADS_2