
"Mereka masih hidup."
Sebuah jawaban yang membuat Freya bernafas lega dan tersenyum.
"Ada di mana? Aku ingin bertemu."
"Mereka ada di Jakarta, dan akan segera ke sini."
"Tolong ceritakan padaku, apa yang terjadi setelah kecelakaan itu!"
"Freya, jangan ...."
"Tolong ceritakan, aku ingin tahu yang sebenarnya."
"Opa dan oma juga mengalami koma. Papa dan mama memindahkan kalian ke Jerman untuk pengobatan. Saat kamu sadar dan diizinkan pulang, kami langsung membawamu ke Jakarta, karena di sini ada nenek dan kakek. Lagi pula, kami tidak ingin kamu bertemu atau teringat hal-hal yang bisa membuatmu drop jika tetap tinggal di Singapura. Kami harus bolak balik Jakarta - Jerman untuk memantau opa oma dan melihat keadaanmu. Saat daddy Arby meminta papa menikahkan kamu dengan Arby, sebenarnya kami keberatan, karena kamu masih kecil. Tapi melihat keadaanmu yang tak dekat dengan kakak dan adik, juga dengan kakek nenekmu, papa akhirnya setuju, juga karena ingin berterima kasih karena sudah membantu menjaga perusahaan yang nantinya akan diwariskan kepadamu. Papa tahu, tidak bisa terus menjagamu karena fokus papa terbagi antara kamu, opa, ona, juga perusahaan. Jika kamu menikah dengan Arby, mertuamu bisa menjaga kamu mewakili kami, apalagi Arby juga satu sekolah denganmu."
Naya jadi teringat dulu orang guanya sering ke luar negeri, dia pikir mereka sibuk mengurus perusahaan dan memperbanyak harta.
"Dokter sudah mengatakan untuk melepas saja alat penunjang kehidupan mereka. Namun sebagai anak, papa tak mampu untuk melakukannya, papa ingin terus bertahan hingga akhir."
"Apa yang menyebabkan opa dan oma bisa koma selama itu?"
"Itu ...."
"Katakan yang sejujurnya!"
"Itu karena posisi duduk mereka yang ada di pinggir. Terutama opa yang melindungi dirimu."
Jika bukan karena opa yang melindungi Freya dari benturan saat itu, sudah pasti Freya hanya tinggal nama sekarang. Dilindungi saja dirinya sampai koma hampir satu tahun dan amnesia, bagaimana jika tidak dilindungi? Sebagai gantinya, opalah yang lebih sekarat.
"Oma sadar dari komanya saat kamu kelas tiga SMP, namun belum bisa dikatakan sembuh total. Dia harus menjalani terapi jalan dan berbagai pemeriksaan, kondisi naik turun, apalagi jika teringat dengan opa yang belum sadar juga."
"Kami tidak menceritakan soal pernikahanmu dengan Arby, karena tidak ingin membuatnya terlalu banyak berpikir. Opa lalu sadar setelah tiga bulan kamu menikah. Saat opa dan oma sadar, yang pertama mereka sebut adalah namamu, dan menanyakan kondisimu."
Air mata Naya semakin deras meski tak bersuara.
"Saat opa dan oma tahu tentang pernikahanmu dengan Arby yang telah berlangsung selama empat bulan, mereka marah besar. Mereka menganggap kami memghancurkan masa depanmu yang masih muda, dan ingin membawamu pergi. Kondisi mereka kembali drop. Keluarga Abraham dan kakek nenekmu akhirnya ikut memberikan penjelasan. Mereka semakin tak terima saat tahu kamu mengalami depresi, kecanduan alkohol dan narkoba, hamil, dan keguguran. Mereka terus menyalahkan kaminyang dianhgap tak becus menjaga kamu. Lalu kamu hamil lagi, selanjutnya berpisah dari Arby dan menghilang, mereka memutuskan untuk tak lagi peduli pada papa, mama dan pergi mencari dirimu."
Pintu terbuka, sepasang suami istri yang rambutnya memutih semua, namun masih terlihat tampan dan cantik memasuki kamar rawat Naya.
Naya meneteskan air matanya, suara isak yang sejak tadi tertahan, kini mulai tedengar lirih.
__ADS_1
Tak ada rasa kaget di wajah Naya saat melihat mereka.
"Opa ... Oma ... Sudah kuduga, sudah kuduga kalian adalah opa dan omaku."
Sepasang suami istri yang di Durham dulu pernah menjadi pasien Naya, yang tentunya bukan suatu kebetulan saja, karena telah diatur oleh opa dan omanya itu.
"Kalian sudah pernah bertemu?"
Meskipun tak mendapatkan jawaban, tapi keluarga Freya tahu bahwa mereka memang telah bertemu.
Opa dan oma menghampiri Freya dan memeluknya. Pelukan pertama sebagai opa oma yang sebenarnya, tanpa ada lagi yang ditutup-tutupi.
Nania, Aruna, Vian dan Marcell kaget melihat sepasang orang tua itu, yang pernah membesuk Naya di Durham. Ternyata mereka adalah opa dan oma Naya.
Sedangkan Erlang, Monic dan Ikmal, yang memang sering melihat opa dan oma Naya sejak di Singapura, sebelum kecelakaan itu terjadi, tentu saja juga kaget saat mereka bertemu di rumah sakit, namun mereka diam saja, tak ingin mengatakan apapun atau bertanya.
"Maafkan opa dan oma, yang terlambat menemuimu."
"Jadi, kalian sudah tahu tentang aku?"
"Tentu saja. Oma ini dulu juga dokter, Freya. Masih memiliki banyak rekan yang bekerja di dunia medis. Sejak kepergianmu, kami selalu mencari tahu tentang dirimu. Setelah menemukanmu, kami hanya bisa menjagamu diam-diam. Ada yang memberikan laporan kepada kami, saat pertama kalinya kamu mengikuti seminar di Jakarta."
Ya, Naya tak pernah tahu beberapa hal. Omanya juga sering mengajaknya bertemu dengan rekan-rekan sesama dokternya. Sedikit banyaknya, mungkin ada yang masih mengingat wajah Freya meski waktu telah berlalu bertahun-tahun.
Yang Freya rasakan saat ini adalah, dia merasakan kerinduan yang mendalam dari pelukan itu. Pelukan hangat yang rasanya tak asing.
"Dari pelukan saat di Durham lah, aku merasa tak asing dengan kalian. Aroma minyak wangi kalian, seperti menarik diriku akan hal yang seharusnya aku ingat."
Aroma yang dulu sering Freya hirup saat masih kecil, tanpa sadar menarik alam bawah sadar Freya ke masa lalu. Wajah-wajah samar yang menggendongnya, menggandeng tangannya, menemaninya membaca buku.
Entah dia sebagai Freya atau Naya, entah masa lalu seperti apa yang terjadi, yang dia tahu dengan pasti adalah hatinya sangat menyayangi kedua orang ini.
"Sekarang Freya lega sudah bertemu dengan opa dan oma."
.
.
.
Freya terbangun dari tidurnya, dilihatnya beberapa orang yang duduk menungguinya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun? Oya, tadi Kirei nanya, ada yang mau kamu titip, gak? Soalnya dia mau ke sini."
"Kirei?"
"Iya, Kirei."
"Siapa, Kirei?"
Monic dan yang lain saling memandang, merasa ada yang salah dengan Naya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, Kirei masuk dengan membawa kantong buah-buahan, lalu diletakkannya di meja.
"Bagaimana keadaanmu, Nay?"
"Nuna, dia bukannya senior kita di SMA dulu, kan?"
Kirei memandang Monic dan yang lain. Sama-sama bingung dengan sikap Naya. Apalagi sudah lama Naya tidak memanggil Monic dengan nama Nuna.
Nuna langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Dia juga menggigit bibirnya, menahan tangis agar tak keluar.
Dokter datang dan langsung memeriksa Naya setelah mendapat penjelasan dari Monic.
.
.
.
Setelah makan dan minum obat, Naya kembali tidur.
"Kondisinya semakin memburuk."
"Bagaimana cara kita membujuknya?"
.
.
.
Setelah melakukan konferensi pers, banyak pro dan kontra tentang pernikahan Freya dan Arby yang dilakukan saat masih SMA itu, terutama dari pemerintah. Namun karena pernikahan tersebut sudah berlangsung cukup lama, kemudian telah memiliki anak, dan adanya persetujuan dari kedua keluarga, tentu saja hal ini tidak diperpanjang.
__ADS_1
Sebenarnya pernikahan yang terjadi di usia muda, tentu saja banyak terjadi di kamlung-kamoung dan daerah terpencil, hanya saja tidak tercium publik. Karena Freya dan Arby berasal dari keluarga yang terkenal, maka menjadi sorotan.